Translate

Sunday, 16 January 2011

Struktur Ruang Budaya Dalam Permukiman

Antariksa

Adat dan Kebudayaan

Pengertian adat

Adat adalah bagian ideel dari kebudayaan, yang dapat disebut adat tata–kelakuan karena adat sebagai pengatur kelakuan. Adat dapat dibagi dalam empat tingkat, yaitu antara lain (Koentjaraningrat 1984:11-13): 1. Tingkat nilai–budaya, berakar dalam bagian emosional dari alam jiwa manusia; 2. Tingkat norma–norma, nilai–nilai budaya yang sudah terkait kepada peranan– peranan tertentu dari manusia dalam masyarakat; 3. Tingkat hukum, sistem hukum baik hukum adat maupun hukum tertulis; dan 4. Tingkat aturan khusus, mengatur aktifitas–aktifitas yang amat jelas dan terbatas ruang lingkupnya dalam kehidupan masyarakat.

Adat istiadat (custom) secara harfiah berarti praktek–praktek berdasarkan kebiasaan, baik perorangan maupun kelompok (Machmud 2007:180). Adat istiadat adalah bentuk konvensional perilaku orang dalam situasi–situasi tertentu, yang mencakup: metode–metode kerja yang diterima, relasi timbal balik antara anggota dalam kehidupan setiap hari dan dalam keluarga; tatacara diplomatik, agama dan tindakan–tindakan yang mencerminkan ciri–ciri spesifik kehidupan suatu suku, kelas, masyarakat. Adat istiadat mempunyai kekuatan dari suatu kebiasaan sosial dan mempengaruhi perilaku seseorang sehingga secara moral dapat dievaluasi.

Komunitas adat adalah kelompok masyarakat yang kehidupan sehari–harinya mengacu pada tatanan adat turun temurun. Tatanan adat yang diturunkan oleh nenek moyangnya diyakini sebagai jalan hidup yang baik sehingga dengan mengikuti tatanan hidup tersebut seseorang akan menjadi manusia yang berkualitas dan akan selalu mendapatkan berkah dari yang maha Kuasa. Komunitas adat biasanya mempunyai wilayah atau lokus tertentu yang tidak dibatasi oleh batas–batas administrasi modern seperti kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan negara (Hastanto 2007).



Pengertian kebudayaan

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia dari W.J.S. Poerwadarminta, budaya sama dengan pikiran, akal budi (penulis: intuisi); kebudayaan = hasil kegiatan, dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan sebagainya. Jadi, kebudayaan dapat berarti benda abstrak atau non materi maupun benda materil. Menurut kamus Poerwadarminta dan juga kamus Inggris – Indonesia dari John M. Echols & Shadily: kebudayaan = culture = kultur. Jadi norma-norma, kaidah kehidupan adat istiadat merupakan kebudayaan juga (a man of culture = seorang yang baik tingkah lakunya, sopan santun, beradat) (Budihardjo 1996:2-3). Menurut Budhisantoso dalam Krisna (2005:15), kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dangan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumber–sumber alam yang ada di sekitarnya. Kebudayaan juga dapat dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan–tantangan yang dihadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan, baik sebagai makhluk biologis maupun makhluk budaya.

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan–kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat (Taylor dalam Soekanto 2003:172).

Kalau norma atau kaidah yang lama merupakan aspek kebudayaan, misalnya (Budihardjo 1996:3): 1. Cara menentukan/memberikan diferensiasi tentang ruang dan tempat yang memperbedakan ruang milik seorang terhadap orang luar, dapat dijumpai dalam arsitektur tradisional di Jawa, di Minangkabau, di daerah-daerah lain di Indonesia. Pada rumah Jawa Kuno, dinding seketeng yang memisahkan “dalem ageng” dengan peringatan sekaligus memisahkan teritorial privacy, dan setengah public atau daerah anggota keluarga wanita dan daerah anggota keluarga pria. Pemisah teritorial demikian yang menunjukkan sifat outside atau male, female kita jumpai pula pada Arsitektur Tradisional Maya, Latin Amerika, Norway, Swedia bahkan pada hewan baboon (Amos Rapoport: “Culture Origins of Architecture”); 2. Untuk menyiapkan pusaka atau barang keramat dan penyelenggaraan upacara-upacara tertentu pada Arsitektur Jawa Tradisional tersedia ruangnya, yaitu dalem ageng dengan pedaringan yang dianggap ruang yang paling keramat; dan 3. Bali merupakan daerah yang norma dan kaidah-kaidah kehidupan sangat jelas diungkapkan dalam arsitekturnya.

Rapoport dalam Permatasari (2008:16) menyatakan bahwa budaya sebagai suatu kompleks gagasan dan pikiran manusia bersifat tidak terjaga. Kebudayaan ini akan terwujud melalui pandangan hidup (world view), tata nilai (values), gaya hidup (life style), dan akhirnya aktifitas (activities) yang bersifat konkrit. Menurut Trigger (1978) dalam Priyatmono (2004), pengelompokan permukiman juga bisa terbentuk atas dasar kepercayaan dari masyarakat dan atas dasar sistem teknologi mata pencahariannya. Pengelompokan permukiman tersebut tidak selalu menghasilkan bentuk denah dan pola persebaran yang sama, tetapi tergantung pada latar belakang budaya yang ada.



Unsur–unsur kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat (1987:12) disebutkan bahwa karakteristik atau bentuk kebudayaan sebagai suatu unsur–unsur yang universal. Unsur–unsur kebudayaan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Sistem religi dan upacara keagamaan, yaitu sistem kepercayaan dengan segala bentuk pelaksanaannya dalam kehidupan sehari–hari; 2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan, yaitu adanya tatanan masyarakat yang mempunyai pola hubungan tertentu, misalnya sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan; 3. Sistem pengetahuan, yaitu hasil daya cipta, karya, dan karsa manusia; 4. Bahasa yaitu alat komunikasi yang digunakan golongan masyarakat; 5. Kesenian, berbagai bentuk bentuk seni (seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya); 6. Mata pencaharian hidup, yaitu sistem pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat; dan 7. Sistem teknologi dan peralatan, yaitu produk ciptaan manusia berdasarkan ilmu.

Ditegaskan lagi oleh Koentjaraningrat (1987:12) bahwa unsur–unsur kebudayaan dalam kehidupan masyarakat selanjutnya akan terwujud menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut: 1. Kebudayaan sebagai kompleks ide–ide, gagasan, norma–norma dan peraturan yang bersifat abstrak, disebut sebagai culture system; 2. Kebudayaan sebagai kompleks aktifitas kekuatan yang berpola dari manusia dalam masyarkat, bersifat lebih konkrit dan disebut sebgai social system; dan 3. Kebudayaan benda–benda hasil karya manusia (artefak), mempunyai sifat paling konkrit, dapat diraba, diobservasi dan didokumentasi, disebut sebagai kebudayaan fisik atau physical culture.

Pembentuk kebudayaan menurut Rapoport dalam Krisna (2005: 16) dapat dilakukan dengan mengidentifikasi hal- hal berikut: 1. Lokasi, yaitu keberadaan fisik yang diwujudkan dalam suatu lokasi; 2. Berhubungan dengan bentang alam, yaitu adanya unsur landscape dengan fungsi tertentu; 3. Mempunyai elemen khusus, yaitu terdapat unsur fisik khusus yang menjadi ciri; 4. Mempunyai letak yang khusus, yaitu penempatan ruang dengan maksud tertentu; 5. Mempunyai ruang dari tipe yang khusus, yaitu fungsi atau jenis ruang sesuai dengan pengguanannya; 6. Diberi nama dengan cara yang khusus, yaitu landasan pemberian nama pada unsur fisik kawasan; 7. Menggunakan sistem orientasi yang khusus, yaitu sistem orientasi sebagai landasan pembangunan fisik; 8. Mempunyai warna, tekstur dan sebagainya yang khusus, yaitu penggunaan warna, tekstur yang khas sebagai bagian dari karakter fisiknya; 9. Mempunyai suara, bau, temperatur dan gerakan udara, yaitu karakteristik yang tidak terlihat; dan 10. Mempunyai orang yang pasti menarik dalam aktifitas yang khusus, yaitu pelaksanaan aktifitas masyarakat menarik perhatian karena kegiatan yang dilakukannya.

Unsur-unsur kebudayaan, lazim disebut cultural universals. Istilah ini menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut dapat ditemukan pada setiap kebudayaan di manapun didunia ini. Soekanto (2003:176) menguraikan tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, antara lain: 1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi transport dan sebagainya); 2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya); 3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan); 4. Bahasa (lisan maupun tertulis); 5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya); 6. Sistem pengetahuan; dan 7. Religi (sistem kepercayaan).

Ruang Budaya

Pada kebudayaan tradisional, bentuk permukiman dihadapkan pada latar belakang pengaturan yang bersifat ritual, yang pada dasarnya bertujuan sebagai pengaturan tatanan secara harmoni. Menurut Putra (2005:5) terdapat dua sistem pengaturan utama pada konsep ruang tradisional, yaitu pengaturan geometrik yang dihubungkan dengan hal-hal bersifat ritual dan kosmologi. Pada konteks budaya terkait dengan ruang permukiman, Sasongko (2005:89) menyatakan untuk menjelaskan makna dari organisasi ruang dalam konteks tempat (place) dan ruang (space) harus dikaitkan dengan budaya. Budaya sifatnya unik, antara satu tempat dengan tempat lain bisa sangat berbeda maknanya. Terkait dengan budaya dan ritual ditunjukkan sebagai peristiwa publik yang ditampilkan pada tempat khusus(sacred places).Pada upacara ritual yang berkaitan dengan: kelahiran, puber, perkawinan, kematian, dan berbagai peristiwa krusial lainnya sebagai perubahan atau transisi dalam kehidupan seseorang (Sasongko 2005:90).

Elemen dasar pendekatan dan pemahaman terhadap pola penggunaan ruang menurut Rapoport (1997:278-279), yaitu sebagai berikut: 1. Kegiatan Manusia, Ruang kegiatan manusia (home range) merupakan batas-batas umum terdiri dari beberapa setting atau lokasi, serta jaringan penghubung antar lokasi mempunyai radius home range tertentu yang dapat diklasifikasikan menjadi home range harian, mingguan dan bulanan; 2. Area Inti (Core Inti), Merupakan area ruang kegiatan manusia yang paling sering dipakai, dipahami dan langsung dikontrol oleh penduduk. Dalam konteks ini lingkungan area inti merupakan lingkungan-lingkungan perumahan dengan isitem sosial yang relatif kental, merupakan cluster-cluster kegiatan yang setiap hari muncul diorganisisr oleh kelompok penduduk yang mengenal secara personel; 3. Teritori, Merupakan area yang erat kaitannya dengan privacy dan personal space, sama dengan personal space, territorialitas adalah juga perwujudan ego yang tidak ingin diganggu. dengan kata lain merupakan perwujudan privasi. Teritorialitas itu sendiri adalah suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atas suatu lokasi; 4. Area Terkontrol (Juridiction), Merupakan suatu area yang dikuasai dan dikontrol secara temporer oleh sekelompok penduduk kota. Oleh karena pengusahaannya yang bersifat temporer maka dimungkinkan suatu area dikuasai oleh kelompok yang berbeda; dan 5. Personal Distance/Space (Ruang Personal), Merupakan suatu jarak atau area dengan intervensi oleh orang lain akan terasa menggangu, berbeda dengan keempat elemen tersebut di atas yang cenderung fisikal batasnya, personal distance biasanya tidak mempunvai kenampakan fisik yang jelas.



Budaya dalam struktur ruang permukiman

Rapoport dalam Wikantiyoso (1997:26) mengemukakan bahwa permukiman tradisional merupakan manifestasi dari nilai sosial budaya masyarakat yang erat kaitannya dengan nilai sosial budaya penghuninya, yang dalam proses penyusunannya menggunakan dasar norma–norma tradisi. Lawson dalam Sasongko (2002:119) menambahkan bahwa beberapa norma–norma tersebut mungkin murni dari kesepakatan warga, tetapi sebagian besar lainnya adalah dari kebutuhan dan karakter masyarakatnya sendiri (sebelum perancangan disusun secara profesional), perancangan dan kreatifitas ruang lebih bersifat sosial dan vernakular serta terlihat lebih memperhatikan aspek budaya. Sejalan dengan pendapat tersebut, Wikantiyoso (1997:26-29) juga menambahkan bahwa permukiman tradisional adalah aset kawasan yang dapat memberikan ciri ataupun identitas lingkungan. Identitas kawasan tersebut terbentuk dari pola lingkungan, tatanan lingkungan binaan, ciri aktifitas sosial budaya dan aktifitas ekonomi yang khas. Pola tata ruang permukiman mengndung tiga elemen, yaitu ruang dengan elemen–elemen penyusunnya (bangunan dan ruang disekitarnya), tatanan (formation) yang mempunyai makna komposisi serta pattern atau model dari suatu komposisi.

Menurut Habraken dalam Wikantiyoso (1997:27), sebagai suatu produk komunitas, bentuk lingkungan permukiman merupakan hasil kesepakatan sosial, bukan merupakan produk orang per orang. Artinya komunitas yang berbeda tentunya memiliki ciri permukiman yang berbeda pula. Suatu rumah dirancang dan suatu permukiman di tata menggambarkan hubungan antara individu, keluarga dan komunitasnya yang tentu saja bergantung pada masing–masing budaya. Konsekuensinya adalah organisasi ruang dirumah, tatanan permukiman dan akses ke fasilitas umum dipengaruhi oleh pandangan hidup komunitas tesebut.

Pada bagian lain Yi-Fu Tuan (1977) menyatakan bahwa untuk menjelaskan makna dari organisasi ruang dalam konteks tempat (place) dan ruang (space) harus dikaitkan dengan budaya. Budaya sifatnya unik, antara satu tempat dengan tempat lain bisa sangat berbeda maknanya. Selanjutnya manusia akan mengekspresikan dirinya pada lingkungan tempat dia hidup, sehingga lingkungan tempat tinggalnya akan diwujudkan dalam berbagai simbolisme sesuai dengan budaya mereka. Bagaimana manusia memilih tempat tertentu dan menggunakan berbagai kelengkapan, ataupun berbagai cara untuk berkomunikasi pada dasarnya merupakan “bahasa” manusia. Pola ini tidaklah semata dilihat dalam kaitan dengan lingkungan semata, akan tetapi pada waktu yang bersamaan juga merupakan perwujudan budaya mereka (Locher 1978 dalam Sasongko 2005:2-3).

Struktur ruang permukiman digambarkan melalui pengidentifikasian tempat, lintasan, dan batas sebagai komponen utama, selanjutnya diorientasikan melalui hirarki dan jaringan atau lintasan yang muncul dalam lingkungan binaan mungkin secara fisik atau non fisik. Untuk membentuk struktur ruang tidak hanya orientation yang terpenting, tetapi juga objek nyata dari suatu identifikasi. Dalam suatu lingkungan tempat suci berfungsi sebagai pusat yang selanjutnya menjadi orientasi dan identifikasi bagi manusia, dan merupakan struktur ruang (Norberg-Schulz 1979 dalam Sasongko 2005:2-3).

Secara lebih nyata struktur ruang permukiman tradisional di Korea menunjukkan tatanan ruang permukiman sangat dipengaruhi oleh kepercayaan, mulai dari pemilihan lokasi sampai struktur ruang itu sendiri. Pemilihan ruang untuk permukiman ditentukan dari falsafah feng-shui, yakni lokasi terbaik adalah diantara gunung dan sungai (Han 1991). Perumahan di Korea dalam satu desa bisa merupakan perumahan keluarga atau clan houses. Dalam menempatkan rumah untuk keluarga memiliki aturan: tempat yang paling atas digunakan untuk orang tua, selanjutnya dibawahnya untuk anak laki laki dan selanjutnya cucu laki-laki. Lebih lanjut dalam menentukan tatanan ruang permukiman ini, keterkaitan dan pemaknaan lingkungan juga memiliki cakupan yang sangat luas, bukan hanya dilihat dalam hal lingkungan sekitarnya saja, akan tetapi juga dalam lingkup yang sangat luas seperti kedudukan dalan jagad raya, di bumi tempat seseorang bertempat tinggal. Masyarakat Bali dalam menata ruang permukimannya sangat memperhatikan sistem orientasi. Pandangan hidup dasar mereka adalah adanya oposisi antara gunung dan laut atau kaja dan kelod. Gunung (Agung) merupakan tempat para dewa, sedangkan laut tempat para setan. Pada masyarakat di wilayah selatan, maka arah utara dan selatan seperti umumnya, akan tetapi masyarakat utara sebagai ‘utara’ adalah Gunung Agung di selatan, dan ‘selatan’ adalah laut di utaranya. Demikian juga dengan pelaksanaan ritual, dilakukan di sekitar pembangunan rumah atau penetapan lokasi dan penentuan kapan mulai bisa ditempati. Kegiatan ini nampak mengambil dari ide kosmologi hindu. Berbagai acara ini sudah tertulis, akan tetapi dalam prakteknya para tukang kayu sudah paham tentang acara semacam ini (Waterson 1990 dalam Sasongko 2005:2-3).

Secara khusus ritual ditunjukkan sebagai peristiwa publik yang ditampilkan pada tempat khusus (sacred places) atau pada waktu tertentu. Para ahli antropologi juga sering lebih mengkaitkan dengan ritual keagamaan dan masyarakat preliterate (Norget 2000 dalam Sasongko 2005:2-3). Salah satu bagian penting dalam ritual adalah rites of passage yang merujuk pada: kelahiran, puber, perkawinan, kematian, dan berbagai peristiwa krusial lain sebagai perubahan atau transisi dalam kehidupan seseorang. Dalam interaksinya dengan alam dan pemahaman atas keseimbangan alam baik sebagai makro kosmos maupun mikro kosmos, manusia melakukan berbagai rangkaian ritual yang dilakukan secara terus menerus. Diantara ritual bagian yang sangat penting adalah terkait dengan daur hidup.

Hoebel & Frost 1976 dalam Sasongko (2005:2-3) menyatakan bahwa siklus hidup manusia pada dasarnya terdiri dari empat bagian, yakni, kelahiran, dewasa, bereproduksi dan mati. Pada berbagai budaya manusia acara ini selalu ada dengan berbagai variasi dan intensitas yang berbeda. Bagaimana peristiwa ritual mempengaruhi aktifitas masyarakat dan penggunaannya dalam ruang permukiman, salah satunya disampaikan oleh Hardie (1985) yang mempelajari masyarakat Tswana. Dalam hal ini kelahiran dan kematian yang memiliki signifikansi terhadap kedatangan dan kepergian ke dunia leluhur ini diamati memiliki hubungan dengan ruang disekitar dimana peristiwa tersebut terjadi. Pola ini mempengaruhi perilaku di dalam ruang pada saat tertentu, dan mengungkapkan kepercayaan tentang alam raya dan tatanan kosmis yang dipahami oleh masyarakat Tswana (Hardie 1985 dalam Sasongko 2005:2-3).


Sumber Pustaka

Budihardjo, Eko. 1996. Jati Diri Arsitektur Indonesia. Bandung: P.T. Alumni.

Koentjaraningrat. 1982. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press

Koentjaraningrat. 1984. Bunga Rampai Kebudayaan, Mentaltas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia.

Krisna, R. 2005. Studi Pelestarian Kawasan Wisata Budaya di Dusun Sade Kabupaten Lombok Tengah. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.

Krisna, R., Antariksa & Dwi Ari, I.R. 2005. Studi Pelestarian Kawasan Wisata Budaya di Dusun Sade Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Plannit. 3 (2):124-133.

Machmud, 2006. Pola Permukiman Masyarakat Tradisional Ammatoa Kajang di Sulawesi Selatan. Jurnal Teknik. XIII (3):178-186.

Norberg-Schulz, C. 1979. Genius Loci. New York: Electa/Rizolly.

Permatasari, I. 2008. Permukiman Perdesaan Di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.

Permatasari, I., Antariksa & Rukmi, W.I. 2008. Permukiman Perdesaan Di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Arsitektur e – journal. 1 (2):77-93.

Priyatmono, A. F. 2004. Peran Ruang Publik Di Permukiman Tradisional Kampung Laweyan Surakarta. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Putra, N et al. 1985/1986. Kesadaran Budaya Tentang Ruang pada Masyarakat, di Daerah NTB (Suatu Studi Menganai Proses Adaptasi). Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Prop NTB. Mataram: Depdikbud.

Rapoport, A. 1993. Development, Culture, Change and Supportive Design. USA: University of Wisconsin-Milwaukee.

Sasongko, I. 2002. Transformasi Struktur Ruang pada Permukiman Sasak, Kasus: Permukiman Desa Puyung. Jurnal ASPI.2 (1):117-125.

Sasongko, I. 2005. Pembentukan Struktur Ruang Permukiman Berbasis Budaya (Studi Kasus: Desa Puyung - Lombok Tengah). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur. 33 (1):1-8.

Sasongko, I. 2005. Struktur Ruang Permukiman Karangsalah dan Segenter di Desa Bayan. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur. 20 (1):16-25.

Soekanto, S. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Cetakan ke-35, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Wikantiyoso, R. 1997. Konsep Pengembangan: Transformasi Pola Tata Ruang Tradisional Studi Kasus: Permukiman Tradisional Jawa di Kotagede Yogyakarta – Indonesia. Science. 37:25-33.

Antariksa © 2011


No comments: