Translate

Saturday, 19 June 2010

PENDEKATAN DESKRIPTIF-EKSPLORATIF DALAM PELESTARIAN ARSITEKTUR BANGUNAN KOLONIAL DI KAWASAN PECINAN KOTA PASURUAN

Antariksa, Hany Perwitasari, Fadly Usman, dan Ika Puspitasari


ABSTRACT

The purposive of this research are to identify and analyzing the typology of Dutch’s colonial buildings façade. Methods used in this research are descriptive and explorative which use purposive sampling method, and continued through analyzing with descriptive-qualitative method to the colonial building façade. The result of this research found that building typology of colonial house can be group based on element, ornament, style and date of construction. Building style used at colonial house is Indische empire style, Voor 1900, NA 1900, romantic and 1915 building’s style. The exterior ornament is positioned at the top, body and bottom of the buildings. Conservation as an endeavor is to protect the buildings with the preserve meaning with the purpose to describe a historical value, architectural, and cultural is shown as a human quality life in this area. Conservation is conduct of 8 buildings to preserve, 21 buildings to conserve and 17 buildings to rehabilitate

Keywords: building typology façade, building ornament, colonial building, architecture conservation



ABSTRAK

Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasikan dan menganalisis tipologi wajah bangunan dan ornamen pada bangunan kolonial. Metode yang digunakan deskriptif dan eksploratif yang menggunakan metode purpossive sampling, untuk dilanjutkan ke analisis dengan metode deskriptif-kualitatif terhadap wajah bangunan kolonial yang ada di Kawasan Pecinan Pasuruan. Hasil studi didapatkan bahwa tipologi bangunan rumah tinggal kolonial dikelompokkan berdasarkan elemen, ornamen, gaya dan tahun pembuatannya. Gaya bangunan yang digunakan pada bangunan kolonial adalah gaya Indische empire style, Voor 1900, NA 1900, romantiek dan gaya bangunan tahun 1915-an. Ragam hias yang terdapat di luar ruangan terletak pada bagian kepala, badan, dan kaki bangunan. Pelestarian sebagai upaya mempertahankan bangunan dengan makna yang dipertahankan berupa nilai historis, arsitektural, dan kebudayaan yang menunjukkan kualitas hidup manusia dalam kawasan. Pelestarian yang diterapkan adalah preservasi 8 bangunan, konservasi 21 bangunan, dan rehabilitasi sebanyak 17 bangunan.

Keywords: tipologi wajah bangunan, ornamen bangunan, bangunan kolonial, pelestarian arsitektur



PENDAHULUAN

Peniruan bentuk bangunan kolonial telah banyak mempengaruhi banyak bangunan di Indonesia, khususnya Pasuruan dan sekitarnya. Melalui bentukan yang ada, dapat dilihat gaya atau langgam arsitektur yang sedang berkembang di Pasuruan saat itu. Mengenal gaya bangunan dapat dilakukan dengan mempelajari bentuk bangunan beserta elemen-elemen yang menyusunnya. Salah satu bentuk yang dapat mencirikan bangunan adalah bentuk wajah bangunan. Wajah bangunan memiliki ciri-ciri spesifik yang dapat menjadi petunjuk tentang kebudayaan dan status sosial pemiliknya, kejayaan arsitektur kolonial, dan perkembangannya, yang turut memperkaya arsitektur nusantara.

Secara visual, bangunan-bangunan bergaya arsitektur Cina di Kota Pasuruan banyak terdapat di Jl. Soekarno-Hatta, Jl. Hasanuddin, dan daerah di sekitarnya, yang letaknya berada di utara alun-alun. Pengamatan juga diperkuat dengan adanya klenteng di daerah tersebut, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja tetapi juga memiliki peran yang besar dalam kehidupan komunitas Cina di masa lampau. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Tillema dalam Handinoto (1990: 5) bahwa, tipikal kota-kota Jawa pada masa kolonial ditinjau dari tata ruang dan bangunannya terdiri atas alun-alun, masjid, kantor pemerintahan, penjara, dan kampung Cina.

Bentuk atap yang ditemukan di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan hampir sama dengan bentuk atap yang ditemukan di daerah Cina selatan. Kebanyakan imigran-imigran Cina yang datang ke Indonesia merupakan imigran yang berasal dari propinsi-propinsi di Cina bagian selatan seperti Fukien, Chekian, Kiang Si, dan Kwang Tung, karena propinsi-propinsi tersebut mempunyai tingkat kemakmuran yang rendah dan panen hasil pertanian mereka sering gagal karena sering terkena bencana alam (Lilananda 1998:9). Selain itu, tembok yang tebal, plafon yang tinggi, lantai marmer, dan beranda depan dan belakang yang luas juga menandakan adanya gaya Eropa dalam bangunan yang terdapat di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan. Menurut Handinoto (1990:17), gaya arsitektur campuran Cina-Eropa yang terdapat di Pasuruan belum tentu terdapat di kota-kota pesisir Pulau Jawa yang lain, sehingga gaya arsitektur di Kawasan Pecinan Pasuruan dapat disebut ”Chinese of Pasuruan”.

Peniruan bentuk bangunan kolonial telah mempengaruhi banyak bangunan di Indonesia, khususnya kota Pasuruan dan sekitarnya. Gaya bangunan tersebut bukan hanya terdapat pada bangunan kolonial orang Eropa, tetapi juga terdapat pada bangunan rumah tinggal non Eropa. Hal yang wajar apabila pemilik berusaha menampilkan identitas dirinya pada tampilan bangunan dalam pembangunan atau menghias rumahnya. Melalui bentukan yang ada, dapat dilihat gaya atau langgam arsitektur yang sedang berkembang di Pasuruan saat itu.

Salah satu elemen pembentuk bangunan, yaitu ”riasan” yang merupakan seni dan unsur estetis sebuah bangunan rumah tinggal.”Riasan” pada bangunan dapat berupa ragam hias (ornamen), yang berupa komposisi unsur-unsur seni berupa titik, garis (linier dan semu), bentuk dan ruang, tekstur, warna dan bahan. Faktor tersebut dipengaruhi oleh langgam bangunan yang terjadi masa itu, sosial, ekonomi, agama, kepercayaan, politik, serta lingkungan.

Ornamen atau ragam hias bangunan rumah tinggal menarik untuk diteliti lebih lanjut. Usaha pelestarian dan perlindungan bangunan bersejarah, selayaknya ragam hias pada bangunan rumah tinggal merupakan awal untuk menarik animo masyarakat agar lebih peduli terhadap keberadaan bangunan tua sebagai sebuah koleksi perkembangan peradaban umat manusia. Oleh karena itu penelitian Pelestarian Kawasan Pecinan Kota Pasuruan dengan pendekatan deskriptif-eksploratif bertujuan untuk (1) mengetahui tipologi wajah bangunan kuno (2) mengetahui tipologi ragam hias yang terdapat pada bangunan kuno dan (3) menganalisis dan merumuskan arahan pelestarian bangunan kuno dan kawasan Pecinan Kota Pasuruan. Hasil penelitian ini diharapkan diketahuinya, tipologi wajah bangunan, tipologi ragam hias, arahan pelestarian bangunan kuno di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan.



TEORI-TEORI YANG DIGUNAKAN

Tipologi dan Bentuk dalam Arsitektur

Tipologi adalah suatu studi yang berkaitan dengan tipe dari beberapa objek yang memiliki jenis yang sama. Tipologi merupakan sebuah bidang studi yang mengklasifikasikan, mengkelaskan, mengelompokkan objek dengan ciri khas struktur formal yang sama dan kesamaan sifat dasar ke dalam tipe-tipe tertentu dengan cara memilah bentuk keragaman dan kesamaan jenis. Aspek klasifikasi dalam pengenalan tipologi mengarah pada usaha untuk mengklasifikasikan, mengkelaskan, mengelompokkan objek berdasarkan aspek-aspek/kaidah-kaidah tertentu. Aspek-aspek yang dapat diklasifikasikan dapat berupa fungsi, bentuk, maupun gaya. Menurut Aplikawati (2006:13), tiga alasan pentingnya tipologi dalam arsitektur, yaitu antara lain: 1. Membantu proses analisis terhadap objek arsitektur yang sudah ada (dalam hal ini berfungsi sebagai penggambaran objek); 2. Berfungsi sebagai media komunikasi, dalam hal ini terkait dengan transfer pengetahuan; dan 3. Membantu kepentingan proses mendesain (membantu menciptakan produk baru). Pada bagian lain Sulistijowati (1991:12) menjelaskan, pengenalan tipologi akan mengarah pada upaya untuk ”mengkelaskan”, mengelompokkan atau mengklasifikasikan berdasar aspek atau kaidah tertentu. Aspek tersebut antara lain: 1. Fungsi (meliputi penggunaan ruang, struktural, simbolis, dan lain-lain); 2. Geometrik (meliputi bentuk, prinsip tatanan, dan lain-lain); dan 3. Langgam (meliputi periode, lokasi atau geografi, politik atau kekuasaan, etnik dan budaya, dan lain-lain).

Objek menjadi lebih mudah untuk dikenali dan diidentifikasikan, dapat diuraikan dan memiliki sesuatu yang dapat diukur, diamati, dan dihitung, baik yang bersifat mendatar, maupun yang bersifat berdiri. Pada awal abad ke-19 sampai dengan tahun 1920-an, arsitektur kolonial Belanda berkembang di Indonesia, banyak pengaruh Eropa dan terjadi percampuran bentuk Arsitektur Barat dan tradisional, termasuk pada penggunaan elemen bangunan dan detail ragam hiasnya pada seni bangunan (Trianingrum 2006:14). Bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900-an merupakan bentuk yang spesifik. Bentuk tersebut merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda pada jaman yang bersamaan dengan iklim tropis basah Indonesia. Ada juga beberapa bangunan arsitektur kolonial Belanda yang mengambil elemen-elemen tradisional setempat, yang kemudian diterapkan ke dalam bentuk arsitekturnya. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia tersebut adalah suatu bentuk yang khas yang berlainan dengan arsitektur modern yang ada di Belanda sendiri (Trianingrum 2006:24).



Wajah Bangunan

Selubung bangunan merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan ciri dari suatu bentukan kolonial. Ciri bangunan yang dapat terlihat dari wajah bangunan atau selubung bangunan adalah bentuk atap, ornamen atau ragam hias, dan juga elemen-elemen penyusun wajah bangunan lainnya seperti bukaan dan dinding bangunan (Suryokusumo 2006). Selubung bangunan tersebut tentunya mengalami adaptasi dengan iklim, karena faktor tersebut berhubungan langsung dengan penghawaan dan pencahayaan pada bangunan yang menentukan kenyamanan penghuni bangunan.

Menurut Krier (2001), wajah bangunan menyampaikan keadaan budaya saat bangunan tersebut dibangun, wajah bangunan mengungkap kriteria tatanan dan penataan, dan berjasa dalam memberikan kemungkinan dan kreativitas dalam ornamentasi dan dekorasi. Muka bangunan merupakan wajah bangunan yang memamerkan keberadaan sebuah bangunan kepada publik (Krier 2001). Muka bangunan dibentuk oleh dimensi, komposisi, serta ragam hias. Komposisi muka bangunan mempertimbangkan persyaratan fungsional pada dasarnya berkaitan dengan kesatuan proporsi yang baik, harmonis, dan selaras, penyusunan elemen horizontal dan vertikal yang terstruktur, bahan, warna, dan elemen dekoratif lainnya. Hal lainnya tidak kalah penting untuk mendapatkan perhatian lebih adalah proporsi bukaan, ketinggian bangunan, prinsip perulangan, keseimbangan komposisi yang baik, serta tema yang tercakup ke dalam variasi. Selanjutnya Krier (2001) menegaskan bahwa wajah bangunan juga menceritakan dan mencerminkan kepribadian penghuni bangunannya, memberikan semacam identits kolektif sebagai suatu komunitas bagi mereka, dan pada puncaknya merupakan representasi komunitas tersebut dalam publik. Aspek penting dalam wajah bangunan adalah pembuatan semacam pembedaan antara elemen horizontal dan vertikal, dimana proporsi elemen tersebut harus sesuai terhadap keseluruhannya. Setelah prinsip penyusunan wajah bangunan ini, kondisi konstruksi dapat dibuat terlihat, misalnya artikulasi vertikal pada tiang sebagai penyangga. Penggunaan elemen-elemen naratif seperti balok jendela untuk mempertegas independensi jendela, teritisan yang menghasilkan bayangan, bahan-bahan yang menonjolkan massa juga dapat digunakan (Krier 2001).



Ragam Hias

Salah satu faktor yang berkaitan dengan keindahan bangunan adalah ragam hias yang penggunaannya sangat berkaitan dengan unsur estetis yang dapat memperindah sekaligus menampilkan karakter suatu bangunan (Amiuza 2006).

Menurut Toekio (1987), dekoratif adalah suatu kata sifat dari kata dekoratif (decorate, decoration), yaitu suatu aktifitas atau kegiatan yang berkaitan dengan ornamen atau ragam hias. Kelompok ini cenderung memiliki ciri-ciri yang berkisar kepada isian untuk menghias (artificial form). Ragam hias dekoratif mengimbangi selera pemakai. Penjelasan lain dari Toekio (1987:10), ornamen adalah ragam hias untuk suatu benda, pada dasarnya merupakan suatu pedandan atau kemolekan yang dipadukan. Ragam hias berperan sebagai media untuk mempercantik atau mengagungkan suatu karya. Dekoratif dan ornamen tidak saja menghadirkan estetika kultural dan historikal tetapi dapat pula terbentuk melalui permukaan atap, permukaan dinding, ataupun permukaan langit-langit. Ornamen dan dekoratif mempunyai perlambang atau simbolik dan sekaligus pembentukan jati diri (Baidlowi & Daniyanto 2003:39). Ragam hias hadir ditengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai media ungkapan perasaan yang diwujudkan dalam bentuk visual. Faktor estetis merupakan unsur penting dalam sebuah bangunan oleh Habraken dengan pola analisis yang berkaitan dengan tipologi Golgogen yang bertolak dari pemikiran Vitruvius, salah satunya adalah sistem stilistik. Sistem stilistik berhubungan dengan elemen atap, kolom, bukaan, dan ragam hias (Tjahjono, 1992). Suatu barang atau benda hasil karya seni rupa dapat dikatakan sempurna bilamana memenuhi kegunaannya, keindahan, kesesuaian akan ’warna’ dan ’bahannya’.... (Soekiman 2000).

Elemen hias pada bangunan berupa ornamen terbagi dalam dua kelompok, yaitu konstruksional dan komplementer. Hiasan konstruksional adalah hiasan yang tidak dapat dilepaskan dari bangunan, sedangkan hiasan komplementer dapat dilepaskan tanpa memberi pengaruh apapun (Kusmiati 2004). Pemakaian ornamen dalam bangunan memegang peranan yang sangat besar. Ornamen membantu kesan ekspresi alami pada bangunan. Ornamen timbul karena diilhami dua faktor, yaitu emosi dan teknik. Faktor emosi adalah hasil cipta yang didapat dari kepercayaan, agama, dan magis. Faktor teknik dalam ornamen berhubungan dengan dari material apa benda itu dibuat dan bagaimana membuatnya (Soekiman 2000). Karya tidak hanya mengetengahkan ornamen atau ragam hias, namun banyak pula yang sengaja dibuat dengan raut atau perupaan sejenis. Menurut sifatnya, tidak dapat berdiri sendiri artinya lepas dari sesuatu yang pokok yang dilengkapinya terutama dari bahan yang dipakai, karena untuk keindahan saja; memberi penekanan atau kekhasan; menjadi pesyaratan; merupakan pertanda atau simbol; dibuat khusus sesuai dengan benda utamanya; dapat mengikat atau menjenis; dan sebagai bagian dari kekaryaan. Keragaman karya baik berupa cuplikan, gubahan khusus berupa barang, atau hanya sekedar tempelan dan duplikasi (Toekio 2002).



Pengertian, Konsepsi, dan Prinsip dalam Pelestarian

Dalam konteks sumber daya kultural atau warisan cagar budaya, istilah pelestarian dapat diartikan sebagai upaya untuk melindungi dan memelihara bangunan atau lingkungan bersejarah sesuai dengan keadaannya dan mengoptimalkan bangunan tersebut dengan memanfaatkannya sesuai dengan fungsi lama yang dapat meningkatkan kualitas bangunan tersebut maupun lingkungan sekitarnya yang bertujuan untuk memahami masa lalu dan memperkaya masa kini (Nurmala 2001:27). Untuk kepentingan studi ini ditetapkan definisi pelestarian yang akan digunakan adalah upaya untuk melestarikan dan melindungi bangunan bersejarah yang bertujuan untuk memahami masa lalu dan memperkaya masa kini, sehingga bermanfaat bagi perkembangan kota, dan generasi masa datang melalui penerapan berbagai metoda pelestarian. Budiharjo (1994:22), berpendapat bahwa upaya preservasi mengandung arti mempertahankan peninggalan arsitektur dan lingkungan kuno persis dengan keadaan semula. Karena sifat pendekatan preservasi yang statis, maka upaya pelestarian juga merupakan pendekatan konservasi yang dinamis, tidak hanya mencakup bangunannya saja, akan tetapi juga lingkungan (conservation areas) serta kota bersejarah (historic towns). Dengan pendekatan konservasi, berbagai kegiatan dapat dilakukan, mulai dari inventarisasi bangunan bersejarah, kolonial maupun tradisional, upaya pemugaran (restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi, sampai dengan revitalisasi). Prinsip pelestarian adalah (Sidharta & Budiharjo dalam Erwin 2000): 1. Dilandasi atas penghargaan terhadap keadaan semula dari suatu tempat supaya tidak mengubah bukti-bukti sejarah yang dimilikinya; 2. Menangkap kembali makna kultural dari suatu tempat dan harus menjamin keamanan dan pemeliharaannya di masa mendatang; 3. Suatu bangunan, lingkungan/kawasan bersejarah harus tetap berada lokasi historisnya. Pemindahan seluruah atau sebagian dari suatu bangunan tidak diperkenankan, kecuali bila hal tersebut merupakan satu-satunya cara guna menjamin kelestariannya.



METODE YANG DIGUNAKAN

Studi dilakukan dengan menggunakan metode rasionalistik-kualitatif, yaitu dilakukan dengan cara observasi lapangan dan interview, metode deskriptif dengan pendekatan historis dan tipologis, dan metode eksploratif. Metode rasionalistik-kualitatif merupakan metode yang dilakukan dengan cara peneliti bertindak sebagai instrumen utama (Moehadjir 1989; Guba 1985). Metode ini digunakan untuk menggali dan mengungkap latar sosio-kultural-historis yang tersembunyi di balik tampilan fisik objek, dan untuk memperkuat apa-apa saja yang telah terdapat pada telaah dokumenter. Melalui proses interview secara mendalam dan mendetail, yang dilakukan secara silang dan berulang, maka akan dapat diketahui bagaimana gambaran konsep kawasan dan arsitektur rumah tinggal di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan.

Metode deskriptif merupakan suatu metode yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari hasil interview, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi, dokumen resmi, ataupun data-data yang dapat dijadikan petunjuk lainnya untuk digunakan dalam mencari data dengan interpretasi yang tepat. Metode ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana kondisi di lapangan, proses apa-apa saja yang telah berlangsung dengan cara diagnosa dan menerangkan hubungan yang terjadi di lapangan dengan kajian teori, untuk kemudian dapat ditarik kesimpulan dari masalah yang ada sekarang, yang kesemuanya disusun secara sistematis berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan (Moleong 2002:7).

Metode eksploratif dilakukan dengan tujuan agar dapat menggali lebih dalam tentang elemen-elemen yang digunakan pada bangunan kuno, sehingga didapatkan informasi yang dapat mengarahkan pada unsur-unsur, terutama gaya yang mempengaruhi bentukan dari wajah dan ragam hias bangunan kuno tersebut.

Metode evaluatif digunakan dalam penentuan nilai kultural bangunan kuno yang ada di kawasan bersejarah, sehingga didapatkan klasifikasi bangunan berdasarkan makna kultural yang dikandungnya. Bentuk penilaian berupa pembobotan untuk setiap kriteria makna kultural yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan pada penjelasan teori makna kultural yang ada. Penilaian dilakukan oleh empat responden, yaitu pemerintah (Bappeda dan Diknas), budayawan, dan perwakilan masyarakat Pecinan.

Pemilihan sampel bangunan dilakukan dengan memilih bangunan-bangunan yang termasuk ke dalam kriteria kajian, yaitu bangunan yang memiliki ciri dan karakteristik khusus dengan gaya kolonial yang sifatnya esensial, sehingga dapat dianggap representatif dari populasi bangunan kolonial yang terdapat pada kawasan kajian. Metode pemilihan sampel dilakukan dengan metode purpossive sampling, yaitu metode yang tidak melihat besarnya populasi, namun lebih ditekankan kepada kriteria arsitektur dan variasi gaya yang terdapat dalam permukiman. Didapatkan data bangunan kolonial yang ada di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan berjumlah 46 bangunan. Dari 46 bangunan tersebut ada 31 buah bangunan yang berfungsi sebagai rumah tinggal, 1 bangunan sebagai tempat ibadah (klentheng), 12 bangunan sebagai rumah tinggal sekaligus tempat usaha, dan 2 bangunan sebagai sekolahan. Berdasarkan kriteria sampel, dari 46 bangunan tersebut, ada sebanyak 31 bangunan yang dapat dijadikan sampel penelitian.



HASIL DAN PEMBAHASAN

Tipologi Wajah Bangunan

Setelah diidentifikasi wajah bangunan selanjutnya analisis tipologi wajah bangunan secara deskriptif dan eksploratif. Analisis tipologi wajah bangunan dilakukan untuk mengetahui gaya bangunan yang terdapat pada bangunan-bangunan kuno di Kawasan Pecinan, dan sejauh mana tingkat perubahan yang terjadi. Untuk selanjutnya dijadikan dasar dalam menelaah perkembangan kawasan dan arsitektur yang membentuknya. Tingkat perubahan pada wajah bangunan juga dijadikan dasar dalam penentuan arahan pelestarian terhadap bangunan.

Bangunan BE 1 merupakan salah satu bangunan Kolonial yang difungsikan sebagai rumah tinggal sekaligus sebagai tempat usaha berupa penitipan mobil oleh pemiliknya. Pemilik bangunan BE 1 ini merupakan seorang warga Keturunan Tionghoa bernama dr. Josef. Bangunan BE 1 terletak di Jalan Belitung no. 16, tepat di bagian ujung pertemuan anatar Jalan Belitung dan Jalan Hassanuddin Pasuruan. Usaha penitipan mobil yang dikelola Keluarga dr. Josef samasekali tidak merubah posisi dan bentuk dari bangunan asli. Bangunan asli masih tetap dipertahankan bentuk maupun elemen-elemennya. Wajah bangunan BE 1 belum terlalu banyak mengalami perubahan dengan saat awal bangunan dibangun pada sekitar tahun 1800-an. Renovasi hanya berupa pengecatan ulang pada bagian dinding dan elemen bukaan berupa pintu. Wajah bangunan inti masih terpelihara dengan baik, akan tetapi bagian garasi sudah terlihat rapuh dan mengalami kerusakan, karena bangunan garasi didominasi dengan bahan kayu. Wajah bangunan BE 1 didominasi kuat oleh bukaan berupa pintu rangkap ganda yang berjumlah tiga buah. Wajah bangunan merupakan bentuk simetris, yang bagian kanan-kiri jika ditarik dari sumbu tengah bangunan memiliki wajah dan bentukan yang sama. Tinggi bangunan ± 5 meter, dan bangunan utama mengalami kenaikan setinggi ± 50 cm dari permukaan tanah. Kesan kokoh diperlihatkan dengan adanya empat buah kolom dengan ukuran besar pada bagian depan bangunan. Sedangkan kesan feminim ditunjukkan dengan pemberian pot-pot bunga ukuran besar yang diletakkan di beranda rumah, kaca grafir yang digunakan sebagai pintu bagian dalam, motif lantai beranda yang terkesan sebagai bingkai, dan list atap yang berbentuk ornamen dari bahan kayu.

Bangunan SH I ini merupakan bangunan yang paling terawat dibandingkan dengan bangunan-bangunan Kolonial lainnya yang ada di sekitar Kawasan Pecinan. Bangunan SH 1 ini berlokasi di Jalan Soekarno Hatta no. 38 Pasuruan. Bangunan SH 1 ini merupakan bangunan milik Keluarga Tholib, yang lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan ‘Dinasti Tholib’. Pemilik awal bangunan ini adalah Mayor Han, seorang keturunan Etnis Tionghoa yang diangkat sebagai Mayor oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pada tahun 1939, seorang saudagar dari keturunan Arab yang sangat kaya bermarga Tholib membeli bangunan ini seharga 3500 golden, sebuah harga yang sangat mahal untuk masa itu. Bangunan SH 1 merupakan bangunan rumah tinggal sekaligus tempat usaha berupa tempat pencucian mobil, warnet, dan juga bengkel. Saat ini, rumah Keluarga Tholib tersebut dikelola oleh generasi ke-3 dari Klan Tholib, yaitu Bapak Hanief.

Bangunan SH 1 ini memilik luas tanah ± 4000 m2 dan luas bangunan ± 2500 m2. Bangunan SH 1 ini merupakan sebuah bangunan megah, yang bangunan intinya sangat besar, dengan ukuran tiap-tiap ruangan yang sangat besar juga. Terdapat hall di tengah-tengah ruangan. Di bagian kanan-kiri bangunan inti terdapat koridor yang disepanjang koridor tersebut terdapat pintu-pintu rangkap ganda yang menghubungkan bagian dalam ruangan dengan koridor tersebut.

Pada bagian wajah bangunan, di sebelah depan kanan-kiri bangunan inti terdapat bangunan paviliun yang masing-masing terdiri dari dua lantai dengan 3 kamar dengan ukuran yang cukup besar. Bangunan ini berfungsi sebagai guest house pada masa dulu, yang digunakan oleh Keluarga Tholib untuk membantu para saudagar yang tidak memiliki tempat untuk menginap ketika berada di Pasuruan. Pada kesempatan kali ini, keberadaan paviliun ini tidak akan dibahas, tetapi hanya wajah bangunan utama saja yang akan dibahas.

Wajah bangunan inti masih terlihat sangat bagus. Semua elemen-elemen yang menyusun bagian wajah bangunan memberikan kesan mewah dan megah pada bangunan. Kolom ionic ganda dengan ukuran besar yang terletak berjajar di bagian depan bangunan memberikan kesan kokoh pada bangunan. Pintu-pintu rangkap ganda yang terbuat dari kayu jati dengan hiasan berupa kaca grafir ditambah dengan bouvenlicht bermotif clover pada bagian atasnya memberikan kesan anggun pada bangunan. Lantai terbuat dari bahan marmer dalam ukuran yang cukup besar juga menambah kesan mewah dari bangunan.



Tipologi Ragam Hias

Berdasarkan hasil identifikasi terhadap jenis ragam hias yang terdapat pada bangunan kuno di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan, selanjutkan dilakukan analisa dengan metode deskriptif dan eksploratif terhadap tipe ragam hias bangunan kuno di Kawasan Pecinan yang akan dibahas berdasarkan motif, pola, warna dan bahan ragam hias untuk mengetahui karakter ragam hias yang digunakan pada bangunan kuno. Langkah selanjutnya yaitu mengelompokkannya sehingga akan terlihat gaya bangunan yang berkembang saat itu melalui ragam hias yang ada dan ciri-cirinya terutama di Kota Pasuruan. Selain itu, analisis tipologi ragam hias juga akan menelaah tingkat perubahan yang terjadi pada ragam hias bangunan, sehingga kemudian dapat dijadikan dasar dalam merumuskan arahan yang sesuai.

Bangunan SH 6 terletak di Kawasan Jalan Soekarno Hatta no. 33. Pemilik asli bangunan SH 6 menurut cerita dari masyarakat sekitar adalah seorang wanita kaya yang merupakan salah satu pemilik pabrik gula terbesar di Pasuruan pada masa lampau. Bangunan SH 6 ini merupakan salah satu bangunan yang termasuk dalam ‘Gedhong Wolu’ yang diceritakan oleh masyarakat sekitar. Saat ini, bangunan SH 6 dimiliki oleh seorang Etnis Tionghoa bernama Bapak A Liong. Pada awal pembelian bangunan pada tahun 1996, bangunan ini direncanakan Bapak A Liong untuk digunakan sebagai rumah tinggal bagi Keluarga A Liong, tetapi karena keluarga menolak, maka bangunan SH 6 digunakan sebagai sebuah tempat penyimpanan keramik yang merupakan bisnis keluarga. Kebutuhan akan ruang yang lebih luas untuk tempat penyimpanan, maka pada bagian sebelah barat bangunan ditambahkan sebuah bangunan bentang panjang yang difungsikan sebagai gudang keramik. Bangunan tambahan ini samasekali tidak merusak dan merubah wajah bangunan utama yang berada di sebelah barat. Bangunan utama SH 6 hanya mengalami perubahan pada bagian lantai bangunan dikarenakan kerusakan oleh faktor usia. Jika dilihat dari penggunaan elemen-elemen yang terdapat pada bagian wajah bangunan, seperti tower dan detail pintu, jendela dan bouvenlight, bangunan SH 6 merupakan bangunan yang dibangun setelah tahun 1915-an, karena gaya yang digunakan dan mendominasi bangunan adalah Gaya 1915-an.

Bangunan SH 5 ini terletak tepat di bagian pojok pertemuan antara Jalan Soekarno Hatta dan Halmahera. Bangunan SH 5 ini beralamatkan di Jalan Soekarno Hatta no. 37 Pasuruan dan memiliki fungsi sebagai rumah tinggal. Dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya, luas dari bangunan SH 5 ini lebih kecil dan terkesan dibangun diatas lahan sisa dari bangunan disebelahnya. Menurut Bapak Hanief sebagai pemiliknya, bangunan ini dibangun sekitar tahun 1930-an, saat kakek beliau baru datang di Pasuruan. Wajah bangunan SH 5 sudah mulai tidak simetris antara bagian kanan dan kiri jika ditarik garis sumbu dari pusat bangunan. Pada bagian timur bangunan terdapat tower sebagai vocal point dari bangunan. Unsur dekoratif pada bagian wajah bangunan sudah mulai berkurang. Sejak dibangun pada tahun 1930-an sampai saat ini, tidak ada perubahan berarti pada bagian wajah bangunan SH 5. perawatan dan pemeliharaan bangunan dilakukan dengan pengecatan dinding dan elemen bukaan seperti pintu dan jendela, dengan menggunakan warna yang sama dengan warna aslinya.

Bangunan Rumah Makan Bethani SH 12, bangunan ini dulunya difungsikan sebagai rumah tinggal oleh pemiliknya yang merupakan warga keturunan Etnis Tionghoa. Saat ini pemilik bangunan SH 12 merupakan generasi ketiga dari pemilik asli bangunan tersebut. Pewaris SH 12 merupakan seorang wanita, yang menjadikan SH 12 sebagai tempat usaha. Usaha yang dikelola oleh pemilik yang sekarang adalah jenis usaha dagang, di antaranya berupa toko pakaian dan alat-alat keperluan anak-anak, warnet, dan juga berupa rumah makan. Sebagian besar wajah bangunan sudah mengalami perubahan, bahkan bangunan yang difungsikan sebagai toko pakaian anak sudah berubah samasekali menjadi bangunan modern dengan dominasi bahan kaca pada bagian badan bangunan, guna keperluan display barang dagangan. Bangunan utama yang berada pada bagian tengah difungsikan sebagai rumah makan. Bangunan utama ini tidak terlalu banyak mengalami perubahan, hanya dilakukan pengecatan dengan menggunakan warna-warna terang untuk tujuan menarik pelanggan. Bangunan sebelah barat yang dulunya difungsikan sebagai guest house, kini sudah berubah menjadi warnet (warung Internet) dan juga tempat tinggal pemiliknya.

Klentheng Tjoe Tik Kiong adalah salah satu landmark yang ada di Kawasan Pecinan Pasuruan. Klentheng Tjoe Tik Kiong berada di Jalan Lombok, tepat pada posisi tusuk sate antara Jalan Lombok dan Jalan Sokarno Hatta Pasuruan. Klentheng merupakan tempat yang dibuat oleh Masyarakat Etnis Tionghoa yang ada di Pasuruan untuk mewadahi aktivitas beribadah dan juga berkumpul bagi warga Tionghoa yang ada di Kota Pasuruan. Selain dua fungsi tersebut, klentheng juga berfungsi sebagai tempat untuk mengembangkan seni dan kebudayaan Tionghoa. Warga Tionghoa sudah lama berada di Kota Pasuruan. Mereka datang pada saat Pasuruan menjadi kota pelabuhan yang cukup besar di pesisir utara Pulau Jawa, untuk berdagang. Lokasi Kota Pasuruan yang strategis bagi perdagangan, membuat para pedagang dari Cina memutuskan untuk bermukim dan menetap di Kota Pasuruan. Kedatangan Bangsa Cina ke Pasuruan sudah berlangsung pada abad ke-17. Masyarakat Tionghoa sangat memegang teguh adat dan juga kebudayaan Tionghoa, sehingga meskipun sudah bermukim di Pasuruan, adat dan kebudayaan tersebut tidak dapat ditinggalkan. Masyarakat Tionghoa yang percaya adanya banyak dewa tidak pernah lupa untuk membawa patung dewa yang disembah. Diperlukan adanya tempat sembahyang yang layak kepada para dewa. Konon menurut cerita, pendiri Klentheng Tjoe Tik Kiong ini adalah seorang Warga Cina yang menyembah Dewi Mak Cho, sehingga klentheng ini dibangun untuk menghormati Dewi Mak Cho. Komunitas Klentheng memberi nama Tjoe Tik Kiong yang berarti kebaikan dan cinta kasih. Dalam perkembangannya, pada masa penjajahan Belanda, ada sepasukan warga pribumi yang dikejar-kejar oleh Belanda, dan mereka bersembunyi di Klentheng Tjoe Tik Kiong. Konon menurut cerita, ketika mereka bersembunyi, mereka melihat sesosok panglima berkulit merah dan sangat besar. Hal ini diyakini oleh warga Tionghoa sebagai perwujudan dari Dewa Kwan Kong, oleh karena itu, maka dibuatlah tempat persembahyangan untuk menghormati Dewa Kwan Kong. Tidak ada yang tahu pasti kapan Klentheng Tjoe Tik Kiong ini dibangun, akant tetapi jika diperkirakan menurut cerita yang beredar, usia dari klentheng ini sudah lebih dari 250 tahun. Ada beberapa perubahan yang terjadi pada klentheng ini sejak dibangun hingga saat ini. Kondisi bangunan inti klentheng yang digunakan untuk sembahyangan Dewi Mak Cho, masih asli, sama seperti saat pertama dibangun. Warna, struktur, serta bahan bangunannya masih sama. Bangunan pelengkap pada bagian kanan dan kiri bangunan inti, yang masing-masing digunakan sebagai tempat sembahyangan Dewa Kwan Kong dan kantor pengelola sudah banyak mengalami perubahan. Penambahan ruang-ruang baru juga terjadi pada area sekitar klentheng, seperti rumah pengurus, aula, dan klinik. Arsitektur khas Cina terlihat sangat jelas pada wajah bangunan klentheng, mulai dari luar, sampai bagian dalam bangunan utama. Bangunan klentheng dipenuhi dengan berbagai macam ornamen, baik berupa lukisan, ukiran, maupun patung-patung yang memiliki berbagai macam makna menurut kepercayaan dan kebudayaan Tionghoa.

Bangunan SH I ini merupakan bangunan yang paling terawat dibandingkan dengan bangunan-bangunan kolonial lainnya yang ada di sekitar Kawasan Pecinan. Bangunan SH 1 ini berlokasi di Jalan Soekarno Hatta no. 38 Pasuruan. Bangunan SH 1 ini merupakan bangunan milik Keluarga Tholib, yang lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan ‘Dinasti Tholib’. Pemilik awal bangunan ini adalah Mayor Han, seorang keturunan Etnis Tionghoa yang diangkat sebagai Mayor oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pada tahun 1939, seorang saudagar dari keturunan Arab yang sangat kaya bermarga Tholib membeli bangunan ini seharga 3500 golden, sebuah harga yang sangat mahal untuk masa itu. Bangunan SH 1 merupakan bangunan rumah tinggal sekaligus tempat usaha berupa tempat pencucian mobil, warnet, dan juga bengkel. Saat ini, rumah Keluarga Tholib tersebut dikelola oleh generasi ke-3 dari Klan Tholib, yaitu Bapak Hanief. Bangunan SH 1 ini memilik luas tanah ± 4000 m2 dan luas bangunan ± 2500 m2. Bangunan SH 1 ini merupakan sebuah bangunan megah, yang bangunan intinya sangat besar, dengan ukuran tiap-tiap ruangan yang sangat besar juga. Terdapat hall di tengah-tengah ruangan. Di bagian kanan dan kiri bangunan inti terdapat koridor yang disepanjang koridor tersebut terdapat pintu-pintu rangkap ganda yang menghubungkan bagian dalam ruangan dengan koridor tersebut. Pada bagian wajah bangunan, di sebelah depan kiri dan kanan bangunan inti terdapat bangunan paviliun yang masing-masing terdiri dari dua lantai dengan 3 kamar dengan ukuran yang cukup besar. Bangunan ini berfungsi sebagai guest house pada masa dulu, yang digunakan oleh Keluarga Tholib untuk membantu para saudagar yang tidak memiliki tempat untuk menginap ketika berada di Pasuruan. Wajah bangunan inti masih terlihat sangat bagus. Semua elemen-elemen yang menyusun bagian wajah bangunan memberikan kesan mewah dan megah pada bangunan. Kolom doric ganda dengan ukuran besar yang terletak berjajar di bagian depan bangunan memberikan kesan kokoh pada bangunan. Pintu-pintu rangkap ganda yang terbuat dari kayu jati dengan hiasan berupa kaca grafir ditambah dengan bouvenlicht bermotif clover pada bagian atasnya memberikan kesan anggun pada bangunan. Lantai terbuat dari bahan marmer dalam ukuran yang cukup besar juga menambah kesan mewah dari bangunan.

Bangunan SH 2 ini merupakan landmark kawasan. Bangunan SH 2 dikenal dengan sebutan ’Rumah HT’, karena pemiliknya yang dulu memiliki sebuah perusahaan trasportasi HT. Bangunan SH 2 beralamatkan di Jalan Soekarno Hatta no. 66, Pasuruan. Bangunan SH 2 saat ini difungsikan sebagai rumah tinggal yang dihuni oleh Bapak Welly Lunardi beserta dengan keluarganya yang kesemuanya terdiri dari sembilan orang. Pada awal pembangunannya, SH 2 merupakan sebuah rumah tinggal yang dibangun oleh seorang Mayor keturunan Etnis Tionghoa, bermarga Han. Menurut Bapak Welly yang merupakan menantu Keluarga Han, rumah HT dibangun pada tahun 1925 dan baru selesai pada tahun 1928. Bahan-bahan yang digunakan sebagai material bangunan didatangkan langsung dari Eropa, kecuali bahan-bahan seperti pasir, semen, dan lain-lain. Struktur bangunan HT ini merupakan struktur knock down yang bisa dibongkar pasang. Jadi bahan-bahan yang didatangkan dari Eropa merupakan bahan jadi yang tinggal dirakit sesampainya di Indonesia. Arsitek bangunan SH 2 ini merupakan arsitek berkewarganegaraan Belanda yang sengaja disewa oleh Mayor Han untuk membangun rumahnya. Bangunan SH 2 berdiri di lahan seluas ± 3000 m2 persegi, dan karena terkena dampak dari pelebaran jalan, lahan bangunan berkurang menjadi ± 2880 m2. semua struktur dan elemen bangunan sampai saat ini masih terjaga keasliannya dan masih terawat dengan baik. Hanya rumput liar yang tumbuh di kebun bagian depan dan samping bangunan membuat bangunan terkesan tidak terpelihara. Semua elemen bangunan memiliki detail ornamen yang sangat unik, perpaduan unsur budaya kolonial dan Budaya Cina. Pintu utama bangunan merupakan pintu rangkap ganda yang bagian atasnya diberi bouvenlicht yang menyatu dengan kusen pintu. Jendela bangunan juga merupakan jendela rangkap. Kaca yang digunakan adalah kaca pingul dan kaca jenis grafir bewarna-warni. Lantai bangunan merupakan lantai marmer abu-abu dalam ukuran yang sangat besar. Bangunan SH 2 ini mengkomunikasikan tentang kejayaan pemiliknya pada masa pembangunannya. Sebagian dari elemen bangunan sudah ada yang rusak, akan tetapi oleh pemiliknya tidak diganti dengan alasan biaya, dan tidak ada alagi yang sama dengan aslinya. Peremajaan bangunan dilakukan dengan pengecatan ulang dinding dan kusen pintu dan jendela. tapi sejak terjadi banjir pada tahun 2008 di Pasuruan, bagian rumah yang terendam banjir belum mengalami renovasi.



Pelestarian Fisik Arsitektur Bangunan

Pelestarian fisik di wilayah studi meliputi pelestarian bangunan kuno yang potensial untuk dilestarikan. Penentuan bangunan kuno yang potensial untuk dilestarikan dilakukan melalui penilaian makna kultural. Makna kultural yang dinilai dalam penelitian yaitu, terdiri dari estetika, keaslian, kelangkaan, keterawatan, keluarbiasaan, dan memperkuat citra kawasan. Untuk lebih jelasnya mengenai makna kultural yang akan dinilai. (Tabel 1)

Tabel 1. Kriteria Penilaian Bangunan Kuno di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan

No

Kriteria

Definisi

Tolak ukur

1

Estetika

Terkait dengan nilai estetika dan arsitektural dalam hal bentuk, struktur, tata ruang, dan ornament.

Corak pada bangunan (asli kolonial atau ada percampuran Cina-Kolonial)

2

Keaslian

Terkait dengan perubahan yang terjadi terhadap bentuk asli bangunan dan fasade bangunan

Perubahan bangunan (perombakan atau sebatas perbaikan)

3

Kelangkaan

Terkait bangunan sebagai peninggalan terakhir atau jarang sekali terdapat tipe bangunan yang masih ada (beserta keunikan dan kemewahan visualnya)

Bangunan merupakan bangunan satu-satunya di kawasan

4

Keterawatan

Berkaitan dengan kondisi fisik bangunan

Terawat, kurang terawat, ataukah terabaikan

5

Keluarbiasaan

Memeliki kekhasan yang bisa diwakili oleh faktor usia atau ukuran

Menjadi landmark kota, kawasan dan atau lingkungan

6

Memperkuat citra kawasan

Memiliki peran yang signifikan dalam pembentukan citra kawasan

Memiliki nilai signifikan pada aspek estetika, kelangkaan, dan keluarbiasaan serta peran sejarah

Masing-masing kriteria pada Tabel 1 dibagi atas tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang dan rendah, yang disesuaikan dengan kondisi bangunan dilihat dari aspek kriteria makna kultural. Penilaian masing-masing kriteria makna kultural dibagi ke dalan tiga tingkatan, yaitu sebagai berikut: a. Tinggi= 3; b. Sedang= 2; dan c. Rendah= 1. Penentuan bobot berdasarkan pertimbangan keberadaan rentang yang cukup antara tiap tingkatan namun tetap menjaga reliabilitas pengukuran (Pamungkas, 1998:78). Penilaian terhadap makna kultural masing-masing bangunan kuno dilakukan oleh empat responden yang mewakili beberpa elemen, yaitu pemerintah, budayawan, dan masyarakat Pecinan.

Berdasarkan hasil analisis, maka penilaian kriteria makna kultural bangunan kuno di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan, dapat dijelaskan pada Tabel 2. Sebelum menetapkan strategi pelestarian pada kawasan studi, perlu dilakukan penentuan kelompok bangunan yang potensial dilestarikan dan kelompok bangunan yang kurang potensial untuk dilestarikan. Penentuan dua pengelompokan bangunan tersebut dilakukan dengan cara mencari nilai rata-rata seluruh bangunan berdasarkan penilaian peneliti. Bangunan kuno dengan nilai makna kultural diatas rata-rata, digolongkan dalam bangunan potensial dilestarikan. Jika sebaliknya, akan digolongkan kedalam bangunan kurang potensial dilestarikan.



KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kondisi Pasuruan pada masa kolonialisasi Belanda, dan banyaknya etnis yanng bermukim di Pasuruan telah menghadirkan arsitektur baru dengan jenis eklektik. Arsitektur eklektik terlihat pada bangunan-bangunan kolonial di Pecinan Pasuruan, yang dibangun oleh etnis Tionghoa. Mereka hidup berdampingan dengan Bangsa Eropa dan pribumi, membuat etnis Tionghoa mengalami akulturasi kebudayaan dengan budaya sekitarnya. Budaya tersebut kemudian berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari mereka, termasuk dalam bangunan rumah tinggal yang merupakan cerminan kepribadian dan kebudayaan pemiliknya.

Tipologi bangunan kolonial dapat ditentukan berdasarkan era/periode pembangunan, yaitu ditipologikan menjadi tiga kelompok, bangunan dibangun pada era <1800-1840, style="">Indisch Empire, Voor 1990, NA 1900, dan gaya 1915 yang dipadukan dengan gaya romantiek. Pola simetris dan tak simetris sangat diperhatikan dalam penyusunan wajah bangunan kolonial di Pecinan Pasuruan. Pola dasar tata wajah bangunan lebih mengarah pada bentukan-bentukan geometris persegi dan perpaduan dari unsur-unsur garis vertikal dan horisontal baik digunakan secara tunggal maupun yang bidang.

Ragam hias terdapat pada bagian kepala, badan, dan kaki. Ragam hias pada bagian kepala adalah gevel, windwijzer, tower, hiasan puncak atap, bouvenlicht, dan. Motif yangdigunakan pada kepala bangunan adalah motif geometris, bebas dan campuran dengan pola simetripada setiap ragam hias dari kaca yang mengisi bingkai bouvenlicht, dan pola perulangan pada motif-motif hiasan menara dan bouvenlicht. Tipologi pada dinding didasarkan pada ornamentasi, yaitu polos, ornamen batu kali, batu tabur (batu hias). Perletakan pintu utama pada fasade cenderung simetris di tengah lebar bangunan. Lantai menggunakan motif campuran antara motif geometris dan motif stilasi tumbuhan.

Aspek pelestarian meliputi kegiatan preservasi sebanyak 8 bangunan, konservasi 21 bangunan, dan renovasi sebanyak 17 bangunan.

Agar penentuan bangunan kuno dilakukan dengan mempertimbangkan aspek makna kultural, nilai ekonomis, kondisi fisik dan sosial budaya dari bangunan. Karena studi ini hanya mengkaji wajah bangunan, maka perlu dilanjutkan dengan aspek strukur, ruang maupun fungsi bangunan. Perlu ada kajian mengenai pengaruh politik, sosial-budaya, ekonomi terhadap kondisi fisik bangunan. Unsur lokalitas dalam bangunan perlu dikaji lebih dalam lagi mengenai perpaduan arsitektur lokal dan mancanegara demikian pula untuk wajah bangunannya yang dapat menggambarkan masa peradaban bangunan tersebut dibangun.



REFERENSI

Amiuza, C. (2006). Tipologi Rumah Tinggal Administratur P.G. Kebon Agung di Kabupaten Malang. Jurnal RUAS. IV (1): 1-22.

Baidlowi, H & Daniyanto, E. (2003) Arsitektur Permukiman Surabaya. Surabaya: Karya Harapan

Fahruddin (2002). Transformasi Tatanan Permukiman sebagai Akibat Pembangunan Ekonomi di Pasuruan, Tesis. Tidak Dipublikasikan. Surabaya: Bidang Studi Arsitektur Jurusan Alur Permukiman Kota dan Lingkungan Program Pasca Sarjana ITS.

Handinoto (1999). Lingkungan Pecinan dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial. Jurnal Dimensi Arsitektur. 7: 20.

Handinoto (1999). Sekilas tentang Arsitektur Cina di Pasuruan. Jurnal Dimensi Arsitektur. 27 (2):1

Handinoto. (1990). Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940. Yogyakarta: Andi Offset

Krier, R. (2001). Architectural Compotition. London: Academy Edition.

Kusmiati, A. (2004) Dimensi Estetika pada Karya Arsitektur & Desain. Jakarta: Djembatan.

Lilananda, R.P. (1998). Inventarisasi Karya Arsitektur Cina di Kawasan Pecinan Surabaya. Penelitian. Tidak Dipublikasikan. Surabaya: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UK Petra.

Moehadjir, N. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: PT. Bayu Indra Grafika.

Moleong, J.L. (2002) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nurmala (2003). Panduan Pelestarian Bangunan Tua/Bersejarah di Kawasan Pecinan-Pasar Baru, Bandung. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Bandung: Jurusan Teknik Planologi FTSP ITB, 2003.

Panjaitan, T.W.S. (2004). Peranan Konservasi Arsitektur Bangunan Dan Lingkungan Dalam Melestarikan Identitas Kota (Kasus Kota Surabaya). Selasar. 1 (1):44.

Pemerintahan Republik Indonesia 2004. Undang-undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya: Dinas Pendikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.

Pontoh, N. K. (1992). Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori. Jurnal PWK. IV (6): 34-39.

Soekiman, D. 2000. Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakt Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII-Medio Abad XX). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Sulistijowati (1991). Tipologi Arsitektur Pada Rumah Kolonial Surabaya (Studi Kasus: Perumahan Plampitan dan sekitarnya). Laporan Penelitian. Surabaya: Fakultas Teknik dan Perencanaan ITS.

Tantri, A. W. (2006). Karakteristik Kawasan Pecinan Kota Kediri. Skripsi. Tidak Dipublikasikan. Malang: Jurusan Tenik Perencanaan Wilayah dan Kota UB.

Tjahjono, R. (1992) Studi Karakteristik Arsitektural Pada Hunian Masyarakat Berbahasa Madura di Malang Selatan (Studi Kasus: Desa Ganjaran, Gondanglegi). Laporan Penelitian. Malang: Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya.

Toekio, S. (1987) Mengenal Ragam Hias Indonesia. Bandung: Angkasa.

Widayati, N & Djauhari. S. (2003). Permukiman Cina di Jakarta Barat (Gagasan Awal Mengenai Evaluasi SK Gubernur No. 475/1993). Jurnal Kajian Teknologi. 5 (1): 1-24.

Wulandari, K. V. (2006). Pelestarian Kawasan Pusat Kota Pasuruan. Skripsi. Tidak Dipublikasikan. Malang: Jurusan Tenik Perencanaan Wilayah dan Kota UB.


Artikel di atas telah dipresentasikan dalam Seminar Nasional ”Metodologi Riset dalam Arsitektu” Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana, Denpasar 3 Juni 2010.

Copyright © 2010 by Antariksa