Translate

Monday, 13 August 2012

Metode Dalam Pelestarian Permukiman Tradisional

Antariksa


Pendekatan Penelitian
Pelestarian pola permukiman masyarakat di perdesaan termasuk penelitian non eksperimen, dan dalam melakukan penelitian tidak dilakukan tindakan-tindakan tertentu yang diujikan untuk mendapatkan hasil-hasil tertentu. Ditinjau dari sudut cara dan taraf pembahasan masalahnya, penelitian pelestarian pola permukiman termasuk sebagai penelitian dengan metode deskriptif dan eksploratif, yang terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah atau keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya, dengan tujuan mendapatkan fakta. Metode eksploratif bertujuan untuk mengetahui suatu peristiwa dengan melakukan penjajakan terhadap peristiwa tersebut, penjajakan dilakukan dengan metode bola salju (Gulo 2002:18). Metode deskriptif dan eksploratif digunakan untuk menjelaskan karakteristik fenomena yang terjadi dan memahami fenomena tersebut dengan cara melakukan diagnosa terhadap fenomena tersebut dengan menjaring alternatif serta menemukan ide-ide baru melalui observasi, wawancara dan kuisioner (Silalahi 2003:56).

Penetuan Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian pelestarian pola permukiman masyarakat (Tabel 1).

No.
Tujuan
Tinjauan pustaka
Studi terdahulu
Variabel
SubVariabel
1.        Keterangan 
1.
Mengidentifikasi karakteristik pola permukiman
§ Pola permukiman
-  Pola permukiman menurut Jayadinata 1992,  bentuk pola permukiman (Sri  Narni dalam Mulyati 1995),
-  Pola permukiman tradisional (Dwi Ari & Antariksa 2005).
-  Pola spasial permukiman menurut Wiriatmadja (1981)
-  Elemen-elemen pembentuk kampung di Jawa (Aliyah,2004)

§ Ciri arsitektur bangunan tradisional (Utomo 2000)
-  Berlatar belakang religi
-  Pengaruh hubungan kekeluargaan/ kemasyarakatan
-  Pengaruh iklim tropis lembab

§ Unsur – unsur kebudayaan (Koentjaraningrat 1987): Sistem religi, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian hidup, sistem teknologi dan peralatan.

§ pembentuk kebudayaan (Rapoport dalam Krisna 2005), budaya dalam  struktur ruang permukiman (Sasongko 2002)
§ Aliyah (2004:34-39)
-     Elemen – elemen pembentuk Kampung Kemlayan: legenda/sejarah kampung, tokoh yang membentuk tatanan, kelompok masyarakat, susunan tata massa bangunan, batas lahan, besaran lahan, bentuk dan ukuran pagar, bentuk dan ukuran bangunan tempat tinggal.
§ Dewi (2008:101)
-     Faktor pembentuk permukiman: natural (fisik alami), man (manusia), society, shell, dan network.
§ Patimah (2006:108)
-     Pola tata ruang permukiman tradisional terdiri dari dua variabel, yaitu variabel mikro (tempat tinggal) dan makro (desa).
§ Burhan (2008:172 -  188)
Pola tata ruang permukiman tradisional dipengaruhi oleh:
-     Guna lahan (elemen pembentuk kawasan pedesaan, peletakan elemen)
-     Ruang budaya (Berdasarkan aktifitas harian, Berdasarkan ritual); dan
-     Pola tata ruang tempat tinggal (rumah dan pekarangan, struktur tata ruang tempat tinggal, pola tata bangunan)
§ Machmud (2006:179)
-     Pola permukiman diamati melalui tiga skala ruang, yaitu skala mikro (pola dan hubungan sebuah bangunan), skala semi makro (pola dan hubungan dalam sebuah dusun), dan skala makro (pola hubungan dalam wilayah Desa)
§ Eliana (2007:55)
-     Pola permukiman dilihat dari unsur budaya, unsur sosial dan kebiasaan.

Elemen sosial budaya pembentuk permukiman
§ Riwayat terbentuknya (legenda/sejarah),
§ Tokoh yang membentuk tatanan,
§ Kelompok masyarakat,
§ Kegiatan mata pencaharian
§ Kegiatan religi
§ Hubungan kekerabatan dalam keluarga
Pola permukiman tradisional dalam suatu wilayah berdasarkan tinjauan teori yaitu tidak terlepas dari sosial budaya masyarakat, bangunan yang menyusunnya dan pola permukiman itu sendiri. Sehingga variabel yang ditentukan untuk penelitian ini adalah
- Elemen sosial budaya pembentuk permukiman. Sub variabel yang menyusunnya hanya yang berpengaruh terhadap pola permukiman tradisional yang ada.
- Pola tempat tinggal, dan
- Pola permukiman desa.
   Sub variabel pada masing–masing variabel ditentukan berdasarkan perpaduan antara beberapa variabel pada studi terdahulu yang disesuaikan dengan kondisi pada wilayah studi.


Pola hunian/tempat tinggal (mikro)
§  Fisik bangunan dan pekarangan
-       Tipe rumah yang digunakan
-       Usia rumah
-       Status kepemilikan,
-       Fungsi bangunan
-       Arah hadap bangunan
-       Batas teritori wilayah kekuasaan pribadi (lahan),
§  Struktur ruang tempat tinggal
§  Pola tata bangunan


Pola permukiman tradisional Desa Adat (makro)
§  Perkembangan permukiman desa
§   Tipologi permukiman tradisional
§  Peruntukan lahan desa
§  Ruang budaya
-       Berdasarkan aktivitas budaya dan religi
-       Elemen pembentuk kawasan permukiman desa
-       Peletakan elemen

2.
Mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pelestarian pola permukiman
§ Permasalahan makro pelestarian (ekonomi, sosial, fisik)
§ Permasalahan mikro pelestarian (Catanese & Snyder, 1992): hukum, pendanaan, pengelolaan.
§ Faktor – faktor penyebab perubahan permukiman tradisional: pengaruh dari dalam, pengaruh dari luar.
§ Persepsi masyarakat di kawasan pelestarian

§ Patimah (2006:109), Krisna (2005:70), Dewi (2008:259-263) mengemukakan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pelestarian berupa aspek ekonomi, sosial, fisik, hukum.

Persepsi masyarakat terhadap pelestarian
§  Tanggapan upaya pelestarian
§  Pertimbangan dalam pelestarian
§  Potensi yang dimiliki Desa Adat
Variabel yang digunakan untuk mengetahui permasalahan yang terdapat di wilayah studi yaitu persepsi masyarakat terhadap pelestarian permukiman teradisional di wilayah studi dan permasalahan pelestarian yang terkait dengan ekonomi, sosial, fisik dan hukum. Beberapa variabel dan sub variabel yang digunakan disesuaikan dengan tinjauan teori dan studi terdahulu.




Permasalahan pelestarian
§  Ekonomi
§  Sosial
§  Fisik
§  Hukum







3.
Menganalisis dan menyusun arahan pelestarian pola permukiman
§ Arahan pelestarian fisik berupa teknik pelestarian bangunan
§ Arahan pelestarian non fisik
§ Patimah (2006:368-406), Krisna (2005:134-139), Dewi (2008:269-274) arahan pelestarian pemukiman yang ada pada kawasannya berupa pelestarian fisik dan non fisik.
Pelestarian fisik
§  Preservasi
§  Konservasi
§  Replikasi
§  Renovasi
§  Rehabilitasi
§  Restorasi
§  Rekonstruksi
§  Adaptasi
§  Subtitusi
§  Benefisasi
§  Perlindungan wajah bangunan
§  Perlindungan ketinggian bangunan
§  Perlindungan objek atau potongan
§  Demolisi.
Arahan pelestarian yang digunakan yaitu disesuaikan dengan tinjauan teori dan studi terdahulu. Untuk pelestarian fisik disesuaikan dengan karakteristik fisik dan permasalahan yang ada sehingga berbeda – beda di beberapa tempat. Untuk pelestarian non fisik berkaitan dengan ekonomi, sosial dan hukum.
Pelestarian  non fisik
§  Metode ekonomi
§ Metode sosial
§ Metode hukum

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian pelestarian pola permukiman terbagi atas dua sumber, yaitu survei primer dan survei sekunder.

 

Survei primer

Survei primer merupakan metode pengumpulan data dengan mendatangi langsung sumber informasi tersebut. Sumber data primer pada umumnya lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan data yang didapat melalui sumber sekunder (Usman 1995:20). Teknik-teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain:
1.       Pengamatan (observasi)
Teknik ini adalah cara mengumpulkan data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian (Nawawi, 2003:95). Penggalian informasi melalui teknik observasi lapangan dilakukan untuk mendukung kajian identifikasi dan analisis karakteristik pola permukiman, identifikasi karakteristik sosial budaya masyarakat, dan analisis terhadap pelestarian pola permukiman.
Teknik observasi lapangan yang dilakukan berupa pengambilan gambar dengan menggunakan alat bantu kamera. Informasi yang digali berupa informasi karakteristik sosial budaya masyarakat dan pola permukiman. Dalam mengamati pola permukiman, dilakukan pula observasi tipologi bangunan sebagai dasar untuk analisis karakteristik wilayah studi, khususnya terkait pada karakteristik bangunan-bangunan penyusun pola permukiman. Aspek, jenis data dan tujuan observasi. (Tabel 2).
No
Aspek
Jenis Data
Tujuan Observasi
1
Sosial budaya pembentuk permukiman
§ Kelompok masyarakat,
§ Kegiatan mata pencaharian
§ Kegiatan budaya dan religi
§ Hubungan kekerabatan dalam keluarga
§ Mendukung kajian analisis  sosial budaya masyarakat pembentuk permukiman
-        Sistem kelembagaan/kelompok masyarakat
-        Hubungan kekerabatan
-        Kegiatan mata pencaharian
-        Kegiatan budaya dan religi
§ Mendukung kajian arahan pelestarian pola permukiman.

2.
Pola tempat tinggal
§  Fisik bangunan dan pekarangan (Proses pembuatan, susunan tata massa bangunan, status kepemilikan, usia dan fungsi bangunan, batas lahan, besaran lahan, bentuk dan ukuran bangunan)
§  Struktur ruang tempat tinggal
§  Pola tata bangunan
§ Mendukung analisis karakteristik fisik wilayah studi, khususnya terkait dengan karakteristik bangunan– bangunan penyusun pola permukiman.
§ Mendukung untuk arahan pelestarian
3.
Pola permukiman
§  Tipologi permukiman tradisional
§  Peruntukan lahan desa (elemen pembentuk kawasan permukiman desa dan peletakannya)
§  Ruang budaya (berdasarkan aktivitas budaya dan religi)
§ Mendukung kajian untuk analisis karakteristik pola permukiman
§ Mendukung kajian arahan pelestarian pola permukiman.
2.       Wawancara
Wawancara adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula (Nawawi 2003:111). Wawancara dilakukan untuk mengetahui pendapat responden atau menggali kemungkinan jawaban tertentu mengapa dan bagaimana suatu kejadian terjadi. Wawancara dilakukan dengan pedoman petanyaan yang sifatnya terbuka (open interview). Pengambilan narasumber dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu narasumber kunci kemudian dari narasumber kunci ini diupayakan memperoleh rekomendasi–rekomendasi narasumber lainnya yang dapat memberikan informasi berkaitan dengan permasalahan yang diangkat dalam studi.
Teknik wawancara digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai sejarah masyarakat, dan pola permukiman. Teknik wawancara yang dilakukan berupa wawancara terstruktur berdasarkan sejumlah pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Teknik wawancara dilakukan kepada Kepala Desa dan tokoh masyarakat setempat (tetua) yang merupakan narasumber yang lebih mengetahui tentang sejarah dan proses pembentukan pola permukiman. Wawancara juga dilakukan kepada pemilik-pemilik rumah yang menghuni rumah tradisional. Adapun aspek, jenis data dan tujuan penggunaan data untuk wawancara (Tabel 3).

No
Aspek
Jenis Data
Tujuan Penggunaan Data
1
Sosial budaya pembentuk permukiman
§ Riwayat terbentuknya (legenda/sejarah),
§ Tokoh yang membentuk tatanan/pelindung desa,
§ Kelompok masyarakat,
§ Kegiatan mata pencaharian
§ Kegiatan budaya dan religi
§ Hubungan kekerabatan dalam keluarga
§ Mendukung kajian untuk analisis karakteristik sosial budaya masyarakat yang berpengaruh terhadap pola permukiman.
§ Mendukung kajian untuk analisis permasalahan pelestarian
§ Mendukung kajian untuk arahan pelestarian
2
Pola permukiman tradisional
§ Konsep pola permukiman desa, bangunan dan pekarangan.
§ Peruntukan lahan desa (elemen pembentuk kawasan permukiman)
§ Ruang budaya (berdasarkan aktivitas budaya dan religi)
§ Perkembangan permukiman desa
§ Mendukung kajian untuk analisis karakteristik pola permukiman.
§ Mendukung kajian untuk analisis permasalahan pelestarian
§ Mendukung kajian untuk arahan pelestarian
4
Pelestarian
§ Persepsi masyarakat terhadap upaya pelestarian pola permukiman tradisional
§ Pendapat masyarakat mengenai aspek-aspek yang perlu dilestarikan
§ Permasalahan yang dihadapi dalam pengaturan atau pengendalian pola permukiman tradisional.
§ Kebijakan terkait dengan pola permukiman
§ Mendukung kajian untuk analisis permasalahan pelestarian
§ Memperoleh aspek-aspek yang mendukung pola permukiman dan yang perlu untuk dilestarikan dan mendukung untuk kajian permasalahan pelestarian sesuai dengan persepsi  masyarakat (berdasarkan kuisioner).
§ Mendukung kajian untuk analisis persepsi masyarakat terhadap upaya pelestarian
§ Mendukung kajian untuk arahan pelestarian
5.
Hukum
§ Peraturan/hukum adat/tata nilai yang berlaku di desa tersebut
§ Mendukung kajian untuk analisis permasalahan pelestarian
§ Mendukung kajian untuk arahan pelestarian
3.       Kuisioner
Angket atau kuisioner adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan (respon) atas–atau menjawab pertanyaan–pertanyaan yang diajukan (Hasan 2002:83-84). Angket atau kuisioner diberikan kepada masyarakat setempat yang diwakili oleh pemilik bangunan yang digunakan untuk mengetahui dan menggali persepsi responden mengenai keberadaan kawasan studi, bentuk–bentuk pelestarian dan metode pelestarian yang sesuai untuk ditetapkan pada kawasan studi. Adapun aspek, jenis data dan tujuan penggunaan untuk kuisioner, yaitu sebagai berikut (Tabel 4):

No
Aspek
Jenis Data
Tujuan Penggunaan Data
1
Sosial budaya pembentuk permukiman
§ Kegiatan mata pencaharian
§ Kegiatan budaya dan religi
§ Hubungan kekerabatan dalam keluarga
§ Mendukung kajian untuk analisis karakteristik sosial budaya yang berpengaruh terhadap pola permukiman
§ Mendukung kajian untuk analisis permasalahan pelestarian
§ Mendukung kajian untuk arahan pelestarian
2
Pola tata ruang rumah dan pekarangan
§ Dasar pengaturan ruang
§ Pengetahuan tentang konsep spasial pola permukiman
§ Mendukung kajian untuk analisis karakteristik pola permukiman tradisional
§ Mendukung kajian untuk permasalahan pelestarian
§ Mendukung kajian untuk penentuan kriteria pelestarian
§ Mendukung kajian untuk arahan pelestarian
3
Karakteristik bangunan
§ Status rumah
§ Tahun dibangun
§ Renovasi
§ Penambahan/pengurangan bangunan
§ Fungsi masing-masing bangunan
§ Mendukung kajian untuk analisis karakteristik bangunan pembentuk pola permukiman
§ Mendukung kajian untuk analisis permasalahan pelestarian
§ Mendukung kajian untuk penentuan kriteria pelestarian
§ Mendukung kajian untuk arahan pelestarian
4
Persepsi masyarakat terhadap upaya pelestarian pola permukiman.
§ Pengetahuan tentang pelestarian
§ Tanggapan upaya pelestarian
§ Permasalahan pelestarian yang dimiliki oleh responden
§ Keinginan dan kepentingan responden
§ Mendukung kajian untuk analisis permasalahan pelestarian.
§ Mendukung kajian untuk analisis persepsi masyarakat
§ Mendukung kajian untuk menentukan kriteria pelestarian.
§ Mendukung kajian untuk arahan pelestarian

Survei sekunder

Metode pengumpulan data sekunder adalah metode pengumpulan dengan mengambil informasi melalui sumber-sumber kepustakaan yang berkaitan dengan kepentingan studi. Sumber-sumber kepustakaan tersebut, yaitu (Tabel 5):

No
Aspek
Jenis Data
Tujuan Penggunaan Data
1
Pustaka buku
§ Teori tentang sosial budaya
§ Teori tentang kebudayaan masyarakat
§ Teori tentang pola permukiman dan bangunan tradisional
§ Teori tentang pelestarian
§ Acuan dalam analisis data
2
Pustaka jurnal, Tesis, dan Skripsi
§ Acuan dalam analisis data
3
Internet
§ Pendapat-pendapat tentang budaya, pola tata ruang tradisional maupun pelestarian
§ Dasar pertimbangan dalam analisis data
4
Instansi Pemerintahan terkait (BAPPEDA, BPN, BPS, Kantor Desa)
§ RTRW Kabupaten Peta garis 1:1000 dan peta TGL
§ Kecamatan dalam Angka
§ Profil Desa
§ Monografi Desa
§ Peta Desa
§ Gambaran umum wilayah studi
§ Mengetahui arahan kebijakan pengembangan wilayah penelitian
§ Mengetahui fungsi kawasan studi
§ Memperoleh informasi tampak rupa bumi, keadaan geografis, kependudukan, dan potensi lokal. 

Metode Pengambilan Sampel
Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto 2002:108-109). Populasi dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu populasi bangunan rumah yang ada dan populasi penduduk/ masyarakat yang berada dalam kawasan studi: a. Populasi bangunan: Populasi bangunan dan lingkungan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah total bangunan perumahan yang terdapat pada kawasan studi. Jumlah populasi berdasarkan pengecekan ulang yang dilakukan di lapangan melalui survey lebih lanjut didapatkan bangunan rumah dan rumah merupakan bangunan yang masih mempunyai kondisi fisik asli; dan b. Populasi masyarakat: Populasi masyarakat (pemilik/penduduk/warga setempat) sejumlah jiwa, sedangkan populasi masyarakat berdasarkan jumlah rumah tangga.

Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono 2006:118). Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian mengenai pelestarian pola permukiman adalah non probability sampling, dengan prosedur purposive sampling (sampling bertujuan) dan accidental sampling. Non probability sampling, yaitu pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Purposive sampling digunakan karena peneliti mempunyai kriteria tertentu dalam memilih individu-individu yang diteliti. Peneliti memandang bahwa individu-individu tertentu saja yang dapat mewakili (representive), karena menurut pendapat peneliti merekalah yang mengerti tentang populasinya (Sigit 1999:68). Accidental sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono 2007:67). Teknik ini digunakan untuk masyarakat pemilik bangunan yang sudah mengalami perubahan. Kategori masyarakat yang relevan adalah, responden yang dinilai mengetahui tentang pelestarian pola permukiman di desa tersebut.
Pada kasus pola permukiman, sampel diambil sesuai dengan karakteristik yang dibutuhkan untuk memperoleh variasi yang sebanyak-banyaknya, yaitu rumah-rumah yang masih menyisakan karakter asli dan rumah-rumah yang sudah terdapat perubahan. Sampel tersebut dianalisis untuk memperluas informasi yang telah ditemukan sebelumnya. Dengan semakin banyaknya informasi yang masuk maka sampel dapat dipilih sesuai dengan fokus penelitian/ dipertajam sesuai dengan maksud penelitian.
1.      Sampel bangunan
Pemilihan sampel dilakukan dengan menentukan kriteria bangunan terpilih terlebih dahulu. Kriteria bangunan yang akan diambil sebagai sampel pada wilayah studi adalah sebagai berikut: - Bangunan difungsikan sebagai tempat tinggal; - Bangunan harus masih memiliki ciri asli rumah; dan - Diupayakan dapat mewakili kriteria-kriteria pelestarian pola permukiman.
Berdasarkan hasil observasi, jumlah bangunan rumah yang sesuai dengan kriteria bangunan yang akan diambil sebagai sampel pada wilayah studi sejumlah bangunan. Untuk keakurasian data, pada penelitian ini tidak dilakukan pengambilan sampel dan diambil seluruh populasi untuk observasi bangunan.
2.      Sampel masyarakat
Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat pemilik bangunan yang ada di kawasan studi. Masyarakat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu masyarakat pemilik bangunan asli dan masyarakat pemilik bangunan yang sudah mengalami perubahan: a.  Kelompok pertama, adalah masyarakat pemilik bangunan rumah asli sebanyak sekian sesuai dengan jumlah sampel bangunan asli berdasarkan hasil identifikasi awal; dan b.  Kelompok kedua, adalah pemilik bangunan rumah yang sudah mengalami perubahan. Pemilik bangunan rumah yang sudah mengalami perubahan adalah masyarakat sekitar bangunan asli, dengan asumsi setiap rumah mewakili satu pendapat. Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin dengan derajat deviasi 10% atau 0,1 terhadap total pemilik bangunan yang sudah mengalami perubahan sebanyak  orang. Adapun jumlah sampel yang diambil sebagai berikut:

Rumus Slovin: n= N/1+N(e)²

Keterangan:
n     :   jumlah sampel
N    :   jumlah populasi
e     :   margin error (tingkat kesalahan)

Pengambilan sampel dilakukan dengan prosedur accidental sampling terhadap masyarakat pemilik bangunan yang sudah mengalami perubahan yang menyebar di kawasan studi. Data yang diperoleh dari sampel masyarakat akan digunakan dalam penentuan arahan pelestarian non fisik.
3.   Instansi terkait/Pemerintah
Pengambilan data dan wawancara pada Instansi terkait, yaitu dengan purposive sampling, yaitu didasarkan atas alasan dan tujuan tertentu. Instansi terkait meliputi Bappeda Kabupaten, Dinas Pariwisata Kabupaten yang merupakan instansi yang terkait dengan pengelolaan dan pelestarian kawasan budaya desa, Kepala Desa dan aparat pemerintah yang lain, dan Pemuka adat.

Metode Analisis Data
Metode analisis merupakan suatu alat untuk mewujudkan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Metode analisis data yang digunakan dalam studi ini meliputi:
1.      Analisis karakteristik sosial budaya pembentuk permukiman
Metode yang digunakan untuk menganalisis karakteristik sosial budaya pembentuk ruang–ruang permukiman di desa adalah analisis deskriptif– eksploratif dan analisis Behavior Mapping: a. Analisis Deskriptif –Eksploratif: Variabel sosial budaya yang menggunakan analisis deskriptif-eksploratif adalah analisis tentang sejarah terbentuknya permukiman, tokoh yang membentuk tatanan permukiman/pelindung kampung, dan hubungan kekerabatan. Analisis sejarah terbentuknya desa membahas tentang sejarah masyarakat, sejarah terbentunya desa dan budaya bermukim mereka yang secara non fisik dapat berupa mitos dan secara fisik dapat berupa artefak. Analisis tentang tokoh pelindung kampung membahas tentang tokoh yang dianggap sebagai pelindung kampung yang secara non fisik dapat ditandai dengan adanya sosok yang dianggap pelindung permukiman masyarakat dan secara fisik dapat berupa artefak atau pesanggrahan. Analisis sistem kekerabatan membahas tentang kedudukan keluarga ini dalam rumah tangga; dan b. Analisis Behavior Mapping (pemetaan perilaku): Metode Behavior Mapping memberikan informasi mengenai suatu bentuk fenomena (terutama perilaku individu dan kelompok masyarakat) yang terkait dengan sistem spasialnya. Variabel yang menggunakan analisis Behavior Mapping adalah variabel yang terkait dengan suatu proses kegiatan diataranya kegiatan kelompok masyarakat, kegiatan mata pencaharian, kegiatan budaya dan religi. Behavior Mapping digambarkan dalam bentuk sketsa atau diagram mengenai berbagai kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada suatu area. Tujuannya adalah menggambarkan perilaku dalam peta dan menunjukkan kaitan antara perilaku dan permukiman desa. Behavior Mapping digunakan untuk mengetahui bagaimana sekelompok manusia memanfaatkan dan menggunakan perilaku dalam situasi, waktu dan tempat tertentu. Cara yang digunakan untuk melakukan pemetaan perilaku dalam studi ini adalah place centered mapping. Cara ini lebih terfokus pada tempat yang spesifik baik kecil maupun besar, sehingga dapat menunjukkan pola bermukim masyarakat.
Proses analisis Behavior Mapping adalah menguraikan suatu kegiatan dengan membuat tahap–tahap perkegiatan mulai dari awal hingga akhir kegiatan. Tahap-tahap dari suatu kegiatan akan menunjukkan suatu kesimpulan dari pemakaian skala ruang yang dituangkan dalam gambar ilustrasi. Kesimpulan dari skala ruang dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: - Skala ruang mikro, skala ruang yang terbentuk dengan adanya keterkaitan ruang dalam rumah; - Skala ruang meso, terbentuk dengan adanya keterkaitan antara kegiatan dalam rumah dan kegiatan dan kegiatan di halaman terjadi dalam satu pekarangan; dan - Skala ruang makro, terbentuk dengan adanya keterkaitan antar kegiatan yang ada dalam pekarangan dengan tempat-tempat umum dalam desa.
Kesimpulan akhir adalah penggambaran 3 pola berdasarkan masing–masing skala ruang yang dilakukan dengan cara menumpuk pola yang dihasilkan dari masing-masing tahap kegiatan. Terdapat beberapa bentuk yang menggambarkan tindakan masyarakat dalam pemakaian ruang, di antaranya sebagai berikut: - Satu titik ke satu titik, yaitu tindakan yang memanfaatkan 1 ruang dan dari 1 tempat; - Memutar, yaitu tindakan pemakaian ruang yang memutar seperti dalam rumah, anggota keluarga memanfaatkan dapur-ruang tengah-ruang tamu secara bergantian; dan - Kesatu titik dari beberapa arah, yaitu pemanfaatan 1 ruang yang berasal dari beberapa tempat/rumah.
2.      Analisis pola hunian/tempat tinggal (mikro):
a. Analisis Deskriptif: Metode deskriptif digunakan untuk menganalisis fisik bangunan dan pekarangan, serta struktur ruang tempat tinggal masyarakat. Metode ini bentujuan untuk mempelajari dan menganalisis tata cara yang berlaku pada masyarakat yang berpengaruh terhadap fisik bangunan, pekarangan dan struktur ruang tempat tinggalnya. - Fisik bangunan dan pekarangan: Analisis ini membahas tentang fisik bangunan dan pekarangan dari tempat tinggal/hunian masyarakat. Kondisi fisik bangunan tersebut diantaranya, yaitu susunan massa bangunan, status kepemilikan, usia dan fungsi, bangunan bentuk, dan batas lahan. Analisis ini mendukung pola permukiman tradisional dan akan menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan arahan pelestarian: dan - Struktur ruang tempat tinggal: Analisis ini membahas tentang struktur ruang yang ada di dalam tempat tinggal/hunian masyarakat di antaranya, yaitu fungsi dan peruntukan ruang–ruang yang ada di dalamnya; dan
b.  Analisis Family Tree: Family Tree adalah bagan yang menggambarkan garis keturunan keluarga atau silsilah keluarga. Analisis Family Tree digunakan untuk mengetahui hubungan kekerabatan pada kawasan studi yang dikaitkan dengan konfigurasi spasialnya. Analisis Family Tree menggunakan metode analisis deskriptif yang dilengkapi dengan diagram pohon untuk menjelaskan hubungan kekerabatan diantara penghuni kawasan studi yang dikaitkan dengan letak rumah pada kawasan tersebut, sehingga diketahui pola tata bangunan yang ada di kawasan tersebut. 
3.      Analisis pola permukiman tradisional
Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis pola permukiman adalah analisis deskriptif. Pada analisis ini wilayah pengamatan adalah seluruh wilayah desa. Hasil analisis diharapkan mampu mengidentifikasi pola permukiman masyarakat baik dari segi konsep, filosofi maupun perkembangannya. Teknik analisis yang digunakan meliputi: - Analisis perkembangan permukiman desa: Analisis ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan permukiman  yang dilihat dari segi mikro perkembangan pola rumah dan dari segi makro berupa arah orientasi kecenderungan perkembangan permukiman di wilayah desa beserta dampak yang terjadi; - Analisis tipologi permukiman tradisional: Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai konsep dasar bentuk dan pola spasial permukiman desa yang diterapkan. Konsep tersebut dilihat berdasarkan kondisi fisik permukiman desa maupun dari segi aktifitas masyarakat; - Analisis tata guna lahan desa: Metode yang digunakan dalam analisis tata guna lahan adalah transek desa. Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai penggunaan lahan wilayah studi serta lingkungannya. Analisis ini diharapkan mampu memberikan informasi yang akurat mengenai zona–zona pemanfaatan ruang di wilayah desa: dan - Analisis ruang budaya: Analisis ruang budaya dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan hirarki ruang dan sifat penggunaan ruang yang ada. Metode digunakan adalah metode super impose yang merupakan analisis yang menggabungkan peta yang terdiri dari pola-pola permukiman berdasarkan variabel sosial dan budaya masyarakat untuk mengidentifikasi elemen pembentuk kawasan permukiman desa dan ruang ruang budaya yang terdapat di desa.
4.      Analisis permasalahan pelestarian
Analisis deskriptif mengenai permasalahan pelestarian bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pelestarian pola permukiman yang meliputi persepsi masyarakat dan permasalahan pelestarian dilihat dari beberapa aspek: a. Analisis persepsi masyarakat: Analisis ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap upaya pelestarian yang akan direncanakan di wilayah studi yang meliputi pendapat masyarakat mengenai permasalahan pelestarian, keinginan dan kepentingan masing–masing kelompok masyarakat. Dalam analisis persepsi dapat menggunakan teknik analisis partisipatif. Hasil analisis ini akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam arahan pelestarian yang akan direncanakan; dan b. Analisis permasalahan pelestarian: Analisis permasalahan pelestarian menggunakan teknik analisis deskriptif. Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui permasalahan pelestarian yang dihadapi meliputi aspek sosial, fisik, ekonomi, dan hukum. Hasil analisis akan digunakan sebagai salah satu dasar dalam penyusunan arahan pelestarian.
5.      Analisis Pelestarian (analisis development)
Metode analisis yang digunakan untuk menentukan arahan pelestarian pola permukiman terdiri dari arahan pelestarian fisik dan non fisik, yaitu sebagai berikut: a. Analisis pelestarian fisik: Arahan pelestarian fisik  merupakan arahan pelestarian bagi masing–masing objek studi berupa pola permukiman dan bangunan tradisional yang terletak di kawasan desa; dan b. Analisis pelestarian non fisik: Arahan pelestarian non fisik dalam studi ini berupa pelestarian dengan metode pendekatan hukum, ekonomi dan sosial yang diperoleh berdasarkan analisis permasalahan pelestarian secara hukum, ekonomi, sosial dan fisik serta persepsi berbagai pihak mengenai upaya pelestarian pada kawasan studi.

 


Daftar Pustaka
Aliyah, I. 2003. Arah Pelestarian Fisik Sebagai Dasar Pertimbangan Konservasi Kampung Kemlayan di Surakarta. Jurnal Arsitektural. 01 (1): 18 – 36.
Aliyah, I. 2004. Identifikasi Kampung Kemlayan sebagai Kampung Tradisional Jawa di Pusat Kota. Jurnal Teknik. XI (1): 33 – 40.
Anonim. Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Benda Cagar Budaya.
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Budihardjo, Eko. 1996. Jati Diri Arsitektur Indonesia. Bandung: P.T. Alumni.
Burhan, I. M., Antariksa & Mediana, C. 2008. Pola Tata Ruang Permukiman Tradisional Gampong Lubuk Sukon Kabupaten Aceh Besar. Arsitektur e – journal. 1 (3): 172-189. http://antariksae-journal.blogspot.com. Diakses 3 Juni 2009.
Burhan, I. M. 2008. Pola Tata Ruang Permukiman Tradisional Gampong Lubuk Sukon, Kabupaten Aceh Besar. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Daldjoeni, N. 2003. Geografi Kota dan Desa. Bandung: P.T. Alumni.
Dewi, P. F. R. 2008. Pelestarian Pola Perumahan Taneyan Lanjhang Pada Permukiman Di Desa Lombang Kabupaten Sumenep. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Dewi, P.F.R., Antariksa & Surjono. 2008. Pelestarian Pola Perumahan Taneyan Lanjhang Pada Permukiman Di Desa Lombang Kabupaten Sumenep. Arsitektur e – journal.1 (2): 94-109. http://antariksae-journal.blogspot.com. Diakses 5 Juni 2009
Dewi, P. 2005. Peran Perapian Dalam Pembentukan Ruang Baru Di Sasak. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, 33 (1): 94–98. http://puslit.petra.ac.id/~puslit/journals/. Diakses Tanggal 18 Juni 2009.
Doxiadis, C. A. 1968. Ekistic, An Introduction to the Science of Human Settlements. London: Hutchinson of London.
Dwi A. & Antariksa. 2005. Studi Karakteristik Pola Permukiman Di Kecamatan Labang Madura. Jurnal ASPI. 4 (2): 78-93.
Eliana, I. 2007. Studi Pola Permukiman Masyarakat di Daerah Terpencil Studi Kasus: Pedukuhan Cora Cotto’ Desa Sumbercanting Kab. Bondowoso. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Institut Teknologi Nasional.
Fauzia, L.  2006. Karakteristik Permukiman Taneyan Lanjhang di Kecamatan Labang Madura. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Gulo, W. 2002. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Hasan, M. I. 2002. Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta:Ghalia Indonesia.
Koentjaraningrat. 1984. Bunga Rampai Kebudayaan, Mentaltas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia.
Krisna, R., Antariksa & Dwi Ari, I.R. 2005. Studi Pelestarian Kawasan Wisata Budaya di Dusun Sade Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Plannit. 3 (2): 124-133.
Krisna, R. 2005. Studi Pelestarian Kawasan Wisata Budaya di Dusun Sade Kabupaten Lombok Tengah. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Machmud, 2006. Pola Permukiman Masyarakat Tradisional Ammatoa Kajang di Sulawesi Selatan. Jurnal Teknik. XIII (3): 178-186.
Nuraini, Cut. 2004. Permukiman Suku Batak Mandailing. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Patimah, S.  2006.  Pelestarian Pola Tata Ruang Permukiman Tradisional Desa Adat Ubud, Bali.  Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Permatasari, I., Antariksa & Rukmi, W.I. 2008. Permukiman Perdesaan Di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Arsitektur e – journal. 1 (2): 77-93. http://antariksae-journal.blogspot.com. Diakses 7 Juni 2009.
Permatasari, I. 2008. Permukiman Perdesaan Di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Pramono, A., Susanto, H. A.,& Sari, L. P. Varian Rumah Jawa dari Masyarakat Using di Blambangan Jrumah & Ampog: Ruang Privat & Transisinya. http://top.php.htm. Diakses tanggal 05 Oktober 2008.
Rakhmawati, I. 2005. Studi Pelestarian Kawasan Ampel Kota Surabaya (Studi Kasus: Koridor KH Mas Mansur, Sasak, Nyamplungan, dan Danakarya). Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Saptaningtyas, R. S. 2009. Kearifan Lokal Dalam Arsitektur Tradisional Sasak Di Pulau Lombok. http://lombokculture.blogspot.com. Diakses Tanggal 18 Juni 2009.
Sasongko, I. 2002. Transformasi Struktur Ruang pada Permukiman Sasak, Kasus: Permukiman Desa Puyung. Jurnal ASPI.2 (1): 117-125.
Sasongko, I. 2005. Pembentukan Struktur Ruang Permukiman Berbasis Budaya (Studi Kasus: Desa Puyung - Lombok Tengah). Dimensi Teknik Arsitektur. 33 (1):1-8.
Sasongko, I. 2005. Harmonisasi Tata Ruang Permukiman Melalui Mitos (Studi Kasus: Permukiman Sasak Desa Puyung). Jurnal Plannit. 3 (2).
Setiada, N. K. 2003. Desa Adat Legian Ditinjau dari Pola Desa Tradisional Bali. Jurnal Permukiman Natah. 1 (2): 52 – 108.
Silalahi, G. A. 2003. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Sidoarjo:Citra Media.
Soeroto, M. 2003. Dari Arsitektur Tradisional Menuju Arsitektur Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Suparman. 2004. Arsitektur dan Tata Ruang Tradisional Sasak. Makalah dalam Seminar dan Lokakarya Perumusan Rekomendasi dan Referensi Lombok Style. GTZ Urban Quality dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah. Mataram: 10-12 Maret 2004.
Suprijanto, I. 2002. Rumah Tradisional Osing: Konsep Ruang dan Bentuk. Dimensi Teknik Arsitektur. 30 (1): 10 – 20.
Tanudirjo, D.A. 2003. Warisan Budaya untuk Semua Arahan Kebijakan Pengelolaan Warisan Budaya Indonesia di Masa Mendatang. Makalah Kongres Kebudayaan V. Bukittinggi. www.purbakala.net.diakses tanggal 05 Oktober 2008
Wikantiyoso, R. 1997. Konsep Pengembangan: Transformasi Pola Tata Ruang Tradisional Studi Kasus: Permukiman Tradisional Jawa di Kotagede Yogyakarta – Indonesia. Science. 37: 25-33.
Wiriatmadja, S. 1981. Pokok-Pokok Sosiologi Pedesaan. Jakarta: Yasaguna.
Yuwono, J. S. E. 1995. Megalitik Indonesia dan Ambiguitas Pemaknaannya. Jurnal Artefak.15: 26 – 30.

© Antariksa 2012

No comments: