Translate

Thursday, 16 June 2011

Fenomena Arsitektur Hijau, Arsitektur Ramah Lingkungan dan Arsitektur Berkelanjutan

Antariksa

Dalam arsitektur hijau, filosofi desain struktur dan bangunan mempunyai tujuan untuk menggunakan seminimal mungkin bahan-bahan non-renewable dan/atau bahan-bahan yang dapat mencemari yang digunakan dalam konstruksi. Berarti arsitek yang melakukan pekerjaan mendesain bangunan, seharusnya sudah memahami dan mengerti bahwa tahapan dari proses perencanaan dan desain bangunannya mengikuti pemikiran tersebut. Kalau saat ini banyak digembar-gemborkan mengenai apa itu ‘arsitektur hijau’, ‘arsitektur berkelanjutan’, dan juga ‘arsitektur ramah lingkungan’, sudah seharusnya menjadi bagian yang perlu dipikiran oleh para arsitek saat ini. Dewas ini, arsitektur hijau/berkelanjutan adalah interpretasi dari berbagai macam ragam. Definisi yang paling umum adalah bahwa itu melibatkan adanya reduksi dari keseluruhan pengaruh dan proses dari desain melalui konstruksi serta operasional bangunan pada penggunakan kembali dari struktur dan elemen-elemennya. Hal itu mengambil beberapa dasar di antaranya: - efisiensi penggunaan site, ruang, bahan-bahan dan energi; - mereduksi pencemaran baik internal maupun eksternal, pemborosan, dan kesehatan lingkungan; dan – memperbaiki produktifitas pekerja, dan perlindungan kesehatan seluruh penghuni.

Oleh karena itu, ‘arsitektur berkelanjutan’ adalah arsitektur yang didesain dengan keramahan lingkungan. Kemudian tujuan dari ‘berkelanjutan’ atau ‘arsitektur hijau’ adalah untuk menciptakan struktur yang indah dan fungsional, akan tetapi juga memberikan kontribusi untuk keberlanjutan budaya dan kehidupan. Perhatian di dalam arsitektur keberlanjutan tumbuh secara radikal di awal abad ke-21, hal ini terjadi akibat dari respon perkembangan lingkungan, tetapi pada kenyataannya masyarakat telah membangun keberlanjutan selama ribuan tahun. Di sini ‘hijau’ atau ‘berkelanjutan’ berhubungan dengan efisiensi penggunaan bahan-bahan seperti air, energi, bahan-bahan, habitat alam serta menyumbangkan pada lingkungan dan kesehatan manusia yang ‘well being’. Banyak praktik kita yang sekarang adalah buta karena tidak dibimbing oleh teori atau bersandar pada teori yang tidak mampu bertahan (viable). Penggabungan teori dengan praktik secara khusus mencolok di dalam arsitektur (Skolimowski 2004:122). Perkembangan desain inilah yang membuat kesalahan dalam memahami lingkungan dan alam serta kehidupan masyarakat urban dan tradisional. Tempat menjadi sangat penting dalam mengungkapkan proses desainnya, sehingga pengalaman teori dari pendidikan formal yang didapat para arsitek harus dapat diterjemahkan ke dalam pemikiran praksis lingkungan alamnya. Ditambahkan oleh Skolimowski (2004:122) bahwa arsitektur membangun suatu jembatan di antara logos dengan praksis; ia adalah suatu titik di mana kedua hal itu bertemu. Karena alas an ini arsitektur memperlihatkan secara nyata kebesaran visi-visi kita dan juga kegagalan konsepsi-konsepsi kita yang lebih besar. Singkatnya, di dalam arsitektur banyak ide yang didiskusikan di dalam bab-bab sebelumnya menemukan suatu perwujudan yang dapat dilihat.

Pendapat Wines (2008) menjadi sangat jelas bahwa bangunan-bangunan telah mengkonsumsi seperenam sumber air bersih dunia, seperempat produksi kayu dunia, dan duaperlima bahan bakar dari fosil. Oleh karena itu arsitektur merupakan salah satu target utama dari reformasi ekologi. Meskipun beberapa arsitek telah melakukan rancangan bangunannya yang katanya ‘environmental friendly’, namun kenyataanya masih banyak yang belum sadar akan hal itu. Mereka tetap melakukan rancangannya baik dengan spirit teknologi maupun mengkopi masa lalu yang dikombinasikan dengan industrialisasi. Sebenarnya pemikiran ke depan adalah bagaimana arsitek sebagai manusia tidak akan membiarkan sebuah bangunan yang secara estetika buruk meskipun bangunan itu dibalut dengan nama arsitektur ‘hemat energi’ atau arsitektur ‘ramah lingkungan’. Radikalisme arsitektur mulai berkembang dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kemudian alam dijadikan tempat sebagai pelampiasan inspirasi untuk merepresentasikan model karya arsitekturnya, yang dikatakan arsitektur yang tanggap terhadap kondisi alam dan bumi saat ini. Apakah arsitektur yang berkelanjutan itu merupakan spirit atau style dapat terintegrasi dalam sutuasi dan kondisi lingkungan sekitarnya. Apakah arsitektur ‘hijau’ itu bagian dari perilaku manusia untuk melawan dan mengurangi kerusakan lingkungan. “Hijau merupakan istilah yang menjadi konsep sustainable development atau pembangunan berkelanjutan sebagaimana yang diterapkan pada bangunan industri. Arsitektur ‘hijau’ ialah arsitektur yang memepertimbangkan konsep pembangunan berkelanjutan (Saraswati 2011:4). Jawaban itu harus dimulai sejak awal rancangan bangunan itu, kemudian proses pembangunannya dan terakhir sesudah bangunan itu berdiri. Sebenarnya pengertian bangunan ‘hijau’ dalam konteks arsitektur bangunan gedung tidak terlepas denga pengertian arsitektur bioklimatik, arsitektur ramah lingkungan maupun arsitektur hemat energi (Saraswati 2011:11). Arsitektur hijau atau desain hijau adalah sebuah pendekatan pada bangunan yang meminimalkan efek kerusakan terkait dengan kesehatan manusia dan lingkungannya. Arsitek hijau atau perancang berusaha untuk melindungi udara, air dan tanah dengan memilih material bangunan ramah lingkungan dan praktek konstruksi. Bangunan hijau menggunakan konstruksi nyata dan material yang bertanggung-jawab pada lingkungan, dan efisiensi bahan dan fase desain melalui perawatan dan idealnya untuk merenovasi maupun dekonstruksi.

Kecenderungan saat ini banyak yang menoleh pada arsitektur vernakular dan tradisional dalam melihat sebagai latar belakang keilmuan, dan dijadikan dasar rancangan bangunan-bangunan di Indonesia. Bentuk-bentuk arsitekturnya menyatu dengan alam lingkungan sekitarnya, dengan elemen-elemen ekologisnya menjadikan salah satu inspirasi yang dapat diterapkan untuk bangunan arsitektur di Indonesia. Mereka kaya dengan tawaran tradisi bahan dan teknologi serta menawarkan berbagai macam solusi permasalahan iklim tropis, dan yang paling utama adalah iklim panas lembabnya. Namun sebagian besar teknologi yang berkembang saat ini dalam industri arsitektur belum tentu cocok untuk kondisi geografis-budaya di tempat kita. Iklim tentu saja sangat berpengaruh terhadap bahan bangunan, kemudian perilaku dan tatanan budaya juga akan memberikan dampak besar terhadap hasil karya arstektur tersebut. Untuk itu pendidikan arsitektur sangat berperan besar untuk mengontrol pemahaman teknik bahan dan bangunan berdasar lingkungan tradisi budaya kita yang bersahabat dengan alam lingkungannya. Sebagai kenyataan bangunan modern yang dirancang berdasar prinsip arsitektur berkelanjutan atau arsitektur hijau tentunya dilakukan dengan memasukkan unsur-unsur elemen yang berkaitan dengan penghawaan. Bangunan ‘hijau’ (green building) ialah bangunan yang berkinerja tinggi (high-performance building) yang dirancang agar responsive terhadap lingkungan, secara ekonomi cukup profit, dan sebagai tempat yang sehat untuk ditempati dan untuk bekerja (envoronmentaly responsible, economically profitable, and healthy places to live and work). Konsep ‘hijau’ tidak sekedar sebagai trend masa kini, namun harus diperlakukan sebagai prinsip dasar ketika kita mulai merancang bangunan (Saraswati 2011:5-6).

Bagaimana Bangunan Menjadi Hijau

Lebih dari lima tahun terakhir beberapa penekanan telah diletakkan untuk menuju hijau. Di dalam mendorong individu untuk mengubah kebiasaan agar mereka lebih ramah lingkungan. Disana juga telah dilakukan tekanan besar agar mereka dapat membuat bangunan lebih hijau. Dikatakan pula bahwa arsitektur hijau adalah tidak lebih dari percampuran cat warna kuning dan biru untuk merapikan ruang luar dari rumah mereka. Arsitektur hijau adalah integrasi dari teknologi, dalam teknik konstruksi dengan berpikir sehat ketika memulai merancang sebuah bangunan. Hal ini untuk memperkecil dampak lingkungan dari struktur serta untuk mereka yang tinggal atau bekerja di dalamnya. Bangunan hijau juga dikenal sebagai ‘konstruksi hijau’ atau ‘bangunan berkelanjutan’ berhubungan dengan sebuah struktur dan menggunakan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Efisiensi bahan melalui siklus usia bangunan dimulai dari awal ke desain, konstruksi, operasional, perawatan, renovasi, dan demolisi. Praktik ini diperluas dan komplemen desain bangunan klasik terdiri dari ekonomi, utiliti, daya tahan, dan kenyamanan.

Arsitektur ramah lingkungan adalah menjadi lebih popular hampir disemua Negara. Bentuk dari bangunan yang keberlanjutan mengambil ke dalam sebuah pandangan luas dari dunia dan akibat dari hal-hal yang telah ada di dalamnya. Arsitektur ramah lingkungan bertujuan untuk mengendalikan keseimbangan lingkungan pada bangunan dan area yang mengelilinginya. Arsitektur ramah lingkungan adalah kerapkali menyerah pada sebagian bangunan berkelanjutan atau desain hijau. Struktur hijau dengan struktur paling tidak-kecil, ruang keluarga yang movabel yang menggunakan bahan yang dapat diperbaharui. Dengan demikian arsitektur ramah lingkungan dapat dikembangkan untuk membantu lingkungan melalui desain mereka dan memproduksi mereka menggunakannya di dalam rumah dan pada ruang publik.

Dalam pengertian umum, arsitektur berkelanjutan dapat menjelaskan ke lingkungan mengenai kesadaran teknik desain dalam bidang arsitektur. Keberlanjutan adalah kerangka dengan diskusi yang luas dari ‘keberlanjutan’ dan menekankan issue ekonomi dan politik dari dunia kita. Dalam konteks yang luas, arsitektur berkelanjutan meminta untuk mengurangi akibat negatif bangunan terhadap lingkungan dengan menaikkan efisiensi dan tidak berlebihan dalam penggunaan material, energi, dan pengembangan ruang. Sangatlah mudah bahwa ide dari keberlanjutan, atau desain ekologi adalah untuk memastikan bahwa aktifitas kita dan keputusan hari ini tidak menghalangi kesempatan generasi masa depan. Pengertian ini dapat digunakan untuk menjelaskan energi dan sadar secara ekologis pendekatan pada desain dan lingkungan binaan. Dewas ini melalui kata-kata di dalam arsitektur telah muncul, keberlanjutan, ramah lingkungan, hi-tech, daur-ulang, dan modern. Semua fenomena aktual itu merupakan representasi melalui kata-kata adalah bentuk arsitektur rumah tinggal. Keberlanjutan adalah sebuah kata yang telah menggantikan daya tahan dalam millennium baru. Di abad ke-20 penekanan telah dilakukan pada struktur bangunan dan melakukan segala-galanya. Arsitektur berkelanjutan termasuk inovasi desain atau usia dari desain yang telah ribuan tahun diketemukan kembali dan akan diadaptasi ke dalam kehidupan modern untuk dan untuk kebutuhan personal anda sementara berharap kehidupan yang berkelanjutan. Konsep pemikiran efisiensi energi, adalah penting selama mereka dapat mengurangi kebutuhan energi dari rumah anda menjadi nol, sesuatu yang sangat berat untuk meningkatkan kemampuan perabot yang terdapat pada bangunan itu.

Sebagai pengguna kita sering berhadapan keputusan gaya hidup yang dapat memebrikan akibat pada lingkungan kita. Ada beberapa pilihan dalam hidup yang akan membuat perbedaan yang mana kualitas hidup yang akan diikuti oleh mereka. Berjalan dengan aliran dari budaya kita adalah sangat berat untuk menghindari, dan tidak menguntungkan aliran itu tidak pada arah yang benar untuk mengembangkan ke masa depan. Ada beberapa prinsip dari ‘arsitektur berkelanjutan’ yang diungkapkan oleh Kelly Hart. Daftar dari tiga belas prinsip dari arsitektur berkelanjutan yang dapat menunjukkan anda di dalam memilih rumah. Prinsip dari arsitektur berkelanjutan tersebut adalah: small is beautiful, heat with the sun, keep your cool, let nature cool your food, be energy efficient, conserve water, use local material, use natural material, save the forests, recycle material, build to cast, grow your food, dan share facilities.

Belajar dari Lokalitas Arsitektur Tradisional

Pelajaran dari arsitektur tradisional dan vernakular yang terdapat di nusantara ini sebenarnya telah banyak memberikan jawaban yang dapat digunakan dan diterapkan dalam mendesain bangunan saat ini. Kedewasaan lokalitas arsitektur tersebut dengan segala macam bentuk fisiknya telah banyak memberikan contoh, dan tentu saja hal itu merupakan salah satu yang dapat dikontribusikan sebagai bagian dari perjalanan berarsitektur di Indonesia. Salah satu bentuk penerapan nilai lokalitas adalah adaptasi tempat tinggal terhadap iklim. Menurut Skolimowski (2004:123-124) arsitektur mengikhtisarkan kebudayaan di mana ia merupakan bagian. Di dalam suatu kebudayaan yang maju, arsitektur ikut serta di dalam kemegahan. Kemudian ia mengungkapkan bukan hanya kekokohan dan komoditi tetapi juga kegembiraan. Ketika sebuah kebudayaan sedang runtuh dan tak mampu mempertahankan corak khasnya, arsitektur mendapat bagian yang banyak dipersalahkan karena kekurangan-kekurangannya terlihat sangat mencolok dan dialami semua orang. Kita lihat konstruksi rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri mempunyai kemampuan dalam beradaptasi terhadap iklim setempat. Karena adanya faktor adaptasi terhadap iklim tersebut mengakibatkan adanya beberapa perubahan dan perkembangan dalam penggunaan bahan dan material bangunan pada rumah tradisional masyarakat Suku Tengger di Desa Wonokitri dari waktu ke waktu (Ayuninggar et al. 2011). Rumah-rumah yang terdapat di Desa Kemiren Banyuwangi sebagian besar merupakan rumah yang usianya sudah tua, prosentase paling besar menunjukkan bahwa rumah yang ditinggali memiliki usia lebih dari 50 tahun. Dilihat dari konstruksi rumah asli di Desa Kemiren, hanya tersusun dari tembok berupa kayu dan gedeg, namun mempunyai kekuatan yang melebihi rumah dari dinding bata. Meskipun konstruksinya hanya terbuat dari kayu, rumah asli bisa tahan dari serangan binatang pengerat karena dinding kayu atau gedeg tidak menempel dengan tanah. Antara tanah dan dinding terdapat jarak antara 5-10 cm. Hal ini merupakan salah satu faktor ketahanan rumah Using hingga berpuluh-puluh tahun (Muktining Nur et al. 2009). Di Propinsi nanggroe Aceh Darussalam, jejak-jejak kearifan para arsitek jaman dahulu masih dapat ditemukan. Seperti rumah-rumah tradisional lain di Asia Tenggara, rumoh (rumah) Aceh berupa rumah panggung, yang dirancang sesuai dengan kondisi iklim, arah angin dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Tidak sekedar sebagai hunian, rumoh Aceh juga menyiratkan budaya dan tata cara hidup orang Aceh yang kaya makna (Burhan 2008).

Kerifan lokal telah menjadi bagian yang akan mengisi arsitektur masa depan, lokalitas memberikan sumbangan yang sangat besar melalui budaya dan tradisi dari masyarakat. Teknologi dan struktur budaya masyarakat tradisional yang kita punyai ini mempunyai nilai sejarah dan makna arsitektural yang besar bagi perkembangan arsitektur di masa mendatang. Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu (Ernawi 2009:7). Masih banyak lagi tradisi budaya masyarakat tradisional nusantara Indonesia ini yang masih terpendam dan perlu untuk diungkapkan kearsitekturannya. Menjadi tinggalan abadi yang perlu dilestarikan menjadi bagain dari apa yang sekarang banyak dibicarakan dan menjadi bagian dalam pembelajaran berarsitektur, yaitu arsitektur keberlanjutan. Alam tropis nusantara memberikan karunia besar bagi masyarakat dan arsitektur huniannya. Keragaman dengan kecirian tradisi budaya yang tinggi telah membentuk fisik alam lingkungannya berdasar letak geografisnya. Hal ini dapat terlihat dari bentuk dan teknologi masing-masing bangunannya. Alam nusantara telah memberikan keindahan dalam berkehidupan, tradisi dan budaya menciptakan teknoligi dan struktur ruang yang menakjubkan, sehingga dengan mempelajari hasil budaya masyarakat masa lalu, kemudian mengambil nilai keilmuannya akan menjadi kebangkitan baru dalam berarsitektur di nusantara Indonesia.


Sumber Pustaka

Ayuninggar, D.P., Antariksa & Wardhani, D.K. 2011. Kearifan Lokal Masyarakat Suku Tengger dalam Pemanfaatan Ruang dan Upaya Pemeliharan Lingkungan (Studi Kasus Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan). International Conference in Environmental Talk: Toward A Better Green Living. Faculty of Civil Engineering and Planning Mercubuana University, Jakarta 9 March.

Burhan, I.M., Antariksa & Meidiana, C. 2008. Pola Tata Ruang Permukiman Tradisional Gampong Lubuk Sukon, Kabupaten Aceh Besar. arsitektur e-journal. 1 (3): 172-189. http://antariksae-journal.blogspot.com. (Diakses 15 Mei 2011)

Ernawi, I.S. 2009. Kearifan Lokal Dalam Perspektif Ruang. “Kearifan Lokal dalam Perencanaan dan Perancangan Kota; Untuk Mewujudkan Arsitektur Kota yang Berkelanjutan. Group Konservasi Arsitektur & Kota: Malang.

Muktining Nur, T. K. H., Antariksa & Sari, N. 2009. Pelestarian Pola Permukiman Masyarakat Using di Desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi. arsitekture-journal. 2 (3):191-207. http://antariksae-journal.blogspot.com. (Diakses 2 April 2011).

Saraswati, T. 2011. Tantangan Menuju Arsitektur yang Lebih Tanggap Kondisi Bumi dan Lingkungan. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Yogyakarta 12 Maret.

Skolimowski, H. 2004. Filsafat Lingkungan. Jogjakarta: Bentang Budaya.

Wines, J. 2008. Green Architecture. Koln, Germany: Taschen Gmbh.

Antariksa © 2011

1 comment:

uii profile said...

blog yg menarik dan sumber inspirasi sy..:) terima kasih