Translate

Friday, 11 April 2008

Pola Letak Bangunan dalam Vihara Zen Budhisme di Jepang

Antariksa

Penatan pola letak bangunan di dalam komplek vihara Zen Budhisme disusun dalam satu aksis tunggal menghadap ke arah selatan. Pola letak tersebut merupakan ciri khas yang diambil dari arsitektur komplek vihara yang terdapat di Cina. Pada periode dinasti T'ang (618-907), arsitektur dari vihara-vihara Budha di Cina telah berkembang di dalam penataan pola ruangnya. Kemudian dipergunakan sebagai dasar perancangan untuk lingkungan komplek vihara Zen pada periode dari dinasti Sung, terutama dalam komplek vihara Zen yang masuk ke dalam ranking “lima vihara besar”. Pola letak dari komplek vihara T’en-t’ung dan Pei di Cina mempunyai arti khusus dalam pengaruhnya, dan dapat diketemukan pada komplek vihara-vihara di Jepang (Dumoulin 1988b:223). Pada umumnya, yang sangat mengagumkan dari budaya Zen adalah terlihat jelas dalam letak pola ruang dan bentuk arsitektur dari vihara-vihara tersebut. Pola dasar dari komplek vihara Kencho-ji dan Tofuku-ji, adalah merupakan model yang mengagumkan dari struktur T’en-t’ung-shan di Cina (Dumoulin 1988b:224). (Gambar 1)
Gambar 1. Bentuk dasar denah dari komplek vihara Kencho-ji dan Tofuku-ji (Shimanoka 1960).

Sejak ciri-ciri utama dari Ch’an atau Zen kembali pada sebuah kehidupan yang keras di dalam komplek vihara, maka ruang-ruang pemujaan dirancang hanya untuk menampung tempat berkumpul para bhiku. Pola ruang dan letak bangunan tersebut dapat memeprtahankan tradisi arsitektur Cina dalam bentuk penataan yang simitri dan sederhana. Ruang besar telah digunakan tanpa banyak variasi untuk kedua aksis bangunan utama, sanmon (pintu gerbang), butsuden (ruang Budha), dan hatto (ruang Dharma). Pertama, adalah dari sanmon, sanmon di sini bukan berarti “tiga gerbang”, tetapi adalah untuk sangedatsumon “gerbang dari tiga kebebasan” (Vimokchas) yang mana salah satunya akan masuk ke nirvana. Sebagai pusat dari kegiatan ibadah adalah sebuah altar dengan patung Budha terdapat di dalam butsuden. Berikutnya sebuah altar tempat memberikan pelajaran yang dihubungkan dengan tangga serta tempat duduk untuk bhiku kepala terdapat di dalam hatto. Berdiri aksis pada bagian belakang dari mimbar dengan sebuah partisi di belakangnya (Paine & Soper 1955:241). Pola letak dari bangunan tersebut pada kenyataannya sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari di dalam komplek vihara. Menurut versi Cina, pola letak dari komplek vihara Zen baik peraturan maupun tata kehidupan vihara beserta arsitekturnya, telah dirancang oleh Pai-chang (720-814). Pai-chang, adalah yang pertama kali memformulasikan pola letak bangunan dan peraturan untuk para bhiku Zen, Dengan demikian menjamin kebebasan dari sekolah ataupun aliran Budhis lainnya. Sebelum Pai-chang, para bhiku Zen telah tinggal di bagian utama dalam komplek vihara dari sekolah Vinaya (Jpn. Risshu) dari Mahayana di Cina (Dumoulin 1988a:170).

Pada dasarnya letak denah dari komplek vihara telah ada sejak Confucianisme di Cina, dan dapat diketemukan pada setiap kota waktu itu. Kemungkinan bahwa pola letak denah dari vihara Zen yang terdapat di dalam komplek vihara Zen, adalah merupakan imitasi dari pola letak vihara Confucianisme. Perlu diketahui bahwa filosofi dan kepercayaan dari Zen Budhisme merupakan sinkritisasi percampuran antara Taoisme dan Confucianisme, demikian juga dalam menentukan letak denah dari komplek viharanya. Denah selalu sama, tiga bangunan berjajar ke arah selatan menghadap ke utara, kecuali pada kasus lain bangunan ke tiga terletak di sebelah timur dari bangunan kedua. Bangunan yang utama terletak di sebelah utara dari bangunan kedua (Wiliams 1988:84). Pada kasus yang terdapat di dalam denah letak dari “lima komplek vihara Zen” (gozan) yang terdapat di Kyoto, tidak semua dari komplek vihara Zen tersebut menggunakan pola letak bangunan dalam arah aksis utara-selatan. Sebagai contoh, komplek vihara Nanzen-ji dan Tenryu-ji, menggunakan pola letak bangunan dalam aksis timur-barat. Kedua komplek vihara tersebut memberikan pola letak yang khusus pada komplek vihara Zen, yang mana merupakan salah satu bentuk modifikasi letak baru berbeda dengan tata letak yang terdapat di Cina. Komplek vihara yang lainnya, seperti Kennin-ji, Tofuku-ji, Shokoku-ji serta dua komplek vihara yang tidak masuk ke dalam gozan, adalah Daitoku-ji dan Myoshin-ji mempunyai letak bangunan dengan arah aksis utara-selatan.

Pola letak dari komplek vihara Zen seperti yang dijelaskan di atas, adalah prototipe dari shichido garan (tujuh bangunan dalam komplek vihara). Dapat diketemukan dalam periode dinasti Sung, seperti komplek vihara Tendosan di Cina. (Gambar 2) Pola letak dari sichido garan yang terdapat di Cina, adalah lebih kompleks dibandingkan dengan komplek vihara Zen yang telah berkembang di Jepang. Bangunan pendukung yang mengelilingi bangunan utama merupakan tipikal bangunan pendukung terletak di dalam komplek vihara dan berkembang sejak periode Muromachi. Pada dasarnya, penataan denah bangunan secara langsung merupakan bagian dari upacara keagamaan tempat proses tersebut diikuti satu bangunan di belakang bangunan yang lain, dan dilakukan sepanjang arah aksis utara-selatan.
Gambar 2. Pola letak denah dan diagram dari komplek vihara Tendosan di Cina dalam periode dinasti Sung. (Hideya 1967)

Dikatakan pula di sini bahwa ide penataan denah di dalam vihara Zen, adalah merupakan turunan dari “one corner” style Bayen (Ma Yuan, 1175-1225) pelukis dari Cina, salah satu artis besar dalam dinasti Sung. Prinsip struktur seperti pintu gerbang , ruang Dharma, ruang Budha, diletakkan dalam satu garus lurus; tetapi struktur bangunan pendukung penting lainnya, adalah tidak ditata secara simitri sebagai bagian dari sayap bangunan sepanjang sisi garis utama (Suzuki 1988:36). Di sini “one corner” style berarti sebuah tradisi dari menahan kemungkinan paling sedikit jumlah garis atau goresan yang menuju untuk menggambarkan bentuk-bentuk, dan di dalam seni lukis Jepang dinamakan “goresan yang hemat”. Keduanya dengan spirit dari Zen. Hal tersebut dapat dilihat di dalam goresan dari lukisan Zen selalu berakhir dengan titik, dimaksudkan untuk memberikan ekspresi pada lukisan tersebut. Goresan dari garis-garis merupakan karakteristik yang diturunkan dari filosofi Zen mengenai kehampaan. Apa yang dapat dikatakan menjadi sebuah garis tak terbatas bergema dari sebuah benda yang berakhir pada beberapa titik. Di sini dapat dijelaskan pula tentang hubungan satu garis lurus dari susunan letak bangunan di dalam komplek vihara Zen dengan “one corner” style dari lukisan Ma Yuan. Ada satu garis yang diawali dari pintu gerbang (sanmon) masuk ke dalam ruang Budha (butsuden) dan memberikan titik akhir dari garis tersebut pada ruang Dharma (hatto). Hal ini merupakan ungkapan filosofi dari seni lukis Zen, yang berpengaruh ke dalam pola letak komplek vihara Zen. Seperti sebuah goresan garis yang diturunkan dari lukisan “one corner” style, masuk ke dalam pola letak dari komplek vihara Zen. (Gambar 3) Adalah sama bahwa Budha menggunakan kata-kata dan apa yang ia katakan telah dituliskan ke dalam sutra. Para bhiku di Cina maupun Jepang yang mengikuti ajarannya telah menggunakan seni lukis untuk berkomunikasi dengan massa pengikutnya. Di sini iluminasi dari seni lukis Zen telah memberikan ekspresi arti yang dalam dan juga memberikan pergerakan dirinya di antara massa, kehampaan dan ruang telah tergores dalam satu garis lurus pada pola letak komplek vihara Zen.
Gambar 3. Sebuah analisis mengenai goresan garis yang diturunkan dari lukisan "one corner style", masuk ke dalam pola letak dari vihara Zen.

Dalam letak denah dari komplek vihara Zen, bangunan utama selalu ditata sepanjang satu garis lurus ke dalam satu arah titik. Ini memberikan sebuah ekspresi adanya tingkatan fisik yang dalam bentuk filosofi dapat dilihat sebagai pergerakan dari sebuah ruang atau space. Hal ini juga merupakan mekanisme dari ruang yang bergerak dengan seluruh elemen fisik termasuk seluruh totalitas dari alam yang semuanya adalah satu. Dengan demikian, letak bangunan dari komplek vihara Zen mempunyai tingkatan yang sangat penting. Bangunan di dalam komplek vihara tersebut juga dapat diartikan sebagai rumah dan tubuh dari Budha. Bagian dari tubuh tersebut dibagi ke dalam tiga bagian adalah kepala (atama), badan (karada) dan kaki (ashi) yang berhubungan dengan letak bangunan di dalam komplek vihara Zen. (Gambar 4)
Gambar 4. Korelasi antara bagian tubuh dari Budha dengan bangunan utama pada komplek vihara Zen.

Pola letak bangunan tersebut juga berhubungan dengan tujuh bangunan dalam komplek vihara (sichido garan) tempat dikatakan bahwa letak bangunan dari komplek vihara Zen identik berhubungan dengan analogi pada tubuh manusia. (Gambar 5 dan Gambar 6)
Gambar 5. Tujuh bangunan pada analogi tubuh manusia. (Hideya 1967)
Gambar 6. Pola letak “tujuh bangunan” di dalam komplek vihara Zen yang berhubungan dengan tubuh manusia. adalah sebagai berikutKeterangan: 1. Pintu gerbang (sanmon); 2. Ruang Budha (butsuden); 3. Ruang Dgarma (hatto); 4. Kakus (tosu); Kamar mandi (yokushitsu); 6. Ruang untuk bhiku (sodo); 7. Dapur (kuri). (Dumoulin 1988b)

Pola letak di atas pada kenyataanya sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dalam komplek vihara Zen. Pertama pintu gerbang (sanmon), ruang Budha (butsuden), dan ruang Dharma (hatto). Penataan ketiga bangunan tersebut merupakan salah satu karakteristik dari satu pergerakan menuju ke dunia lain, dan dapat pula dikatakan bahwa mengunjungi vihara Zen seperti bertamasya ke dunia lain. Penting untuk diketahui bahwa ruang Budha merupakan satu objek yang mempunyai space di tanah dan terletak dalam satu garis lurus antara pintu gerbang dan ruang Dharma, sebagai tempat bagi jemaat sebelum masuk ke dalam ruang Dharma. Bahwa space di sini diperuntukkan bagi jemaat yang berada di dalam ruang Budha (butsuden), melalui sebuah arah garis imaginer sebagai bagian dari posesi ritual jemaat. (Gambar 7)
Gambar 7. Ini merupakan space untuk jemaat di dalam ruang Buddha (bustuden), dan arah di atas adalah merupakan posesi ritual dari jemaat.


Pustaka
Dumoulin, H. 1988a. Zen Buddhis: A History. India and China. Vol. 1. Translated by James W. Heisig and Paul Knitter. New York: Macmillan Publishing Company.
Dumoulin, H. 1988b. Zen Buddhis: A History. Japan. Vol. 2. Translated by James W. Heisig and Paul Knitter. New York: Macmillan Publishing Company.
Hideya, Y. 1967. Zen no Kenchiku. Tokyo: Shokokusha.
Paine. R.T & Soper, A. The Art and Architecture of Japan. London: Penguin Books Ltd.
Wiliams, C.A.S. Chinese Symbolism and Art Motifes. Tokyo: Charles E. Tuttle.
Shimanoka, K. 1960. Sekai Kenchiku Zenshu 2, Nihon II Chusei. Tokyo: Heibonsha.
Suzuki, D.T. 1988. Zen and Japanese Culture. Tokyo: Charles E. Tuttle.

Copyright © 2008 by Antariksa

3 comments:

Cheriatna said...

blog berkesan, teruslah menulis.
salam dari denah rumah

lifela said...

Antariksa Sensei,
saya banyak belajar dari tulisan sensei,doumo arigatou gozaimasu

lifela said...
This comment has been removed by the author.