Translate

Sunday, 26 August 2007

PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KOTA-KOTA PANTAI

Antariksa

SUDAH menjadi kenyataan bahwa pertumbuhan kota-kota pantai dan sungai pada saat ini lebih cenderung berkembang ke arah daratan dan kian meninggalkan “air” sebagai fungsi utamanya. Untuk itu IAI bekerja sama dengan Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro memprakarsai workshop ini, yang tentu saja dihadiri beberapa pakar arsitektur, di antaranya: Ir. Adhi Moersid IAI, Ir. Robi Sularto, Ir. Bondan Hermani Slamet MSc., dan Dipl. Ing. Suwondo Bismo Sutedjo.
Tujuan dari kegiatan tersebut di atas, adalah mencari kemungkinan untuk melakukan “pemugaran” bagian kota yang dapat mempertautkannya kembali dengan “air”, meningkatkan kembali kehidupan dan kegiatan transportasi air serta faktor pendorongnya. Meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan masyarakat nelayan sebagai sebagai penduduk asli kota tersebut, kemudian mencari model untuk melakukan studi yang sama pada kota-kota pantai dan kota-kota sungai lainnya di Indonesia.
Studi kota-kota pantai ini membahas kota-kota pelabuhan Jawa Tengah, yang pada masa silam banyak pengaruhnya dan sekaligus menjadi awal berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir utara Jawa. Oleh karena itu, kegiatan perdagangan antar pulau tetap menyandarkan pada pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa.
Bentuk dari kota-kota pantai dan wilayah huniannya yang terdapat di Indonesia juga memberikan corak tersendiri sebagai kota pelabuhan masa lalu, begitu pula adanya pengaruh dari luar terhadap bentuk-bentuk bangunannya, baik pengaruh Islam, Cina, Hindu dan Belanda. Hal semacam itu juga dialami oleh kota Jepara yang pada abad ke-16 menjadi pelabuhan terbesar di Jawa Tengah. Mempunyai banyak peninggalan di antaranya rumah kota (machiya) yang banyak dipengaruhi oleh arsitektur Cina, bangunan masjid yang minaretnya dipengaruhi oleh mercusuar jaman Belanda.
Dari peninggalan yang terdapat di kota-kota panti tersebut, sebenarnya dapat diupayakan pelestarian dan pengembangan bentuk serta tradisi kehidupan manusianya di dalam penataan fisik lingkungan nantinya.
Potensi budaya kota-kota pantai dan tradisi bahari masih dapat dilestarikan dalam bentuk penataan penataan kembali tata lingkungan, yang mencakup fungsi bangunan dan fifik bangunan sesuai dengan fungsi pada awalnya. Perencanaan dan pengembangan kota-kota pantai di Indonesia sebaiknya harus dilihat sejarah dan tradisi terjadinya kota pantai tersebut. Karena masing-masing kota-kota pantai tersebut mempunyai konsep kekhasan yang berbeda dengan kota pantai lainnya, demikian juga adanya pengaruh dari luar seperti, Cina, Arab. Hindu, Belanda, Portugis, dan sebagainya. Hal inilah yang justru akan memberikan warisan budaya dalam wujud fisik bangunan serta ragam-hias serta motif ukiran, yang terdapat pada peninggalan bangunannya. Dengan demikian, potensi masa lalu yang terdapat di kota-kota pantai perlu kita konservasi sebagai salah satu pengembangan perencanaan kota pantai di Indonesia.

Perubahan Warisan Budaya
Sejarah telah membuktikan bahwa pertumbuhan permukiman kota selalu dimulai dari pinggir air (pantai). Lingkungan fisik dan non fisik sangat memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusianya. Setiap aspek kehidupan selalu berkaitan dengan lingkungannya, sehingga telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari struktur masyarakat (Robert Jay, Javanese Villagers, Cambridge, Massachusetts, MIT Press, 1969). Pertumbuhan dan perkembangan budaya manusia pantai tidak akan bisa lepas dari hubungan atau pengaruh dari luar. Modernisasi dan urbanisasi merupakan dua faktor luar yang mempengaruhi secara langsung perubahan budaya manusia.
Sementara perubahan tersebut terjadi karena manusia senantiasa dihadapkan pada pilihan-pilihan yang timbul karena hubungan budaya tadi (Philip K. Bock, Modern Culture Antropology, New York; Alfred A. Knopf, 1974). Budaya dari lingkungan kota pantai yang terbentuk saat ini adalah merupakan proses akumulasi dari budaya dan lingkungan sebelumnya selama bertahun-tahun. Dengan adanya hubungan dan pengaruh dari luar ikut andil dalam membentuk keadaan sekarang ini.
Hubungan dan pengaruh luar yang membentuk budaya dan lingkungan kota-kota pantai di pesisir utara Jawa dapat dikelompokkan menjadi tiga kurun waktu, yaitu “masa Islam, jaman penjajahan, dan abad modern”, kemudian ketiganya berbaur dengan budaya dari lingkungan tradisional setempat (indegeneous culture). Terjadilah akulturasi budaya, sedangkan perubahan mata pencaharian ke bentuk yang lain akan memakan waktu cukup lama dan sangat perlahan (D. Levinson & Malone, Toward Explaining Human Culture, HRAF Press, 1980).
Pada perubahan lingkungan tradisionil terdapat dua macam bentuk, yauti pertama, lingkungan kehilangan elemen-elemen tradisionalnya tetapi juga masih tetap mempunyai elemen-elemen utamanya yang tertinggal. Elemen yang hilang, sifatnya sementara dan berubah secara cepat, disebut “peripheral elements” atau elemen pinggiran, sedangkan elemen yang masih tetap, sifatnya kebal dan berubah secara perlahan, disebut “core elements” atau elemen inti. Kedua, lingkungan mempunyai bentuk yang sama sekali baru, yangmerupakan sintesa (syncretism) dari dua elemen atau budaya (Amos Rapoport, Development, Culture Change and Supportive Design, Habitat Intl. Vol. 7 No. 5, 1983).

Pola Pendekatan Perancangan
Untuk merancang lingkungan tradisional kota-kota pantai di Indonesia sebaiknya perlu dibuat aturan perancangannya, yang tentu saja bisa diharapkan untuk dapat digunakan pada lingkungan tradisionial kota pantai lainnya. Dengan demikian, apa yang akan diterapkan ke dalam perencanaan maupun pelaksanaannya tidak mengalami hambatan yang besar. Di antaranya rumah tinggal (di adaptasi dari David Stea, 1980 dan Harry Miarsono, 1988) adalah meliputi:
a. material;
b. struktur bangunan;
c. bentuk rumah;
d. orientasi rumah;
e. lingkungan rumah; dan
f. utilitas.
Untuk pola lingkungan meliputi:
a. jarak bangunan;
b. tata letak bangunan; dan
c. tata guna tanah.
Untuk sosial ekonomi meliputi:
a. pola mata pencaharian; dan
b. upacara/ritual.
Sebaiknya hal-hal yang telah diungkapkan di atas segera dapat dilakukan bahkan diterapkan di kota-kota pantai lainnya, baik melalui penelitian maupun studi pendahuluan. Demikian pula untuk kota-kota pantai di pesisir utara Jawa Timur, yang mempunyai banyak peninggalan nilai sejarah seperti Gresik, Tuban dan lain sebagainya, segera dapat dilaksanakan pelestarian warisan budayanya. Agar kota beserta segala isinya dapat kembali seperti fungsinya semula dan tentu saja akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan tentunya.


Tulisan ini telah dimuat dalam harian Suara Indonesia Tanggal 6 Agustus 1988

No comments: