Translate

Saturday, 10 April 2010

Tipologi Ragam Hias Bangunan/Ornamen dalam Arsitektur Kolonial Belanda

Antariksa

Ragam Hias/Ornamen
Marcus Vitruvius dalam Soekiman (2000) berpendapat, ada 3 unsur yang merupakan faktor dasar dalam arsitektur, yaitu kenyamanan (convenience), kekuatan atau kekokohan (strength), dan keindahan (beauty). Ketiga faktor ini yang mengkategorikan arsitektur dalam suatu “karya seni” yang kompleks yang menggabungkan antara teknik dan rasa (sense). Arsitektur dapat dikatakan sebagai perpaduan suatu karya seni dan pengetahuan tentang bangunan, keindahan, dan teknologi konstruksi. Salah satu faktor yang berkaitan dengan keindahan bangunan adalah ragam hias yang penggunaannya sangat berkaitan dengan unsur estetis yang dapat memperindah sekaligus menampilkan karakter suatu bangunan (Amiuza 2006).
Toekio (1987) mengatakan bahwa, dekoratif adalah suatu kata sifat dari kata dekoratif (decorate, decoration), yaitu suatu aktifitas atau kegiatan yang berkaitan dengan ornamen atau ragam hias. Kelompok ini cenderung memiliki ciri-ciri yang berkisar kepada isian untuk menghias (artificial form). Ragam hias dekoratif mengimbangi selera pemakai. Menurut Mistaram (1991), secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata ”ornere” yang berarti kerja menghias, dan ornamentum berarti karya yang dihasilkan, yaitu hiasan. Menurut Toekio (1987:10), ornamen adalah ragam hias untuk suatu benda, pada dasarnya merupakan suatu pedandan atau kemolekan yang dipadukan. Ragam hias berperan sebagai media untuk mempercantik atau mengagungkan suatu karya. Dekoratif dan ornamen tidak saja menghadirkan estetika kultural dan historikal tetapi dapat pula terbentuk melalui permukaan atap, permukaan dinding, ataupun permukaan langit-langit. Ornamen dan dekoratif mempunyai perlambang atau simbolik dan sekaligus pembentukan jati diri (Baidlowi & Daniyanto 2003:39).
Ragam hias hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai media ungkapan perasaan yang diwujudkan dalam bentuk visual. Faktor estetis merupakan unsur penting dalam sebuah bangunan oleh Habraken dengan pola analisis yang berkaitan dengan tipologi Golgogen yang bertolak dari pemikiran Vitruvius, salah satunya adalah sistem stilistik. Sistem stilistik berhubungan dengan elemen atap, kolom, bukaan, dan ragam hias (Tjahjono 1992). Suatu barang atau benda hasil karya seni rupa dapat dikatakan sempurna bilamana memenuhi kegunaannya, keindahan, kesesuaian akan ’warna’ dan ’bahannya’.... (Soekiman 2000).
Elemen hias pada bangunan berupa ornamen terbagi dalam dua kelompok, yaitu konstruksional dan komplementer. Hiasan konstruksional adalah hiasan yang tidak dapat dilepaskan dari bangunan, sedangkan hiasan komplementer dapat dilepaskan tanpa memberi pengaruh apapun (Kusmiati 2004). Pemakaian ornamen dalam bangunan memegang peranan yang sangat besar. Ornamen membantu kesan ekspresi alami pada bangunan. Ornamen timbul karena diilhami dua faktor, yaitu emosi dan teknik. Faktor emosi adalah hasil cipta yang didapat dari kepercayaan, agama, dan magis. Faktor teknik dalam ornamen berhubungan dengan dari material apa benda itu dibuat dan bagaimana membuatnya (Soekiman 2000).
Karya tidak hanya mengetengahkan ornamen atau ragam hias, namun banyak pula yang sengaja dibuat dengan raut atau perupaan sejenis. Menurut sifatnya, tidak dapat berdiri sendiri artinya lepas dari sesuatu yang pokok yang dilengkapinya terutama dari bahan yang dipakai, karena untuk keindahan saja; memberi penekanan atau kekhasan; menjadi pesyaratan; merupakan pertanda atau simbol; dibuat khusus sesuai dengan benda utamanya; dapat mengikat atau menjenis; dan sebagai bagian dari kekaryaan. Keragaman karya baik berupa cuplikan, gubahan khusus berupa barang, atau hanya sekedar tempelan dan duplikasi (Toekio 2002).
Menurut beberapa pengertian di atas, definisi ragam hias adalah sebuah hiasan yang diterapkan dengan tujuan untuk menghias sesuatu agar menjadi indah. Ornamen pada bangunan dapat berupa melekat pada bangunan baik pada bagian struktural maupun non struktural berupa obyek itu sendiri atau hanya di permukaan saja. Karakter ragam hias dapat dilihat dari motif atau bentuk, pola, warna dan bahan ragam hias yang dipergunakan untuk memperindah suatu bangunan. Sifat ragam hias dapat hanya berupa sebagai tambahan baik untuk eksterior maupun interior bangunan.
Bentuk dapat dihubungkan pada penampilan luar yang dapat dikenali. Bentuk memiliki ciri-ciri visual, seperti wujud, dimensi, warna, dan tekstur. Manusia secara naluriah akan menyederhanakan lingkungan visualnya termasuk komposisi bentuk ke arah bentuk-bentuk paling sederhana dan teratur untuk memudahan diterima dan dimengerti. Wujud-wujud dasar, yaitu lingkaran, segitiga, dan bujur sangkar (Ching 2000).
Karakter ragam hias akan dijabarkan untuk memudahkan pendeskripsian ragam hias yang terdapat pada bangunan rumah tinggal, yaitu sebagai berikut:
1. Klasifikasi Ragam Hias. Menurut pendapat Van Der Hoop (1949:46), variasi dan corak ragam hias memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perwujudan motif ragam hias menjadi beranekaragam. Penggolongan ragam hias menurut Van Deer Hoop (1949:15), dapat diuraikan sebagai berikut: a. Ragam hias ilmu ukur atau geometris; dan b. Ragam hias naturalis atau non geometris, berupa ragam hias bentuk manusia, hewan, tumbuahan, bunga, benda alam termasuk bentuk stilasinya. Kemudian Toekio (1987:67), mengklasifikasikan ragam hias secara umum menjadi: Kelompok I, yaitu merupakan ragam hias bentuk geometris. Menurut penempatan motifnya, yaitu sebagai berikut: - Motif pinggiran, biasanya mengelilingi bentuk isian dengan perulangan berbagai macam komposisi bentuk; dan - Motif isian, berada di tengah atau pada semua bidang. Ragam hias geometris banyak memberikan kebebasan yang cederung mempengaruhi bentuk dan nilai suatu benda secara visual melalui unsur-unsur pokok yang digunakan. Kelompok II, merupakan ragam hias yang tergolong dalam bentuk penggayaan dari tumbuh-tumbuhan, termasuk stilasinya. Kelompok III, merupakan kelompok ragam hias yang tergolong dalam bentuk penggambaran makhluk hidup, yaitu hewan dan manusia, termasuk stilasinya. Kelompok IV, merupakan kelompok ragam hias dekoratif dan gabungan dari beberapa jenis tersebut di atas.
2. Motif dan pola ragam hias, terdiri dari: a. Motif ragam hias, ragam hias atau ornamen itu sendiri terdiri dari berbagai motif-motif yang digunakan sebagai penghias sesuatu yang ingin dihiasi. Motif adalah dasar untuk menghias ornamen. Motif pada ragam hias selalu mengalami perkembangan dari motif dengan bentuk sederhana kemudian berkembang ke arah naturalis (misalnya, tumbuhan berupa suluran), hingga berkembang menjadi bentuk geometris dan abstrak. Macam-macam motif ragam hias, berupa: - Motif berbentuk alami, prinsip dasarnya mengambil dari bentuk lingkungan sekitar atau dari alam. Contohnya bentuk-bentuk dari flora dan fauna; - Motif berbentuk stilasi, bentuk stilasi adalah hasil gubahan dari bentuk alami sehingga hanya berupa sarinya (esensinya) saja dan menjadi bentuk baru yang kadang-kadang hampir kehilangan ciri-ciri alaminya sama sekali. Stilasi, adalah gambar yang dibuat dengan cara mengubah atau menyederhanakan bentuk aslinya menjadi gambar yang dikehendaki (Sipaheleleut & Petrussumadi 1991:51-60). Menurut Soepratno (2000), gambar stilasi dibuat dengan cara mengubah atau menyederhanakan bentuk aslinya menjadi bentuk gambar lain yang dikehendaki. Bentuk-bentuk ukiran yang dibuat dari hasil stilasi bentuk alami tersebut dimasukkan sebagai hiasan dengan gaya dan irama sendiri. Bentuk-bentuk ukiran yang dibuat dari hasil stilasi bentuk alami tersebut dimasukkan sebgai hiasan dengan gaya dan irama sendiri. Ragam hias dengan motif stilasi banyak ditemukan pada bangunan seperti bentuk sulur-suluran. Motif ini merupakan contoh hasil stilasi dari unsur alam yang berupa relung-relung tanaman seperti pakis atau paku-pakuan; - Motif bentuk geometris, bentuk-bentuk geometris yang biasanya digunakan sebagai motif hiasan adalah bentuk-bentuk geomtrik yang berdimensi dua antara lain bentuk bulat, segi empat, segilima, belah ketupat, setengah lingkaran, dan sebagainya; dan - Motif bebas, motif bebas adalah motif bentuk hiasan yang tidak termasuk ke dalam ketiga motif di atas. Motif bentuk alami, stilasi, dan geometrik pada umumnya sering dinilai sebgai motif konvensional, sedangkan motif bebas lebih sering dinilai dengan motif “modern” (Sipahelelut & Petrussumadi 1991: 51-60); dan b. Pola ragam hias menurut Sipahelelut & Petrussumadi (1991: 51-60), konsep tata letak motif pada bidang atau ruangan yang dihias, hasilnya akan tampak mempunyai arah atau mengesakan arah yang jelas sehingga terbentuk menjadi sebuah pola. Motif ragam hias dapat membentuk pola hiasan yang biasa digunakan sebagai berikut: 1. Pola lajur tepi, merupakan pola yang biasanya digunakan dalam menghias bagian tepi benda atau ruangan. Perulangan motif yang membentuk untaian lurus atau berombak sesuai dengan arah bentuk motifnya. Pola lajur tepi dapat diterapkan secara bergantung, memanjat, dan berjalan; 2. Pola pojok, pola pojok merupakan pedoman penempatan motif hiasan pada bagian pojok atau sudut benda atau ruangan yang bertujuan untuk menghidupkan pojok atau sudut benda yang dihias; 3. Pola memusat, pola memusat (sentra), ialah pola penempatan motif hiasan yang mengarah ke bagian benda atau ruangan yang dijadikan titik pusat; 4. Pola memancar, pola memancar adalah konsep penempatan motif hiasan yang bertolak dari fokus yang mengarah ke luar. Pola memancar memberi kesan arah dari titik pusat memancar keluar. Benda yang diberi hiasan yang berpola memancar akan memberi kesan membesar sedangkan pola memusat akan memberi kesan menyusut atau mengecil; 5. Pola bidang beraturan, pola bidang beraturan adalah konsep penempatan motif hiasan yang sebelum menempatkan motif-motif hiasannya terlebih dahulu perlu dibuat pola bidang beraturan yang sudah diukur sebelumnya. Hiasan semacam ini akan memberikan kesan rapi, cermat dan normal. Bentuk motif hiasannya diulang-ulang secara teratur dan cermat mengikuti pola beraturan tertentu. Adapun pola-pola bidang beraturan yang biasa digunakan adalah lingkaran, bujursangkar, segi tiga, segi empat, segi lima, segi enam, segi delapan dan bulat lonjong; 6. Pola komposisi, komposisi adalah susunan unsur-unsur dalam suatu karya yang memancarkan kesatupaduan, irama dan keseimbangan (Sipahelelut & Petrussumadi 1991:70). Bentuk-bentuk pola komposisi adalah sebagai berikut: - Pola simetri, menggambarkan dua bagian yang sama dalam sebuah susunan. Komposisi berpola simetri meletakkan fokusnnya di tengah dan meletakkan unsur-unsurnya di bagian kiri sama dengan yang di bagian kanan, ibarat pinang dibelah dua. Penempatan pola diletakkan di bagian kiri dan bagian kanan apabila terdapat dua focus dalam komposisi simetri. Penempatan demikian memberikan kesan bagian kiri dan kanan sama kuat. Komposisi simetri memberikan kesan formal, beraturan, dan statis; - Pola asimetri, komposisi asimetri meletakkan focusnya tidak di tengah-tengah dan paduan unsur-unsur di bagian kiri berbeda dengan bagian kanan tetapi memancarkan keseimbangan. Komposisi asimetri memberikan kesan keteraturan yang bervariasi, tidak formal, dan lebih dinamis; - Pola bebas, komposisi pola bebas meletakkan fokus dan unsur-unsurnya secara bebas tetapi tetap memelihara keseimbangan dibandingkan dengan pola asimetri. Kesan keteraturan dan formal sama sekali tidak terasa pada pola bebas, walaupun demikian kecermatan dan ketelitian dalam membentuk irama dan keseimbangan menjadikan komposisi berpola bebas ini tampak terasa lebih hidup; dan 7. Pola ulang, terdiri dari:- Bentuk pola ulang dengan susunan maupun ukuran yang dibuat tanap pembubuhan bentuk lain dan berdiri sendiri (pola ulang tunggal-pattern); - Bentuk pola ulang yang tiap bagian meruapakan suatu kelompok dan merupakan himpunan untuk pola ulang, dapat terdiri dari beberap bentuk atau unsure; dan - Bentuk pola ulang yang meruapakn cara pengulangan bereproduksi dari ragam hias dengan kobinasi-kombinasi ulangan. Proses bentuk pengulangan, yaitu antara lain: - Proses pengulangan sejajar baik vertikal atau horizontal. Bentuk-bentuk dibuat dan disusun dalam kedudukan yang serupa dan jarak yang sama; dan - Proses pengulangan bersifat tumpang atau berpotongan.
3. Bahan dan warna material ragam hias
Bahan yang digunakan untuk ragam hias dapat memberikan karakter yang berbeda terhadap tampilan ragam hias. Bahan-bahan yang digunakan untuk ragam hias adalah: a. Keramik, produk dari tanah liat yang dibakar hingga menjadi keras. Hiasan keramik merupakan gambaran-gamabran timbul yang digoreskan dengan jari tangan dan diberi berbagai warna; b. Kayu, tersusun dari serabut dan pembuluh kayu. Jenis kayu yang digunakan memberikan karakter yang berbeda karena memiliki jenis serat yang berbeda; c. Marmer, merupakan batuan malihan (metaform) yang berasal dari batu gamping dan dipakai dalam arsitektur atau seni pahat; d. Semen Portland, pertama kali ditemukan oleh James Parker tahun 1796 dengan memanaskan tanah liat dan batu kapur; e. Besi, unsur logam yang berwarna hitam mengkilat, bentuknya padat, dan mudah dibentuk setelah dipanaskan pada suhu 1.530ÂșC; f. Kaca, bersifat cair dengan kepekatan tinggi. Kaca dibuat dari silika, yaitu campuran batu pasir fluks dan stabilisator. Jenis kaca ada dua macam, yaitu kaca sodalisme dan kaca barosilikat. Kaca banyak digunakan pada rumah sebagai hiasan pada jendela dan pintu karena mempunyai karakter yang licin, tembus pandang, dan mudah dibentuk; g. Cat, cat adalah cairan berwarna yang dioleskan pada permukaan benda dan setelah kering akan menjadi selaput yang memberikan keindahan dan perlindungan. Cat tersusun dari bahan resin atau zat pengikat, zat pelarut, dan pigmen pemberi warna, serta utuk jenis tertentu terdapat bahan penyusun tambahan; dan h. Timah, merupakan bahan yang penting dalam pembuatan campuran plat besi atau baja dan sering dimanfaatkan untuk membuat stained glass. Timah mempunyai karakter berwarna putih keabu-abuan, tidak mudah berkarat, tidak mudah bereaksi dengan bahan kimia yang lain.
Kajian tentang motif, pola, warna dan bahan ragam hias sebagai bagian dari bangunan dapat memberikan pengetahuan tentang karakter ragam hias yang digunakan untuk menelusuri kebudayaan pada masa kolonial terutama pada rumah tinggal yang mencerminkan jati diri pemiliknya.

Ragam Hias Arsitektur Bangunan Kolonial Belanda
Dalam penjelasan Antelas (1991:4) dikatakan bahwa, pengertian arsitektur secara umum adalah suatu penampilan bangunan pada ruang di atas tanah yang memiliki fungsi tertentu dan merupakan bentuk dari ekspresi dan aktifitas manusia. Arsitektur merupakan bangunan yang tediri dari bagian atas sebagai kepala, dinding sebagai pelindung (badan), dan pondasi dan lantai sebagai landasan (Antelas 1991:7). Ketiga bagian bangunan itu merupakan hirarki dari suatu bangunan dan sering pula disebut sebagai prinsip antrophomarphisasi. Prihatmaji (2006) menjelaskan, bangunan dapat dianalogikan dengan manusia, maka sebuah bangunan terdiri dari kaki, tubuh, dan kepala. Kaki bangunan adalah pondasi, tubuhnya ialah dinding, termasuk kolom, dan kepalanya merupakan atap (rangka dan penutup atap).
Keindahan karya seni arsitektur bisa diamati pada gaya rancang arsitektur yang meliputi gaya rancang tata ruang luar (eksterior) dan gaya rancang tata ruang dalam (interior). Menurut Marizar (1996:65), ”...ruang dalam dan ruang luar merupakan komponen totalitas dari ruang arsitektural. Elemen-elemen interior baik elemen pendukung atau elemen yang menjadi bagian dari struktur bangunan atau non struktur bangunan yaitu lantai, kolom, dinding dan bukaan, dan plafon atau langit-langit (Ching 1996:160-276).
Orang Belanda sangat menguasai dan mencintai karya-karya pertukangan hingga pada detail-detailnya. (Soekiman 2000). Awal abad ke-19 sampai dengan tahun 1920-an saat arsitektur kolonial berkembang di Indonesia, banyak pengaruh Eropa dan terjadi pencampuran bentuk Arsitektur Barat dan Timur atau tradisional termasuk terhadap penggunaan elemen bangunan dan detail ragam hiasnya pada seni bangunan (Handinoto 1996:165-177). Soekiman (2000) mengatakan, elemen-elemen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakter ragam hias muka bangunan antara lain penunjuk arah tiupan angin (windwijzer), kolom (pilar), gevel, geveltoppen, pagar serambi (stoep), tower, bovenlicht, serta hiasan puncak atap (nok acroterie) dan cerobong asap semu. Elemen-elemen bangunan berarsitektur vernakular Belanda yang banyak digunakan dalam arsitektur kolonial Hindia Belanda antara tahun 1900 sampai tahun 1920-an, antara lain penerapannya pada: 1. Macam-macam hiasan kemuncak dan atap rumah, di antaranya sebagai berikut: a. Penunjuk arah tiupan angin (windwijzer), penunjuk arah tiupan angin disebut juga windvaan. Penunjuk arah tiupan angin ini biasanya sesuai dengan pekerjaan atau lambang keluarga pemilik bangunan. Umumnya, windwijzer ini terbuat dari logam dengan warna merah menyala yang dapat terlihat dari kejauhan, seperti warna merah metalik atau keemasan; b. Hiasan puncak atap (nok acroteric) dan cerobong asap semu, nok acroteric adalah hiasan yang ada di ujung bubungan bangunan. Cerobong asap yang menjulang tinggi di Belanda diganti dengan cerobong asap semu yang berukuran lebih pendek dan diwujudkan dalam bentuk hiasan baru berukir ragam hias bunga; c. Hiasan kemuncak tampak depan (geveltoppen), topgevel atau hiasan pada gevel seringkali disebut mahkota (Soekiman 2000). Geveltoppen atau hiasan kemuncak tampak depan terlentak di puncak gevel. Ragam hias yang dipahatkan seringkali berupa huruf yang distilisasi sehingga menjadi motif ragam hias (runenschrift). Detail ragam hias bangunan kolonial yang membawa kebudayaan Eropa, awalnya mempunyai makna simbol tertentu. Biasanya motif ini digunakan sebagai lambang kemakmuran dan keselamatan. Berbentuk segitiga pada bagian depan rumah, dihias dengan papan kayu yang dipasang vertikal antara lain: - Lambang Manrune, mengandung arti simbolik kesuburan, seringkali diwujudkan dalam bentuk gambar huruf M dan gamabar bunga tulip atau leli; - Voorschot yang berkembang hingga abad ke-XIX biasanya berlambang Manrune yang berarti kesuburan, kecuali bentuk huruf M juga diwujudkan dalam gambaran bunga lily atau tulip; - Oelebord digambarkan sebagai dua angsa yang bertolak belakang yang bermakna pembawa sinar terang atau pemilik wilayah. Selain angsa, pada bangunan indis seringkali simbol angsa digantikan bentuk pohon kalpa; dan – Makelaar, yaitu papan kayu berukir yang ditempelkan secara vertikal dan diwujudkan berupa pohon palem atau orang dengan tangan menengadah. Pada bangunan indis banyak menggunakan hiasan makelaar yang sulit dilacak arti simboliknya; d. Gevel/gable, gable/gevel merupakan bentuk segitiga yang mengikuti bentuk atap (Soemalyo 2003). Menurut Harris (1996), gevel dapat diartikan sebagai bagian berbentuk segitiga yang terletak pada dinding samping, di bawah condongan atap. Pada rangkaian gevel dan atap juga sering ditemukan luivel atau teritisan berukir; e. Dormer, dormer merupakan semacam jendela atap yang menjadi komponen pencahayaan dan sirkulasi penghawaan; dan f. Tower, variasinya berupa bentuk bulat, segi empat ramping, dan ada pula yang dikombinasikan dengan gevel depan. Salah satu ciri bangunan masa kolonial adalah penggunaan flat roof, tower dan bentuk kubus (Tjahjono 1998); g. Tympanon (tadah angin), lambang dari masa prakristen yang diwujudkan dalam bentuk pohon hayat, kepala kuda, roda matahari. Lambang masa kristenan berupa bentuk salib dan hati, sedangkan Roma Katolik berupa miskelk dan hostle; 2. Hiasan pada tubuh bangunan, bagian bangunan seringkali juga diberi hiasan, contohnya: a. Hiasan pada lubang angin di atas pintu dan jendela (bovenlicht), contohnya kerawang. Hiasan lainnya berupa penggunaan teralis batangan besi pada bovenlicht atau bukaan pada pintu dan jendela; b. Kolom atau pilar bangunan. Kolom-kolom yang sering digunakan dalam bangunan kolonial adalah kolom bergaya doric, ionic, dan corinthian. Gaya doric digunakan untuk bangunan penguasa dan pemerintah yang menghendaki bentuk sederhana namun memiliki kesan kokoh, kuat, perkasa. Gaya ionic dan corinthian sering digunakan untuk menghias bangunan-bangunan megah milik penguasa jajahan atau pengusaha karena lebih indah dan memiliki banyak detail; dan c. Hiasan pada pintu dan jendela. Pengaruh Eropa dapat juga terlihat pada penggunaan motif art deco dalam ornamentasi jendela dan bukaan ventilasi (Tjahjono 1998). Tahun 1730-an, bangunan rumah mewah sepertiga bagian daun pintu dipahat dengan a’ jour relief yang indah. Lubang kunci atau engsel-engselnya juga diukir dengan sangat bagus, seperti pada rumah tinggal orang Arab (Soekiman 2000); dan 3. Hiasan pada bagian bawah bangunan umumnya hiasan pada kaki bangunan, hiasan pada lantai, pagar serambi (stoep) dan ballustrade: a. Stoep merupakan pagar serambi bangunan; dan b. Balustrade merupaka pagar yang membatasi balkon atau dek yang terdiri dari baluster vertikal. Baluster adalah satu unit kecil yang mendukung sebuah rangka pembatas yang biasanya terbuat dari beton maupun metal.

Daftar Pustaka
Amiuza, C. 2006. Tipologi Rumah Tinggal Administratur P.G. Kebon Agung di Kabupaten Malang. Jurnal RUAS. IV (1): 1-22
Antelas. 1991. Pengantar Arsitektur. Malang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Baidlowi, H & Daniyanto, E. 2003. Arsitektur Permukiman Surabaya. Surabaya: Karya Harapan.
Ching, D.K. 1996. Ilustrasi Desain Interior. Jakarta: Erlangga.
Deer Hoop, Van. 1949. Ragam-Ragam Perhiasan Indonesia. Batavia: Konklijk Genootsha Van Kunsten En Wetenshappen.
Handinoto & Soehargo. (1996). Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang. Yogyakarta: Penerbit ANDI dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Kristen Petra Surabaya.
Haris, C. 1975. Dictionary of Architecture and Building. New York: Mc Grow Hill
Kusmiati, A. 2004. Dimensi Estetika pada Karya Arsitektur & Desain. Jakarta: Djembatan.
Marizar. 1996. Interior dan Lingkungan Hidup serta Seni Dekorasi dan Interior Bangunan dalam Upaya Membangunan Citra Arsitektur, Desain Interior, dan Seni Rupa Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Sipahelelut, A. & Petrussumadi. 1991. Dasar-Dasar Desain. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Soekiman, D. 2000. Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakt Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII-Medio Abad XX). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Soepratno, B. A. 2000. Ornamen Ukir Kayu Tradisional. Jilid I. Cetakan ke V. Semarang: PT. Effhar Offset.
Sumalyo, Y. 2003. Arsitektur Klasik Eropa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Tjahjono, R. (1998). Studi Karakteristik Arsitektural Pada Hunian Masyarakat Berbahasa Madura di Malang Selatan (Studi Kasus: Desa Ganjaran, Gondanglegi). Laporan Penelitian. Tidak dipublikasikan. Malang: Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya.

Copyright © 2010 by Antariksa

No comments: