Translate

Friday, 18 July 2008

Pelestarian Bangunan Kuno-Bersejarah di Kota Malang

Antariksa

Pendahuluan

Pada waktu itu, asal mula sejarah terbentuknya kota di Indonesia banyak dipengaruhi oleh kepentingan pemerintah kolonial Belanda, dan kemudian, pemerintah kolonial membentuk pusat pemerintahan yang bercirikan ‘Indisch’. Dengan masuknya bangsa Belanda, maka struktur kota mengalami intervensi fisik antara lain berupa pemetaan kawasan kota dengan dasar politik segregasi etnik Eropa, Asia, dan pribumi, tempat masing-masing kawasan dikembangkan (Wiryomartono, 1995), dan pengelompokkan bangunan berdasarkan jenisnya (Handinoto & Soehargo, 1986).
Sejarah Kota Malang dimulai sejak jaman kerajaan Kanjuruhan dan Singosari, yaitu berkembang dari sebuah kerajaan yang berpusat di kawasan Dinoyo. Menurut van Schaik dalam Awal (2002:1), sebelum zaman VOC di antara gunung Kawi dan Semeru terdapat kerajaan-kerajaan Hindu, tanahnya sangat subur dengan banyak kali-kali dan ditikungan kali Brantas terdapat permukiman yang kemungkinan besar sekarang inti dari Kota Malang. Pada abad ke-19, Kota Lama Malang berbentuk seperti segi panjang, dengan batas kota menyusuri tebing kali Brantas di sebelah utara yang tidak begitu teratur, dan sejumlah struktur jalan yang saling menyilang dengan tegak lurus. Di wilayah yang dibatasi oleh pinggiran kota yang terjal, Malang mempunyai luas sekitar 100 Ha, sebuah wilayah yang cukup besar (Gill dalam Handinoto, 2004:21). Pada tahun 1824, Pemerintah Belanda menetapkan Karesidenan Malang. Bersamaan dengan itu, dibangun kantor-kantor pemerintah dan daerah, permukiman untuk pegawai-pegawai pemerintah di daerah alun-alun, Terminal Patimura, dan sekitarnya. Kemudian Herman Thomas Karsten meletakkan kaidah-kaidah berkenaan dengan pengembangan bangunan yang berciri tropis dan perencanaan kota yang berkesan santun terhadap budaya lokal, sama seperti Maclaine Pont yang memiliki perhatian besar terhadap penduduk pribumi dan kebudayaan setempat dengan kebudayaan Eropa (Sumalyo, 1993). Dengan adanya perkembangan dan kondisi alam serta udaranya yang nyaman, maka Kota Malang dikembangkan sebagai daerah peristirahatan bagi orang-orang Belanda dan kaum ningrat Jawa. Campur tangan pemerintah kolonial Belanda dalam hal penentu kebijakan perkembangan kota, terutama di Jawa mulai kelihatan sangat intensif, setelah selesainya perang Jawa (1824-1830). (Handinoto, 2004:20) Gagasan Karsten yang tertuang, antara lain mengikut sertakan elemen kota tradisional ke dalam pemikiran Eropa dengan bentuk tradisional sebagai latarnya. Perlu ditekankan, bahwa Karsten memang punya peran sangat dominant pada proses perkembangan kota di Indonesia setelah tahun 1915 (Bogaers dalam Handinoto, 2004:20).
Di beberapa kawasan Kota Malang masih banyak terdapat beberapa bangunan kuno-bersejarah yang memiliki nilai arsitektur dan sejarah, antara lain di kawasan yang menggunakan nama jalan gunung-gunung (Bergenbuurt), kawasan yang menggunakan nama jalan pahlawan-pahlawan (Orangebuurt), kawasan yang menggunakan nama jalan pulau-pulau (Eilandenbuurt), kawasan Splendid, kawasan alun-alun, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, pelestarian bangunan kuno-bersejarah di kawasan-kawasan yang terdapat di Kota Malang merupakan langkah yang sangat tepat untuk dilaksanakan. Pelestarian bangunan mempunyai tujuan untuk menyelamatkan kelestarian objek yang masih bertahan sampai saat ini. Di samping itu, pelestarian diharapkan juga dapat meningkatkan mutu lingkungan dan kawasan sekitar, yaitu meningkatkan taraf hidup masyarakat serta dapat menjadi wahana yang mendukung perkembangan pariwisata. Untuk mengantisipasi dengan semakin berkurangnya bangunan kuno-bersejarah baik bangunan rumah tinggal, kantor, toko, hotel, dan sebagainya di Kota Malang, maka perlu dilakukan segera pelestarian dan perlindungannya.


Perkembangan Tata Ruang Kota Malang

Dengan adanya perubahan bentuk kota yang cenderung memanjang ke arah utara, maka pihak Kotamadya (Gemeente) Malang antara tahun 1917 sampai 1929 menetapkan 8 buah rencana perluasan kota (Bouwplan).
Berdasar rencana Bouwplan I dengan luas 12.939 m², maka pembangunan kota pertama yang dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 1917, di arahkan untuk perumahan baru bagi golongan Orang Eropa Oranjebuurt (daerah Oranje). Daerah yang terletak antara Jl. Tjelaket dan Rampal dan berbatasan dengan rel kereta api yang akan memasuki Kota Malang. Di dalam perkembangannya beberapa bangunan rumah tinggal masih bertahan dalam bentuk dan fungsinya, namun sebagian sudah berubah fungsi maupun bentuk aslinya. Perubahan fungsi yang terjadi pada rumah tinggal, misalnya menjadi sekolah, hotel, perkantoran, dan lain sebagainya. Kondisi sekarang merupakan daerah permukiman yang padat penduduknya.

Bouwplan
II, dengan luas 15.547 m² rencana pengembangan wilayah Kota Malang tahap kedua ini ditetapkan pada tanggal 26 April 1920, namun baru terealisasikan pada tahun 1922. Daerah ini dinamakan Gouverneur-Generaalbuurt. Rencananya adalah lebih mengarah ke pusat pemerintahan yang baru di sekitar pusat JP. Coen Plein (alun-alun Bunder, sekarang alun-alun Tugu). Berupa lapangan terbuka yang mempunyai bentuk bulat di tengahnya dibuat kolam air mancur. Alun-alun Bunder bersifat memusat dan memiliki hierarkhi terhadap lingkungan sekitarnya. Alun-alun ini menjadi titik tekan terhadap proses-proses yang terbentuk dari penataan jalan dan massa bangunan. Poros barat-timur menghubungkan alun-alun Bunder dengan Stasiun, sedangkan poros utara-selatan menghubungkan Gemeente dengan alun-alun. Penataan massa bangunan terdiri dari dua pola, yaitu pola grid pada pusat (alun-alun) dan pola organik pada lingkungan sekitar (permukiman). (Hariyani et al., 2000:51) Semua nama jalan yang dengan langsung mencapai aksesnya ke alun-alun Bunder diberi nama yang menunjuk pada nama orang-orang Belanda seperti Julianalaan, Emmalaan, Willemslaan, Mauritslaan, Idembroeglaan, Sophialaan, van Heutszlaan, dan van Imhofflaan (Priyotomo, 2002:4). Di dalam perkembangannya, di tengahnya didirikan tugu yang di kelilingi kolam air mancur. Di sekitarnya terdapat Gedung Kotamadya Malang, Hotel Splendid Inn, Sekolah HBS/AMS (sekarang SMA Negeri 3 Malang), Hotel Tugu, rumah tinggal panglima militer (sekarang jadi Hotel Tugu), rumah gubernur (sekarang Kantor DPRD), dan lain sebagainya. Pada awalnya sebagai pusat pemerintahan dan sekolahan, namun di dalam perkembangan fungsinya bertambah dengan adanya fasilitas penginapan, seperti Hotel Tugu. Di samping itu, juga berubahnya fungsi rumah tinggal menjadi factory outlet, kantor dinas pemerintah Kota Malang, dan lain sebagainya.
Berdasarkan rapat dewan kota pada tanggal 26 Agustus 1919 dan 26 April 1920 memutuskan untuk membuat kompleks pemakaman untuk orang Eropa yang didasarkan pada perencanaan Bouwplan III, dengan luas 3.740 m², daerah yang dipilih adalah daerah Soekoen (Staadgemeente Malang 1914-1939 XLVI) yang terletak di sebelah tenggara Kota Malang. Hal itu dimungkinkan, karena daerah tersebut merupakan pintu masuk satu-satunya ke Kota Malang dari Blitar, dan terdapatnya pabrik gula ada di kawasan tersebut. Pada kondisi saat ini perkembangan permukiman penduduk sudah semakin pesat dan sangat padat.
Perluasan kota pada perencanaan Bouwplan IV dengan luas 41.401 m² terutama diperuntukkan untuk kelas menengah ke bawah, perluasan ini rencananya akan dilakukan antara sungai Brantas dan jalan ke Surabaya. Daerah ini direncanakan untuk perkampungan yang ditata secara rapi, sedangkan perluasan daerah pemakaman dilakukan di komplek pemakaman Samaan seluas 6.2045 Ha. Pemakaman itu sampai saat ini masih berfungsi sebagai area pemakaman umum di Kota Malang.
Pada rencana perluasan kota berdasar Bouwplan V, dengan luas 16.768 m², dimulai sekitar tahun 1924/1925, karena pada waktu itu penduduk di Kota Malang terutama bangsa Eropa meningkat pesat, sehingga perluasan tersebut diperuntukkan bagi bangsa Eropa. Kemudian yang menjadi terkenal dalam perluasan ini adalah pembangunan taman olah raga di sekitar Jl. Semeru yang sampai sekarang masih ada dan berfungsi sebagai sarana olah raga masyarakat Kota Malang. Daerah tersebut merupakan permukiman yang letak dan pola bangunannya masih bertahan sampai sekarang. Jalan utama pada perencanaan ini adalah Jl. Ijen yang membujur ke arah utara-selatan yang di tengahnya terdapat taman. Kawasan Ijen Boulevard masih bertahan sampai saat ini dengan potongan jalan yang khas, dan kiri-kanan dihiasi dengan pohon palem, hanya rumah tinggal yang terdapat di kawasan itu sudah banyak mengalami perubahan besar terutama dalam bentuknya.
Dalam perencanaan Bouwplan VI, dengan luas 220.900 m², perluasan kota merupakan pemekaran dari perencanaan sebelumnya yang tentu saja belum merata. Daerah perluasannya kemudian dikenal dengan daerah Eilandenbuurt (kawasan yang menggunakan nama jalan pulau-pulau). Sebagai titik pusat adalah kota lama, dan alun-alun berada pada posisi dekat Pecinan yang terletah di sebelah tenggara dan daerah Kajoetangan yang pada waktu itu menjadi daerah pertokoan orang Eropa, letaknya ada di sebelah barat daya. Dengan demikian perkembangannya yang terjadi saat ini menjadikan alun-alun sebagai tumpuan berkumpulnya masyarakat, karena di kelilingi pusat-pusat perdagangan.
Pada perkembangan berikutnya adalah Bouwplan VII, dengan luas 252.948 m², merupakan perkembangan permukiman yang berdasar pada rencana sebelumnya. Bouwplan VII, dimaksudkan sebagai lanjutan perluasan bagian barat kota setelah Bouwplan V. Selain daerah perumahan elit, dengan jenis Villa (dengan kaveling besar serta bentuk rumah tinggal yang luas dan ukuran yang besar pula). Perkembangan permukiman yang dahulu diperuntukkan bagi pendatang dalam hal ini orang Belanda masih bertahan sampai sekarang.
Pada bagian terakhir, adalah Bouwplan VIII, dengan luas 179.820 m², merupakan perkembangan dan penyediaan zoning untuk industri. Daerah industri ini direncanakan untuk ditempatkan di dekat emplasemen kereta api dan trem uap di selatan kota.
Khusus mengenai keberadaan bangunan kuno-bersejarah di Kota Malang, awalnya dibagi atas 4 zona. Hal ini dilihat dengan adanya pola cluster atau pengelompokan pada peta perencanaan Kolonial Belanda. Pada Zona I merupakan gabungan dari Bouwplan V dan Bouwplan VII, Zona II merupakan gabungan Bouwplan I dan Bouwplan II, Zona III merupakan gabungan Bouwplan III, Bouwplan VI dan Bouwplan VIII, dan Zona IV tetap merupakan Bouwplan IV. Pembagian zonanya meliputi: Zona I, disebut Bergenbuurt (kawasan yang menggunakan nama jalan gunung-gunung) meliputi perumahan tipe besar dan jenis Villa. Zona II, disebut Orangebuurt (kawasan yang menggunakan nama jalan pahlawan-pahlawan) untuk Perdagangan dan jasa dan pusat pemerintahan baru. Zona III, disebut Eilandenbuurt (kawasan yang menggunakan nama jalan pulau-pulau) untuk perumahan kelas menengah ke bawah dan daerah industri.


Perkembangan Kota dan Bangunan Kuno-Bersejarah
Perkembangan Kota Malang

Kota Malang sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1400-an (Kotapraja Malang 50 Tahun, 1964:12) sebagai pusat kerajaan. Peninggalan dari masa ini berupa reruntuhan benteng pertahanan di dataran antara Sungai Brantas dan Sungai Amprong yang sekarang dikenal dengan nama Kutobedah.
Periode baru muncul ketika bangsa asing (Belanda) mulai masuk Kota Malang. Belanda menguasai sejak 1767 dengan mendirikan benteng di daerah yang sekarang ditempati Rumah Sakit Syaiful Anwar di daerah Klojen Lor. Di dalam benteng tersebut didirikan permukiman awal Belanda. Kata “klojen” berasal dari kata “loji” yang berarti sebutan untuk rumah orang Belanda. Dari kata tersebut berkembang menjadi “ke-loji-an” dan akhirnya menjadi Klojen. Di daerah itu dahulu juga terdapat makam Belanda, tetapi kemudian dipindah ke daerah Sukun pada saat rencana pengembangan kota (bouwplan) tahap ketiga, sekitar tahun 1920.
Pada tahun 1821, Belanda memantapkan kedudukannya di Malang dan mulai meluaskan permukiman ke luar benteng. Di beberapa tempat didirikan bangunan militer untuk mengamankan daerah-daerah tersebut. Tiga tahun setelah Belanda mendirikan permukiman di luar benteng, tepatnya tahun 1824, Malang mempunyai seorang asisten residen yang dijabat oleh orang Belanda. Berdasarkan pada struktur tersebut, maka Malang merupakan kota kabupaten yang berada di bawah Karesidenan Pasuruan.
Pada tanggal 16 Mei 1878 dibuka jalur kereta api Surabaya-Malang dan Pasuruan (Faber dalam Handinoto & Soehargo, 1986:10). Pembukaan jalur ini menyebabkan perkembangan Kota Malang menjadi makin pesat, antara bagian selatan kota, yaitu Kotalama dihubungkan dengan jalur tram ke daerah utara, yaitu Blimbing. Pada tahun 1882 Belanda melakukan pembangunan perumahan di barat Brantas dan membuat alun-alun. Berdasarkan Ordonnantie van 25 Maret 1914 yang termuat dalam Staatsblad 297, Malang menjadi Gemeente pada tanggal 1 April 1914 (Staadgemeente Malang, 1939:6). Pembangunan Kota Malang sesudah ditunjuk sebagai Kotamadya (Gemeente) pada tahun 1914, lebih mengarah ke barat, karena perkembangan ke arah timur selain terhalang oleh adanya kuburan Cina (Kutobedah), juga karena adanya eksistensi komplek militer di daerah Rampal. Jadi jelas perencanaan Kota Malang sebagai kota Garnizun, yang selesai tahun 1882 berpengaruh sekali terhadap perkembangan Kota Malang di masa mendatang (Handinoto, 2004:22).
Perkembangan selanjutnya adalah adanya pembangunan daerah perumahan berdasarkan kelompok etnis (sekitar tahun 1914), yaitu sebgai berikut: Daerah permukiman Pribumi (kurang lebih 40.000 jiwa) di sebelah selatan alun-alun; Kebalen, Temanggungan, Talun, Klojen Lor, dan Jodipan. Daerah permukiman bangsa Eropa (kurang lebih 2.500 jiwa) di sebelah barat daya alun-alun; Kayutangan Oro-oro Dowo, Celaket, Klojen Lor, dan Rampal. Daerah permukiman Cina di sebelah timur alun-alun, dikenal sebagai derah “Pecinan”. (Handinoto & Soehargo, 1986:24-25)


Perkembangan arsitektur kota

Arsitektur Kota Malang pra kolonial banyak diperkirakan mempunyai pola-pola kota jawa kuno, seperti Singosari dan Dinoyo. Rekonstruksi arkeologis dari artefak-artefak tersebut belum terungkap secara pasti. Perkembangan arsitektur Kota Malang secara garis besar dapat dibagai menjadi tiga tahap perkembangan, yaitu pra kolonial, era kolonial, dan pasca kemerdekaan Indonesia. Setiap tahap tentunya mempunyai pola dan karakteristik tersendiri. Di dalam hubungan antara arsitektur dan pembangunan kota, Karsten dengan tegas mengatakan prinsipnya bahwa arsitektur haruslah mengikuti syarat-syarat pembangunan kota yang telah digariskan, meskipun sudah tentu ada pengaruh timbal-balik antara arsitektur dan perkembangan kota tersebut (Handinoto & Soehargo, 1986:141).
Pada era kolonial sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pertama, kawasan alun-alun, sebagai pusat kota yang terbentuk sebelum Malang berstatus Gemeente, dan kedua, kawasan yang terbentuk setelah abad ke-20, ketika Malang telah berstatus Gemeente. Dalam kurun waktu 20 tahun Malang merupakan laboratorium Arsitektur Modern yang dapat disetarakan dengan Bandung (Awal, 2002:2).
Bagian pertama mempunyai pola semi grid, dengan jalan dan gang yang terbentuk bersilangan hampir tegak-lurus satu dengan lainnya dan berpusat di alun-alun. Alun-alun merupakan ruang terbuka kota yang di kelilingi oleh massa-massa bangunan dengan corak, gaya dan fungsi yang beragam, bercitra sebagai kawasan pemerintahan dan public service. Alun-alun sebagai pusat kota yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pemerintahan, adalah simbol dari sistem pemerintahan lama, yang dipandang oleh sementara orang Belanda sebagai berbau Indisch (Milone dalam Handinoto, 1986:66). Di bagian utara dibangun kawasan perdagangan, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Pecinan”, dan pasar besar. Permukiman kota mengitari pada lapis kedua dan tiga di sisi barat dan utara.
Bentuk struktur pusat Kota Malang seperti sekarang ini direncanakan oleh Herman Thomas Karsten pada tahun 19333 dan kemudian direvisi pada tahun 1951. Revisi tersebut dilakukan sehubungan dengan dilakukannya perluasan daerah terbangun dan adanya perubahan beberapa fungsi ruang terbuka menjadi pusat-pusat kegiatan sosial. Konsep yang dicanangkan Karsten adalah “Garden City”. Sebuah konsep perancangan kota yang sangat ideal karya dari Ebenzer Howard pada tahun 1898 yang diminati oleh bangsa Eropa pada saat itu. Konsep “Kota Taman” tersebut dibawa oleh Karsten ke Indonesia dan digunakan sebagai konsepsi cikal bakal kota-kota Belanda di Indonesia (seperti, Bandung, Malang, dan Semarang).
Pembentukan pola ruang dan massa yang menarik pada bagian ini adalah upaya Karsten dalam menempatkan jalur jalan yang menghubungkan Kawasan Ijen (1914), Stadion Malang (1925), Jalan Kayutangan yang kemudian melewati jalur hijau Sungai Brantas, alun-alun Bunder dengan Balaikotanya (1922-1930), hingga sampai di Stasiun Kota Baru (1939).


Perkembangan arsitektur bangunan

Bentuk bangunan rumah tinggal para pejabat pemerintah Hindia Belanda yang memiliki ciri-ciri perpaduan antara bentuk bangunan Belanda dengan rumah tradisional oleh Berlage disebut dengan istilah Indo Europeesche Bouwkunst, van de Wall menyebutnya dengan istilah Indische Huizen, dan Parmono Atmadi menyebutnya Arsitektur Indis (Soekiman 2000:7). Sejarah seni rupa yang mengkhususkan perhatian pada perkembangan gaya bangunan dengan mendasarkan ciri-ciri khusus suatu kurun waktu menyebut gaya bangunan tersebut dengan istilah ”bergaya Indis” (Indische stijl). Penggunaan istilah ini haruslah dapat dikembalikan dalam hubungannya dengan lingkungan historis. (Soekiman, 2000:7) Sejak awal kehadiran orang Belanda, unsur-unsur budaya dan iklim alam sekeliling sudah mempengaruhi dalam membangun rumah tempat tinggal mereka di Jawa. Hal ini dipertegas oleh Sumalyo (1993:225) dalam arsitektur, unsur-unsur teknis adalah suatu hal yang tidak dapat diabaikan. Akan tetapi, keberhasilan tersebut juga merupakan hasil dari kepekaan para arsiteknya dalam penyesuaian terhadap lingkungan, iklim dan terutama budaya setempat. Rumah tinggal Belanda masa awal di Jawa mempunyai susunan tersendiri yang secara umum mirip dengan yang terdapat di negeri asalnya. Sementara itu rumah mewah (landhuizen) dan rumah tinggal di luar benteng itu dibangun dengan lingkungan alam Dunia Timur, yaitu Pulau Jawa. Adapun hasilnya adalah suatu bentuk campuran, yitu tipe rumah Belanda dengan rumah pribumi Jawa. Sebagai hasil berdirilah bangunan rumah-rumah gaya Indis dalam abad XVIII sampai dengan runtuhnya pemerintah Belanda di bawah pemerintah balatentara Jepang pada tahun 1942 (Soekiman, 2000:137).
Arsitektur kolonial adalah merupakan peninggalan budaya yang mempunyai ciri yang tidak terdapat di tempat lain, yaitu semua bangunan dan sarana kota yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda. Menurut Paraton et al., (1996:55) dalam penataan kota, Belanda menetapkan aturan yang disebut ”Desatuten Van 1642”. Kemudian Belanda membentuk suatu badan yang bernama ”Lokasi Ordonansi”, yang mengatur tata kota, jaringan-jaringan jalan, riol-riol kota, jembatan dan sebagainya. Pada tahun 1905 Belanda juga mengeluarkan peraturan bangunan lokal, sebagai tindak lanjut dari usaha Belanda untuk menata kota, dengan dibentuknya ”Lokal Raden Ordonansi” Pada tahun 1938 Belanda juga membentuk peraturan yang sekarang identik dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota, yang disebut ”Staat Vorming Ordonansi Staat Greten Java”, yang isinya membagi kota menjadi lima bagian wilayah (Paraton et al., 1996:56; Handinoto & Soehargo, 1996)
Tampilan bangunan di sebagian wilayah pusat kota yang dirancang oleh Karsten dengan mengetengahkan sebuah konsep bergaya Indo Eropa (Indo Europeeschhen Architectuur Stijl), sebagai contoh Gedung Balai Kota Malang yang dirancang sebagai pusat pemerintahan, dengan mengkombinasikan gaya Eropa klasik yang melanda saat itu (Art Deco) dengan perpaduan atap-atap tropis yang merupakan ciri khas prototype bangunan Indonesia. Arsitektur rumah tinggal diselesaikan dengan cukup mendetail, contoh-contoh Indisch-huis yang oleh Thomas Nix disebut sebagai prototype (Awal, 2002:2). Penerapan dengan konsisten prinsip simetris terhadap sumbu, dan bukaan fasade bangunan menggunakan konsep perulangan “Golden Section” menjadikan bangunan berkesan monumental. Bentuk atap dengan kemiringan yang senada menjadikan bangunan menjadi selaras dengan lingkungannya membuat irama tertentu, dengan memperhatikan sudut dan bahan atap. Perlu diketahui bahwa pada tahun 1920-an perkembangan arsitektur modern sangat bergema di Eropa, dan juga di Malang tidak luput dari kedatangan arsitek Belanda. Kalau tadinya hanya beberapa arsitek seperti Marius J. Hulswit dari NV. Architecten-ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers yang membuat Gereja Katholik di Kayutangan (Handinoto & Soehargo, 1996:155), kemudian gedung Societeit Concordia (Awal, 2002).
Arsitektur Kota Malang 1945-1970-an tidak menunjukkan perubahan yang berarti, karena struktur ruang kota telah terbentuk pada era sebelumnya.


Bangunan kuno-bersejarah di Kota Malang

Banyak yang menyebutkan bahwa awal kehancuran Kota Malang yang dirancang dan bibangun pemerintah (Gemeente), terjadi pada saat agresi ke dua sekitar tahun 1948. Kota yang tertata rapi dengan hiasan taman dan bunga akhirnya hancur setelah peperangan. Bahkan pada awal abad ke-20, Kota Malang sering disebut sebagai kota musim bunga bagi orang Eropa. (Handinoto, 2004:22) Di Kota Malang, bangunan-bangunan kuno-bersejarah yang masih ada dan belum mengalami banyak perubahan antara lain: Bundaran Air Mancur (Bundaran Tugu) [1905] dan SMA Tugu [1914]; Bangunan Kembar pada perempatan Raja Bally [1914]; Setasiun Kereta Api [1917]; Tugu Nasional bunderan Tugu [1950]; SD Santa Maria (Nutrale eur Lagare School) [1914]; SMP Santo Josep [1900-an]; Hotel Pelangi [1915]; Toko OEN [1914]; Klenteng Toa Pek Tong [1900-an]; Alun-alun Kota Malang [1800-an ditetapkan sebagai alun-alun 1914]; Gedung Bank Indonesia [1916]; Gedung SMU Tugu Malang (Lyceum HBS School) [1914]; Gedung Santa Maria [1900-an]; Masjid Jamik [1824]; Gedung Kantor Kas Negara (Besturskantoor met Laskas En Trouwzaal) [1882]; Rumah Sakit Sawahan (R.K Zienkenhuis) [1929]; Gereja R.K Kathedral di kawasan Ijen Boulevard [1900]; Kolam Renang (Gemeentelijk Zwembad Sportpark) [1934 selesai renovasi 1937]; Gedung SMP Kristen (Christ MULO School) [1900-an]; Maconnieke Loge (sebelum menjadi hotel sebagai RRI Malang) [1900-an]; Jembatan Brantas [1914]; Gedung Sekolah Cor Jesu (Zuster School) [1900-an]; Gereja Katholik Hati Kudus Yesus [1887]; Gedung Balaikota [1905]. Bangunan yang hilang atau dibongkar adalah Societit Concordia (tempat berdansa dan bermain sepatu roda) yang menjadi perbelanjaan Sarinah, serta Hotel M&M, dan apotik tertua yang sekarang menjadi Kantor BCA di Jalan Basuki Rahmat. Di samping itu, masih juga terdapat beberapa bangunan-bangunan rumah tinggal yang masih bertahan di kawasan yang menggunakan nama jalan gunung-gunung (Bergenbuurt) meliputi perumahan tipe besar dan jenis Villa, kawasan yang menggunakan nama jalan pahlawan-pahlawan (Orangebuurt), dan di kawasan yang menggunakan nama jalan pulau-pulau (Eilandenbuurt) untuk perumahan kelas menengah ke bawah.


Penentuan Makna Kultural bagi Bangunan Kuno-Bersejarah

Makna kultural bangunan kuno-bersejarah berdasar pada kepentingan pelestarian sejarah dengan penilaian-penilaian arsitektur pada bangunan tersebut. Hal ini dilakukan agar penetapan nilai bangunan didasarkan pada penggunaan dan pengembangan di masa mendatang. Kriteria penilaian yang dapat digunakan adalah fisik-visual (estetika, keluarbiasaan, citra kawasan, keaslian bentuk, dan keterawatan) dan non-fisik (peran sejarah, komersial, dan sosial-budaya). Berdasar kriteria tersebut dapat dilakukan penilaian makna kultural dengan perbandingan dan pertimbangan berdasar identifikasi dan pengamatan terhadap bangunan yang mempunyai nilai sejarah. Penilaian juga sangat tergantung pada kriteria estetika yang memperkuat citra kawasan dan adanya peran sejarah. Keberadaan bangunan kuno-bersejarah di Kota Malang memberikan keragaman baik bentuk maupun nilai arsitekturalnya, dengan corak langgam arsitektur kolonialnya. Beberapa bangunan bahkan mempunyai konvigurasi visual yang tinggi baik dari bentuk massanya maupun tata lingkungannya, dan sampai saat ini bangunan-bangunan tersebut masih bertahan. Di samping itu masih terdapat juga bangunan dengan nilai kultural sedang, baik dari sisi kualitas estetik maupun citra kawasannya.


Pendekatan Pelestarian Bangunan Kuno-Bersejarah

Pelestarian bangunan kuno-bersejarah dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan cara. Dalam hal ini, preservasi akan dianggap bukan sebagai bagian dari matra konservasi, atau sebaliknya. Kedua-duanya saling memayungi, tetapi mempunyai batasan perbedaan antara teori yang satu dengan yang lainnya. Meskipun sebaliknya, disebutkan bahwa preservasi sebagai payung dari semua kegiatan pelestarian, termasuk konservasi (Attoe dalam Catanese & Snyder,1992). Dari pandangan Pevner’s dalam Widayati (2004:43), mengklasifikasikan arsitektur bangunan bersejarah yang tidak akan terlepas dari fungsi, material dan style atau gaya. Hal ini diperkuat oleh pendapat Barry dalam Widayati (2004:43) yang menekankan pada empat komponen utama yang perlu analisis atau diteliti studi terhadap fasade bangunan, yaitu pattern, alligment, size dan shape dalam melakukan klasifikasi arsitektur bersejarah. Tindakan yang perlu dilakukan untuk pelestarian bangunan kuno-bersejarah harus didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu preservasi (upaya/tindakan pelestarian bangunan kuno-bersejarah yang tetap mendukung kondisi aslinya), konservasi (upaya/tindakan pelestarian bangunan kuno-bersejarah sedemikian rupa, sehingga makna [spirit] asli bangunan dan lingkungannya dapat dipertahankan), dan demolisi (upaya/tindakan penghancuran atau perombakan suatu bangunan kuno-bersejarah, karena dianggap membahayakan keselamatan pemakainya) yang sifatnya lebih mengarah ke kebijakan. Pada strategi yang lebih implementatif dapat dilakukan melalui (Catanese & Snyder dalam Pontoh, 1992:34-35; Sidharta & Budihardjo, 1989:11; Danisworo, 1988:3): rehabilitasi (upaya/tindakan untuk mengembalikan kondisi suatu bangunan kuno-bersejarah yang telah mengalami kerusakan, kemunduran, atau degradasi, kepada kondisi aslinya, sehingga dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya), renovasi (upaya/tindakan untuk merubah sebagian atau beberapa bagian dari suatu bangunan kuno-bersejarah, terutama bagian interiornya), rekonstruksi (upaya/tindakan untuk mengembalikan kondisi atau membangun kembali semua bentuk dan detail suatu bangunan kuno-bersejarah yang telah hancur, hilang, dan atau tinggal situsnya, secara tepat dan sedekat mungkin dengan wujud aslinya), adaptasi (upaya/tindakan untuk mengubah suatu bangunan kuno-bersejarah agar dapat digunakan untuk fungsi baru yang lebih sesuai, tanpa menuntut perubahan drastis), addisi (upaya/tindakan untuk menempatkan suatu bangunan baru pada bangunan kuno-bersejarah yang dilestarikan dan mengabstrasikan bentuk bangunan yang sudah ada dengan tujuan untuk menunjang karakter bangunan bersejarah tersebut), gentrifikasi (upaya/tindakan untuk meningkatkan vitalitas suatu lingkungan melalui pemanfaatan dan peningkatan kualtas dan kemampuan bangunan kuno-bersejarah beserta sarana dan prasarana lingkungannya), dan demolisi (upaya/tindakan penghancuran bangunan kuno-bersejarah, karena membahayakan keselamatan lingkungan sekitarnya).


Pengendalian Lingkungan dan Bangunan Kuno-Bersejarah

Di dalam pengendalian lingkungan dan bangunan perlu adanya klasifikasi design guidelines yang menyangkut persyaratan building coverage dan floor area ratio yang dikenakan pada kawasan-kawasan (prospective guidelines) (Shirvani, 1985) yang terdapat di Kota Malang. Kemudian menitikberatkan pada kriteria design dengan menerapkan pedoman/standar pada kawasan-kawasan tersebut tanpa menuntut kesamaan bentuk pelestariannya, sehingga lebih fleksibel, kreatif, dan inofatif (performance guidelines) (Shirvani, 1985). Untuk pengendalian design akan meliputi (Pontoh, 1992:39): -pengendalian ketinggian bangunan; -pengaturan pemunduran bangunan (setback), untuk menjaga jarak ruang antara bangunan lama dan baru; -pengaturan bahan bangunan baru agar selaras dengan bahan bangunan lama dan fasade bangunan; -proporsi, ketinggian, dan style/gaya bangunan; dan -pengaturan zoning di kawasan yang dipertimbangkan akan dikonservasi. Pihak Pemerintah Kota Malang harus menyediakan perangsang bagi berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan pelestarian (konservasi/preservasi), yaitu berupa: -bantuan langsung atau pemberian pinjaman berbunga ringan; -keringanan pajak, antara lain dengan pengaturan bebas pajak pendapatan terhadap dana yang digunakan untuk kegiatan pelestarian (konservasi/preservasi); -penurunan nilai bangunan dipercepat, sehingga nilai pajak bangunan yang akan dilestarikan (dikonservasi) pun menurun; dan –hak kompensasi pembangunan di kawasan/lokasi lain diberikan kepada pelaku konservasi dan preservasi.


Penutup
Tampilan bangunan bergaya Indo Eropa (Indo Europeeschhen Architectuur Stijl) yang dikombinasikan dengan gaya Eropa klasik (Art Deco) dipadukan dengan atap-atap tropis yang telah menjadi ciri khas prototype bangunan kuno-bersejarah di Kota Malang. Dengan penerapan prinsip simetris terhadap sumbu, dan bukaan fasade bangunan menjadikan bangunan berkesan monumental. Bentuk atap dengan kemiringan sudut dan bahan atap yang senada menjadikan bangunan menjadi selaras dengan lingkungannya. Oleh karena itu, melihat banyaknya bangunan kuno-bersejarah dengan ciri khas tertentu dan masih bertahan sampai saat ini, maka segera perlu mendapat perhatian untuk pelaksanaan perlindungan dan pelestariannya.
Dilihat dari kondisi bangunan di masing-masing kawasan perlu ada tiga pertimbangan yang harus dijadikan dasar dalam pekestarian bangunan kuno-bersejarah di Kota Malang, yaitu preservasi, konservasi, dan demolisi. Ketiga hal itu, juga harus memperhatikan hasil studi yang ada terhadap kawasan tersebut, dan peraturan pemerintah yang diberlakukan di kawasan itu, karena pada tahap berikutnya kebijakan yang telah dibuat akan sangat berpengaruh pada tahapan implementasi.
Pedoman standar pelestarian dan perlindungannya untuk setiap kawasan di Kota Malang perlu diberlakukan tidak sama. Klasifikisai bangunan kuno-bersejarah dan kriteria fisik-visualnya sangat tergantung pada penentuan makna kultural dari masing-masing bangunan yang dianggap mempunyai nilai sejarah tinggi.

Daftar Pustaka

Awal, H. (2002). Perkembangan Kota Malang 1914-1939 Laboratorium Kota Modern, Diskusi Panel Kota Malang 88 tahun kemudian, potensi dan prospek perkembangan Arsitektur (kota)nya di era OTODA, Universitas Merdeka malang, 30 April 2002. hlm. 1-5.

Bappeko-FTUB. (2003). Studi Penentuan Kriteria Bangunan untuk Perlindungan dan Pelestarian Bangunan Bersejarah di Kota Malang sebagai dasar Penerbitan perijinan, Laporan Akhir, tidak dipublikasikan, Malang: Bappeko-FTUB.

Danisworo, M. (1988). Arti Preservasi dalam Perencanaan Kota, Majalah Konstruksi, edisi Agustus-September.

Handinoto & Soehargo P.H. (1996). Perkembangan Kota dan arsitektur Kolonial Belanda di Malang, Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Handinoto. (2004). Kebijakan Politik dan Ekonomi Pemerintah Kolonial Belanda yang Berpengaruh pada Morpologi (Bentuk dan Struktur) Beberapa Kota Jawa, Jurnal DIMENSI Teknik Arsitektur, 32 (1). 19-27.

Hariyani, S., Mediana, C. & Kusdiwanggo, S. (2000). Studi Perbandingan Pola Struktur Pusat Pemerintahan Kota Kolonial Antara Kota-Kota Pesisir dan Pedalaman di Jawa Timur (Tinjauan Kota Surabaya dan Pasuruan dengan Kota Malang dan Blitar), tidak dipublikasikan, Malang: Universitas Brawijaya.

Nagawati, J. (2000). Kawasan Ijen, Malang, Jurnal TATANAN, 2 (3): 33-42.

Paraton, H., Sofyan, E.P., Eko, P., Suyanto, Eni A., Ary, B.M., Dian, R.D. & Salminawati, G. (1996). Inventarisasi dan Dokumentasi Arsitektur Kolonial di Malang. Kelompok Mahasiswa Peminat Arsitektur Tradisional dan Kolonial HMA UB. Malang: Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Pontoh, N.K. (1992). Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori Perancangan Kota, Jurnal PWK, IV (6):34-39.

Prijotomo, J. (2002). Blimbing-Glintoeng-Lowokwaroe-Tjelaket-Kajoetangan-Aloen-aloen Lupa dan Kenang di Tiga Era Modern Kota Malang, Diskusi Panel Kota Malang 88 tahun kemudian, potensi dan prospek perkembangan Arsitektur (kota)nya di era OTODA, Universitas Merdeka malang, 30 April 2002. hlm. 1-13.

Shirvani. H. (1985). The Urban Design Process, New York: Van Nostrand Reinhold Company.

Sidharta & Budihardjo, E. (1989). Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sumalyo, Y. (1997). Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Widayati, N. (2004). Telaah Arsitektur Berlanggam China di Jalan Pejagalan Raya Nomor 62 Jakarta Barat, Jurnal DIMENSI Teknik Arsitektur, 32 (2):42-56.

Wiryomartono, B.A.P. (1995). Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Copyright © 2008 by antariksa

1 comment:

Love Our OMEGA!! said...

selalu menarik tulisan bapak :)
terima kasih atas review2nya
saya tunggu tulisan lainnya pak