Translate

Saturday, 1 May 2010

Tipologi Wajah Bangunan dan Riasan dalam Arsitektur Kolonial Belanda

Antariksa

Tipologi Arsitektur Bangunan

Tipologi adalah suatu studi yang berkaitan dengan tipe dari beberapa objek yang memiliki jenis yang sama.Tipologi merupakan sebuah bidang studi yang mengklasifikasikan, mengkelaskan, mengelompokkan objek dengan ciri khas struktur formal yang sama dan kesamaan sifat dasar ke dalam tipe-tipe tertentu dengan cara memilah bentuk keragaman dan kesamaan jenis. Aspek klasifikasi dalam pengenalan tipologi mengarah pada usaha untuk mengklasifikasikan, mengkelaskan, mengelompokkan objek berdasarkan aspek-aspek/kaidah-kaidah tertentu. Aspek-aspek yang dapat diklasifikasikan dapat berupa fungsi, bentuk, maupun gaya. Tipologi merupakan ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan tipe. Arti kata ‘tipe’ sendiri berasal dari bahasa Yunani typos yang berarti ‘the root of…’, atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai ‘akar dari…’(Loekito, 1994). Moneo (1976) dalam Loekito (1994), secara konsepsional mendefinisikan tipologi sebagai sebuah konsep yang mendeskripsikan sebuah kelompok obyek atas dasar kesamaan karakter bentuk-bentuk dasarnya.

Amiuza (2006) dalam kajiannya mengatakan, tipologi merupakan suatu konsep mendeskripsikan kelompok objek berdasarkan atas kesamaan sifat-sifat dasar yang berusaha memilah atau mengklasifikasikan bentuk keragaman dan kesamaan jenis. Dalam hal ini, tipologi merupakan hasil elaborasi karakteristik arsitektur, yang tersusun dari berbagai unsur kultural lokal dan luar yang spesifik dalam suatu struktur klasifikasi, baik secara klasifikasi fungsi, geometrik, maupun langgam/gaya.

Secara umum, tipologi berlandaskan pada kemungkinan mengelompokkan beberapa objek, karena memiliki kesamaan dalam sifat-sifat dasarnya. Tipologi juga dapat diartikan sebagai sebuah tindakan berpikir dalam rangka pengelompokan (Loekito 1994). Pada awal mulanya, tipologi sering disalah artikan sebagai sebuh cara melakukan klasifikasi atas dasar kriteria ‘model’. Kata ‘tipe’ menggambarkan sesuatu yang bersifat spesifik, dan tidak dapat diulang, sedangkan kata ‘model’ berarti sesuatu yang ada atau hadir karena akan diulang (Loekito 1994).

Tipologi adalah studi tetang tipe. Tipe adalah kelompok dari objek yang dicirikan oleh struktur formal yang sama, sehingga tipologi dikatakan sebagai studi tentang pengelompokkan objek sebagai model melalui kesamaan struktur. Struktur formal yang dimaksud disini tidak hanya berupa istilah yang berkaitan dengan geometrik fisik semata, tetapi berkaitan dengan apa yang disebut sebagai ‘deeper geometry’, yaitu geometri yang tidak hanya sebatas pada perbandingan geometri matematis, akan tetapi berkaitan dengan realita mulai dari aktivitas sosial sampai dengan konstruksi bangunan. Struktur formal juga diartikan sebagai kaitan atau inter-relasi antar elemen (Sugini dalam Aplikawati 2006).

Tjahjono (1992) mengatakan bahwa studi tipologi dalam dunia arsitektur berarti studi dalam usaha pemilahan, klasifikasi, hingga dapat terungkap keragaman dan kesamaan dalam produk arsitektur yang satu dengan yang lainnya. Pada dasarnya, tipologi merupakan konsep yang mendeskripsikan kelompok objek atas dasar kesamaan sifat-sifat dasar. Menurut Sukada dalam Sulistijowati (1991), ada tiga tahapan yang harus ditempuh untuk menentukan suatu tipologi, yaitu sebagai berikut: 1. Menentukan bentuk-bentuk dasar yang ada dalam setiap objek arsitektural; 2. Menentukan sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh setiap objek arsitektural berdasarkan bentuk dasar yang ada dan melekat pada objek arsitektural tersebut; dan 3. Mempelajari proses perkembangan bentuk dasar tersebut sampai pada perwujudannya saat ini.

Habraken (1988) dalam Rusdi (1993) mengidentifikasikan tipologi arsitektur dalam sebuah parameter pola analisis yang berkaitan dengan Tipologi Galgeon, yang bertolak dari dasar perancangan arsitektur yang dipelopori oleh Vitruvius, parameter tersebut adalah: 1. Sistem Spasial, sistem ini berhubungan dengan pola ruang, orientasi, dan hierarkinya; 2. Sistem Fisik, sistem fisik dan kualitas figural berhubungan dengan wujud, pembatas ruang, dan karakter bahannya; dan 3. Sistem Stilistik, berhubungan dengan elemen atap, kolom, bukaan, dan ragam hias bangunan.

Tiga alasan pentingnya tipologi dalam arsitektur, yaitu antara lain (Aplikawati 2006:13): 1. Membantu proses analisis terhadap objek arsitektur yang sudah ada (dalam hal ini berfungsi sebagai penggambaran objek); 2. Berfungsi sebagai media komunikasi, dalam hal ini terkait dengan transfer pengetahuan; dan 3. Membantu kepentingan proses mendesain (membantu menciptakan produk baru). Tipologi arsitektur dibangun dalam bentuk arsip dari ”given tipes”, yaitu bentuk arsitektural yang disederhanakan menjadi bentuk geometrik. ”Given tipes” dapat berasal dari sejarah, tetapi dapat juga bersal dari hasil penemuan yang baru (Palasello dalam Sulistijowati 1991:13). Menurut Sulistijowati (1991:12), pengenalan tipologi akan mengarah pada upaya untuk ”mengkelaskan”, mengelompokkan atau mengklasifikasikan berdasar aspek atau kaidah tertentu. Aspek tersebut antara lain: 1. Fungsi (meliputi penggunaan ruang, struktural, simbolis, dan lain-lain); 2. Geometrik (meliputi bentuk, prinsip tatanan, dan lain-lain); dan 3. Langgam (meliputi periode, lokasi atau geografi, politik atau kekuasaan, etnik dan budaya, dan lain-lain).


Tinjauan Kebudayaan

Menurut Tutuko (2003), terdapat tiga ciri utama yang harus diperhatikan dalam memahami struktur ruang lingkup sosial kota kolonial, yaitu budaya, teknologi, dan struktur kekuasaan kolonial. Arsitektur rumah tinggal merupakan hasil dari kebudayaan. Hidayatun (2004) menjelaskan bahwa, agama, sosial-budaya, ekonomi, dan politik, serta lingkungan dan iklim memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap bentuk-bentuk arsitektur yang terjadi pada masa dan tempat tertentu. Kemudian Kartono (2004) menambahkan bahwa sistem budaya, sistem sosial, dan sistem teknologi dapat mempengaruhi wujud arsitektur.

Kebudayaan selalu senafas dengan jamannya. Ekspresi budaya berupa ilmu pengetahuan dan seni akan ditentukan oleh patron utama, yaitu ‘penguasa’ (Widagdo 2005). Kebudayaan akan mempengaruhi segala sistem kehidupan. Rapoport (1963), menegaskan pendapatnya bahwa kebudayaan akan mempengaruhi artefak, namun artefak tidak akan dapat mempengaruhi kebudayaan itu sendiri. Proses akulturasi akan timbul apabila kebudayaan bertemu dengan kebudayaan lainnya, sehingga kebudayaan lain itu lambat laun akan diterima dan diolah, tanpa menghilangkan ataupun mengalahkan dari salah satunya (Koentjaraningrat 1996 dalam Rukmi et al. 2003). Widagdo (2005) mengatakan, kebudayaan adalah sistem dan nilai-nilai sosial, politik, ekonomi, yang dipengaruhi oleh religi, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Pendapat lain diutarakan oleh Mangunwijaya (1992), bahwa kebudayaan berkaitan erat dengan pemikiran dan falsafah hidup. Kebudayaan menyangkut segala aspek kehidupan, baik itu religi, sistem dan fungsi sosial dan kesemuanya akan berpengaruh terhadap perkembangan arsitektur.

Bangunan kolonial Belanda juga merupakan bangunan yang tercipta dari kebudayaan bangsa Belanda, baik secara murni, maupun yang sudah dipadukan dengan budaya tradisional, dan kondisi lingkungan sekitar. Bangunan kolonial memiliki makna dan simbol-simbol yang dapat dilihat dari fungsi, bentuk, maupun gaya arsitekturnya. Elemen-elemen penyusun bangunan merupakan sebuah simbol yang memiliki makna tersendiri, dan dapat dipahami dan dipelajari melalui kajian arsitektural. Pada akhirnya pendapat Suptandar (2001) memperjelas bahwa, orang-orang Belanda, pemilik perkebunan, golongan priyayi, dan penduduk pribumi yang telah mencapai pendidikan tinggi merupakan masyarakat papan atas pada saat itu. Mereka ikut serta dalam penyebaran kebudayaan indis, lewat gaya hidup yang serba mewah. Pemerintah Kolonial Belanda menjadikan Arsitektur Indis sebagai standar dalam pembangunan gedung-gedung, baik milik pemerintah maupun swasta. Bentuk tersebut ditiru oleh mereka yang berkecukupan, terutama para pedagang dari etnis tertentu, dengan harapan agar memperoleh kesan pada status sosial yang sama dengan para penguasa dan priyayi.


Bentuk dalam Arsitektur

Sebuah bangunan dibentuk dari bentukan-bentukan dasar geometri, dan pada umumnya menampilkan sebuah tingkatan hierarki dan biasanya penyusunan komposisi yang jelas dan terpusat menurut sistem geometri.

Nix (1953) dalam Pamungkas (2002), bentuk ditentukan oleh adanya hubungan campur tangan dan kegiatan manusia, dan mengenai penentuan secara langsung maupun tidak langsung, tergantung kepada apa-apa saja yang di dalam pemberian bentuk ditentukan secara primer dan kemudian apa yang timbul karena kegiatan primer tersebut. Penentuan bentuk dapat meningkat lebih jauh, yaitu berasal dari massa, lewat ukuran menuju ke suatu hal yang ditentukan. Objek menjadi lebih mudah untuk dikenali dan diidentifikasikan, dapat diuraikan dan memiliki sesuatu yang dapat diukur, diamati, dan dihitung, baik yang bersifat mendatar, maupun yang bersifat berdiri.

Handinoto dalam Wiyatiningsih (2000), penyesuaian bentuk bangunan indis terhadap kondisi iklim tropis basah digambarkan dengan ciri-ciri pokok bentuk plafon tinggi, overstek yang cukup lebar, adanya beranda-beranda yang cukup dalam, baik di depan atau di belakang rumah. Plafon yang tinggi akan mempunyai volume ruang yang lebih besar, sehingga kemungkinan terjadi panas dalam ruangan akibat radiasi dapat diperkecil. Overstek yang cukup lebar dapat dipakai untuk menahan tampias air hujan, dan juga untuk pembayangan terhadap tembok yang terkena sinar matahari langsung. Beranda depan dan belakang merupakan adaptasi terhadap arsitektur tradisional Jawa.

Pada awal abad ke-19 sampai dengan tahun 1920-an, arsitektur kolonial Belanda berkembang di Indonesia, banyak pengaruh Eropa dan terjadi percampuran bentuk Arsitektur Barat dan tradisional, termasuk pada penggunaan elemen bangunan dan detail ragam hiasnya pada seni bangunan (Trianingrum 2006:14).

Bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900-an merupakan bentuk yang spesifik. Bentuk tersebut merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda pada jaman yang bersamaan dengan iklim tropis basah Indonesia. Ada juga beberapa bangunan arsitektur kolonial Belanda yang mengambil elemen-elemen tradisional setempat, yang kemudian diterapkan ke dalam bentuk arsitekturnya. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia tersebut adalah suatu bentuk yang khas yang berlainan dengan arsitektur modern yang ada di Belanda sendiri (Trianingrum 2006:24).


Wajah/Muka Bangunan

Selubung bangunan merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan ciri dari suatu bentukan kolonial. Ciri bangunan yang dapat terlihat dari wajah bangunan atau selubung bangunan adalah bentuk atap, ornamen atau ragam hias, dan juga elemen-elemen penyusun wajah bangunan lainnya seperti bukaan dan dinding bangunan (Suryokusumo 2006). Selubung bangunan tersebut tentunya mengalami adaptasi dengan iklim, karena faktor tersebut berhubungan langsung dengan penghawaan dan pencahayaan pada bangunan yang menentukan kenyamanan penghuni bangunan.

Dalam pandangan Krier (2001), wajah bangunan menyampaikan keadaan budaya saat bangunan tersebut dibangun, wajah bangunan mengungkap kriteria tatanan dan penataan, dan berjasa dalam memberikan kemungkinan dan kreativitas dalam ornamentasi dan dekorasi. Krier (2001) mempertegas pendapatnya, bahwa muka bangunan merupakan wajah bangunan yang memamerkan keberadaan sebuah bangunan kepada publik. Muka bangunan dibentuk oleh dimensi, komposisi, serta ragam hias. Komposisi muka bangunan mempertimbangkan persyaratan fungsional pada dasarnya berkaitan dengan kesatuan proporsi yang baik, harmonis, dan selaras, penyusunan elemen horizontal dan vertikal yang terstruktur, bahan, warna, dan elemen dekoratif lainnya. Hal lainnya tidak kalah penting untuk mendapatkan perhatian lebih adalah proporsi bukaan, ketinggian bangunan, prinsip perulangan, keseimbangan komposisi yang baik, serta tema yang tercakup ke dalam variasi.

Selanjutnya menurut Krier (2001), wajah bangunan juga menceritakan dan mencerminkan kepribadian penghuni bangunannya, memberikan semacam identits kolektif sebagai suatu komunitas bagi mereka, dan pada puncaknya merupakan representasi komunitas tersebut dalam publik. Aspek penting dalam wajah bangunan adalah pembuatan semacam pembedaan antara elemen horizontal dan vertikal, dimana proporsi elemen tersebut harus sesuai terhadap keseluruhannya. Setelah prinsip penyusunan wajah bangunan ini, kondisi konstruksi dapat dibuat terlihat, misalnya artikulasi vertikal pada tiang sebagai penyangga. Penggunaan elemen-elemen naratif seperti balok jendela untuk mempertegas independensi jendela, teritisan yang menghasilkan bayangan, bahan-bahan yang menonjolkan massa juga dapat digunakan (Krier,2001). Pendapat Lippsmeier (1980:74-90) mempertegas lagi mengenai elemen wajah bangunan dari sebuah bangunan yang sekaligus merupakan komponen-komponen yang mempengaruhi wajah bangunan adalah: 1. Atap; 2. Dinding; dan 3. Lantai.

Elemen-elemen pendukung wajah bangunan menurut Krier (2001), antara lain adalah sebagai berikut: 1. Pintu, pintu memainkan peranan penting dan sangat menentukan dalam menghasilkan arah dan makna yang tepat pada suatu ruang. Ukuran umum pintu yang biasa digunakan adalah perbandingan proporsi 1:2 atau 1:3. ukuran pintu selalu memiliki makna yang berbeda, misalnya pintu berukuran pendek, digunakan sebagai entrance ke dalam ruangan yang lebih privat. Skala manusia tidak selalu menjadi patokan untuk menentukan ukuran sebuah pintu. Contohnya pada sebuah bangunan monumental, biasanya ukuran dari pintu dan bukaan lainnya disesuaikan dengan proporsi kawasan sekitarnya. Posisi pintu ditentukan oleh fungsi ruangan atau bangunan, bahkan pada batasan-batasan fungsional yang rumit, yang memiliki keharmonisan geometris dengan ruang tersebut. Proporsi tinggi pintu dan ambang datar pintu terhadap bidang-bidang sisa pada sisi-sisi lubang pintu adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Sebagai suatu aturan, pengaplikasian sistem proporsi yang menentukan denah lantai dasar dan tinggi sebuah bangunan, juga terhadap elemen-elemen pintu dan jendela. Alternatif lainnya adalah dengan membuat relung-relung pada dinding atau konsentrasi suatu kelompok bukaan seperti pintu dan jendela; 2. Jendela, jendela dapat membuat orang yang berada di luar bangunan dapat membayangkan keindahan ruangan-ruangan dibaliknya, begitu pula sebaliknya. Albert (tt) dalam Krier (2001), mengungkapkannya sebagai berikut: “...dari sisi manapun kita memasukkan cahaya, kita wajib membuat bukaan untuknya, yang selalu memberikan kita pandangan ke langit yang bebas, dan puncak bukaan tersebut tidak boleh terlalu rendah, karena kita harus melihat cahaya dengan mata kita, dan bukanlah dengan tumit kita: selain ketidaknyamanannya, yaitu jika seseorang berada di antara sesuatu dan jendela, cahaya akan terperangkap, dan seluruh bagian dari sisa ruangan akan gelap...” Pada beberapa masa, valuasi dan makna dari tingkat-tingkat tertentu diaplikasikan pada rancangan jendelanya. Susunan pada bangunan-bangunan ini mewakili kondisi-kondisi sosial, karena masing-masing tingkat dihuni oleh anggota dari kelas sosial yang berbeda.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan jendela pada wajah bangunan, antara lain adalah sebagai berikut: - Proporsi geometris wajah bangunan; - Penataan komposisi, yaitu dengan pembuatan zona wajah bangunan yang terencana; - Memperhatikan keharmonisan proporsi geometri; - Jendela memberikan distribusi pada wajah bangunan, oleh karena itu, salah satu efek atau elemen tertentu tidak dapat dihilangkan atau bahkan dihilangkan; dan - Jendela dapat bergabung dalam kelompok-kelompok kecil atau membagi wajah bangunan dengan elemen-elemen yang hampir terpisah dan membentuk simbol atau makna tertentu; 3. Dinding, keberadaan jendela memang menjadi salah satu unsur penting dalam pembentukan wajah bangunan bangunan, akan tetapi dinding juga memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya dengan jendela, dalam pembentukan wajah bangunan. Penataan dinding juga dapat diperlakukan sebagai bagian dari seni pahat sebuah bangunan, bagian khusus dari bangunan dapat ditonjolkan dengan pengolahan dinding yang unik, yang bisa didapatkan dari pemilihan bahan, ataupun cara finishing dari dinding itu sendiri, seperti warna cat, tekstur, dan juga tekniknya. Permainan kedalaman dinding juga dapat digunakan sebagai alat untuk menonjolkan wajah bangunan; 4. Atap, jenis atap ada bermacam-macam. Jenis yang sering dijumpai saat ini adalah atap datar yang terbuat dari beton cor dan atap miring berbentuk perisai ataupun pelana. Secara umum, atap adalah ruang yang tidak jelas, yang paling sering dikorbankan untuk tujuan eksploitasi volume bangunan. Atap merupakan mahkota bagi bangunan yang disangga oleh kaki dan tubuh bangunan, bukti dan fungsinya sebagai perwujudan kebanggaan dan martabat dari bangunan itu sendiri.

Secara visual, atap merupakan sebuah akhiran dari wajah bangunan, yang seringkali disisipi dengan loteng, sehingga atap bergerak mundur dari pandangan mata manusia. Perlunya bagian ini diperlakukan dari segi fungsi dan bentuk, berasal dari kenyataan bangunan memiliki bagian bawah (alas) yang menyuarakan hubungan dengan bumi, dan bagian atas yang memberitahu batas bangunan berakhir dalam konteks vertikal; dan 5. Sun Shading/Luifel, wajah bangunan memerlukan perlindungan dari cuaca dan iklim, oleh karena itu perlu adanya penggunaan ornamen atau bentukan-bentukan yang dapat melindungi wajah bangunan dari kedua faktor tersebut. Ornamen tersebut dapat berupa sun shading yang biasanya diletakkan di bagian atas wajah dan bukaan-bukaan yang ada pada wajah bangunan. Sun shading juga dapat menimbulkan efek berupa bayangan pada wajah bangunan yang dapat menjadikan wajah bangunan terlihat lebih indah.

Elemen lainnya yang dapat digunakan sebagai pendukung wajah bangunan kolonial Belanda adalah: 1. Gable/gevel, berada pada bagian tampak bangunan, berbentuk segitiga yang mengikuti bentukan atap. Bisa juga diartikan sebagai bagian wajah bangunan yang berbentuk segitiga yang terletak pada dinding samping di bawah condongan atap; 2. Tower/Menara, variasi bentuknya beragam, mulai dari bulat, kotak atau segi empat ramping, segi enam, atau bentuk-bentuk geometris lainnya, dan ada juga yang dipadukan dengan gevel depan; 3. Dormer/Cerobong asap semu, berfungsi untuk penghawaan dan pencahayaan. Di tempat asalnya, Belanda, dormer biasanya menjulang tinggi dan digunakan sebagai ruang atau cerobong asap untuk perapian. Biasanya diwujudkan dalam bentuk hiasan batu yang diberi ornamen berbentuk bunga atau sulur-suluran; 4. Tympannon/Tadah angin, merupakan lambang masa prakristen yang diwujudkan dalam bentuk pohon hayat, kepala kuda, atau roda matahari. Lambang masa kristen diwujudkan pada penggunaan bentukan-bentukan salib dan hati; 5. Ballustrade, ballustrade adalah pagar yang biasanya terbuat dari beton cor yang digunakan sebagai pagar pembatas balkon, atau dek bangunan; 6. Bouvenlicht/Lubang ventilasi, bouvenlicht adalah bukaan pada bagian wajah bangunan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan kenyamanan termal. Bouvenlicht tidak tergantung dari keadaan cuaca, berkaitan fungsinya dengan kesehatan, akan tetapi apabila dikaitkan dengan kenyamanan termal, maka bouvenlicht sangat bergantung pada kondisi cuaca. Bouvenlicht berfungsi untuk mengalirkan udara dari luar ke dalam bangunan, dan sebaliknya, oleh karena itu, ukuran dari bouvenlicht harus disesuaikan dengan kondisi cuaca. Dalam penggunaannya, dapat diusahakan agar bouvenlicht terhindar dari sinar matahari secara langsung; 7. Windwijzer (Penunjuk angin), merupakan ornamen yang diletakkan di atas nok atap. Ornamen ini berfungsi sebagai penunjuk arah angin; 8. Nok Acroterie (Hiasan puncak atap), terletak di bagian puncak atap. Ornamen ini dulunya dipakai pada rumah-rumah petani di Belanda, dan terbuat dari daun alang-alang. Di Indonesia, ornamen ini dibuat dari bahan beton atau semen; 9. Geveltoppen (Hiasan kemuncak atap depan); - Voorschot, berbentuk segitiga dan terletak di bagian depan rumah. Biasanya dihias dengan papan kayu yang dipasang vertikal, dan memiliki makna simbolik; - Oelebord/oelenbret, berupa papan kayu berukir, digambarkan sebagai dua angsa yang bertolak belakang yang bermakna pembawa sinar terang atau pemilik wilayah. Selain angsa, pada bangunan indis seringkali simbol angsa digantikan bentuk pohon kalpa; dan - Makelaar, papan kayu berukir yang ditempel secara vertikal, dan diwujudkan seperti pohon palem atau manusia; dan 10. Ragam hias pada tubuh bangunan, biasanya berupa:- Hiasan/ornamen ikal sulur tumbuhan yang berujung tanduk kambing; - Hiasan pada lubang angin diatas pintu dan jendela; dan – Kolom, ada tiga jenis kolom yang terkenal pada bangunan kolonial, yaitu kolom doric, ionic, dan cornithian. Kolom-kolom ini banyak ditemukan pada bangunan kolonial klasik dengan gaya Yunani atau Romawi. Kolom biasanya diekspose sedemikian rupa, terutama pada bagian serambi bangunan kolonial.

Dikatakan oleh Hadipradianto (2004) bahwa kriteria penataan wajah bangunan antara lain mencakup: 1. Prinsip-prinsip komposisi; 2. Penyelesaian akhir (material, warna, tekstur); 3. Proporsi arsitektural (perbandingan bukaan masif, unsur vertikal-horisontal, keterkaitan visual antar elemen); dan 4. Pemakaian elemen dekoratif. Penataan wajah bangunan dapat diwujudkan dengan mengkaji skala massa. Kemudian Hadipradianto (2004) menegaskan kembali bahwa untuk mendapatkan kesan menyatu, ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam menyusun bentukan wajah bangunan, yaitu antara lain: 1. Dominasi; 2. Perulangan; dan 3. Komposisi.


Daftar Pustaka

Akihary, H. 1990. Architecture & Stedebouw in Indonesie 1870/1970. Amsterdam: De Walburg Pers

Amiuza, C. 2006. Tipologi Rumah Tinggal Administratur P.G. Kebon Agung di Kabupaten Malang. Jurnal RUAS. IV (1): 1-22.

Anisa. 2006. Tipologi Fasad Rumah Kolonial Belanda di Kota Lama Kudus/ Kudus Kulon’. Jurnal NALARs. 5 (2):161-174.

Hadipradianto, T. 2004. Studi Penataan Fasade Bangunan Pertokoan di Kawasan Pusat Perdagangan. Jurnal RUAS. 2 (2):

Handinoto & Soehargo. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang. Yogyakarta: Penerbit ANDI dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Kristen Petra Surabaya

Karizstia, A. D. 2008. Tipologi Fasade Rumah Tinggal Kolonial Belanda di Kayu Tangan, Malang. Malang: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Krier, R. 2001. Architectural Compotition. London: Academy Edition

Kusmiati, Artini. 2004. “Dimensi Estetika pada Karya Arsitektur & Desain”. Jakarta: Djembatan

Lippsmeier, G. 1980. Bangunan Tropis (Edisi ke-2). Jakarta: Erlangga

Loekito, J. 1994. Studi Tentang Tipologi Tampak Rumah Tinggal di Kampung Surabaya pada Periode Sebelum Tahun 1942. Laporan Penelitian. Tidak dipublikasikan. Surabaya: Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra,

Mangunwijaya, Y. B.1992.Wastu Citra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Nix, T. 1958. Stedebouw in Indonesie en de Stedebouwkundige Vormgeving, Nix, Bandung.

Pamungkas, S. T. & Tjahjono, Rusdi. (2002). Tipologi-tipologi-Morfologi Arsitektur Kolonial Bealanda di Komples PG. Kebon Agung Malang. Malang: Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Rapoport, A. (1969) House, Form, and Culture. New Jersey: Prentice-Hall

Soekiman, D. 2000. Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakt Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII-Medio Abad XX). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Sukada, B. 1997. Memahami Arsitektur Tradisional dengan Pendekatan Tipologi, dalam Jati Diri Arsitektur Indonesia. Disunting oleh Eko Budihardjo. Bandung: P.T. Alumni.

Sulistijowati. 1991. Tipologi Arsitektur Pada Rumah Kolonial Surabaya (Studi Kasus: Perumahan Plampitan dan sekitarnya). Laporan Penelitian. Tidak dipublikasikan. Surabaya: Fakultas Teknik dan Perencanaan ITS.

Sumalyo, Yulianto. 2003. Arsitektur Klasik Eropa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tjahjono, R. (1992). Studi Karakteristik Arsitektural Pada Hunian Masyarakat Berbahasa Madura di Malang Selatan (Studi Kasus: Desa Ganjaran, Gondanglegi). Laporan Penelitian. Malang: Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya.

Tutuko, Pindo. (2003). Ciri Khas Arsitektur Rumah Tinggal Belanda (Studi Kasus: Rumah Tinggal di Pasuruan), Jurnal Arsitektur Mintakat. 2 (1):

Widagdo. (2005). Desain dan Kebudayaan. Bandung: Penerbit ITB

Wiyatiningsih. 2000. Kajian Karakteristik Arsitektural Bangunan Peninggalan Masa Kolonial Belanda di bintaran Yogya. Thesis. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Jurusan Teknik Arsitektur UGM.

Copyright © 2010 by Antariksa


2 comments:

agus ruas said...

thnx ya...tulisan pak...

PutuNathaPrimadewi said...

yth. antariksa
bisa di share sumber teori tipologi habraken dalam Rusdi?
terimakasih